News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Selusin Pensil Sang Kolonel Belanda

Selusin Pensil Sang Kolonel Belanda

KALTIMTODAY – Cuaca di luar masih cukup dingin sebenarnya usai diguyur hujan sejak semalam hingga subuh tadi. Jarum jam di rumah mungil itu sudah menunjuk pukul 06.00. Meski telah cukup usang, penanda waktu itu tetap menjadi andalan.  

Waktu terus berputar. Heri segera bergegas menuju tempat kerjanya. Setelah kurang dari 15 menit berjalan cepat menyusuri jalan setapak yang berbukit dan berkelok, dengan sedikit nafas yang tersengal-sengal, seperti biasa, ia langsung menuju gudang. Mengambil sapu ijuk dan peralatan lainnya lalu membersihkan seluruh kantor majikannya. Seorang kolonel Belanda.

Remaja 15 tahun itu, tak kuasa menolak takdir. Ia hidup saat negeri ini dijajah Belanda. Bangsa Eropa yang sangat kejam dalam memeras dan merampok harta kekayaan negeri Zamrud Khatulistiwa. Negeri yang paling memerihkan dalam sejarah Indonesia yang teraniaya, nihil akan hati nurani.

Heri tulus mencari nafkah. Setiap pagi ia menyapu kantor seluas 10 kali 15 meter itu dengan penuh gairah. Dua puluh menit ia perlukan untuk menyapu dan merapikan ruang kantor majikan Belandanya itu. Masih ada sisa 25 menit lagi untuk jarum jam menunjuk jam 7 tepat. Bak seorang direktur utama, ia tak pernah kehabisan akal untuk melakukan hal yang perlu dilakukan. 

Oh, tapi hari-hari belakangan zaman ini lain. Heri-heri mengikis. Mental inisiatif dan mental berkarya kini tak lagi banyak dimiliki putra negeri. Seperti ayam kehilangan induk, remaja di zaman ini tak pernah mengerti apa yang harus dilakukan. Sekolah hanya seragam, belajar mereka pun tak sudi, apalagi sepenuh hati.

Sejauh dilihatnya ada yang kurang bersih, kurang rapi, ia langsung membersihkan dan merapikan apapun di sekitar kantor. Meskipun tugas utama sebagai Office Boy (OB) sudah ia sempurnakan. 

Profesinya sebagai OB tidak menjadikan Heri menjadi manusia bermental budak, yang selalu menunggu intruksi atasan, melihat besarnya angka gaji bulanan, seperti kawan-kawan lainnya selama ini. Ia bekerja dan melayani dengan sepenuh hati dengan cara terbaik.

Tidak mudah memiliki karakter unggul seperti Heri. Badannya saja yang OB, tapi akal dan hatinya seorang pemimpin sejati. Ia berkarakter, ia peduli, ia punya visi, dan ia sedang berlari mengejar mimpi. Sekalipun untuk itu, tak jarang ia harus merasakan sakitnya duri, pahitnya jamu, dan beratnya beban. Ia tetap bertahan dan berjuang.

Heri selalu mengambil inisiatif ketika ada hal yang kurang tepat. Biar tak pernah sekolah, nasehat kakeknya tak pernah ia lupakan. 

“Sebagai apapun, kamu harus menjadi manusia yang paling cepat bertindak, jangan banyak bicara. Ada gelas kotor, langsung dicuci, ada sapu tidak pada tempatnya langsung rapikan. Kalau dapat perintah satu, tapi kamu bisa kerjakan tujuh, lakukan semua tanpa pamrih,” begitu kakeknya pernah berpesan.

Heri memang memiliki seorang kakek yang punya integritas. Sekalipun kakeknya adalah orang kuat terkenal di kampungnya. Ia tak pernah bertindak semena-mena. Bahkan sang kakek itu tidak pernah segan turun ke parit bersama penduduk membersihkan aliran got.

Heri, satu-satunya cucu yang paling menonjol dari dua belas cucu lainnya. Pantas jika Heri memiliki keakraban yang lebih dengan sang kakek dibanding saudara kandung lainnya.

“Heri sini cu! Mau tidak kakek ajarin cara menjadi manusia hebat?,” sapa sang kakek suatu pagi saat Heri masih berumur tujuh tahun. 

“Heri suka nggak punya bapak yang setiap hari bawain jajan buat Heri?,” tanya kakek. “Suka kek, suka sekali,” jawab Heri antusias. “Heri suka nggak dikasih makan-makanan enak setiap hari,” lanjut sang kakek. “Suka kek, suka sekali”. 

“Tapi bagaimana kalau jajan yang dibawa bapak Heri itu hasil curian?,” tanya sang kakek memancing pikiran cucunya.

Wah tidak mau kek, masak iya bapak Heri bawa curian kek,” sambil tersenyum kepada sang kakek. Sang kakek pun menggelengkan kepalanya tiga kali. “Itu tidak mungkin cu,” tegasnya kepada Heri.

Nah itu cucuku, kamu tidak boleh melihat barangnya saja, meski bapakmu mendapatkannya dengan cara yang halal. Kamu harus mengerti bahwa bapakmu memberikan apa pun kepadamu itu karena kerja keras. Maka janganlah pernah meremehkan pemberian orangtua. Karena setiap pemberian itu adalah pengorbanan,” papar sang kakek, sembari memeluk dan mengusap-usap rambut cucunya.

Heri tidak pernah bisa melupakan sosok sang kakek yang banyak memberinya nasehat dan motivasi. Ketika menginjak remaja dan saat itu ia berprofesi sebagai OB, pesan sang kakek itulah yang membuatnya bertahan dan tetap percaya diri.

OB memang bukan pekerjaan yang terlalu membanggakan, tetapi menjadi OB itu halal. Sejauh pekerjaan kita halal, apapun komentar manusia, jangan pernah mengusik hatimu. Lagi-lagi, Heri teringat wajah sang kakek yang pernah menasehatinya. 

“Hidupmu tergantung dari makananmu. Kalau halal makananmu, selamatlah dunia akhiratmu, kalau haram, maka binasalah kamu dan seluruh anggota keluargamu. Sekalipun kamu tak pernah berhenti sembahyang sepanjang malam”.

*****

SATU hal yang tak pernah Heri lewatkan yaitu merapikan rautan pensil majikannya. Ada selusin pensil dalam sebuah toples kecil milik majikannya di atas meja kerjanya. Setiap hari sang majikan yang kolonel Belanda, menulis dengan pensil yang tersedia itu. Terkadang satu, terkadang sampai lima ia gunakan.

Di sore hari, pensil itu sudah tumpul dan tentu tak nyaman lagi digunakan untuk menulis. Heri bukan orang yang mendapat tugas untuk itu. Bahkan sepertinya tidak ada petugas khusus yang berkewajiban meruncingkan kembali pensil-pensil itu.

Herilah satu-satunya pekerja yang mengambil inisiatif itu. Setiap sore, sebelum meninggalkan kantor, ia selalu meruncingkan selusin pensil itu. Ia runcingkan dengan sangat hati-hati dan rapi. Ia tidak ingin runcingan pensilnya itu jelek dan mengecewakan.

Sang majikan tidak pernah tahu. Kesibukannya tak sampai mengingatkan pikirannya pada pensil yang selalu tersedia rapi dan baik untuk digunakan. Tetapi suatu ketika, Heri tidak masuk. Ia terserang demam lebih dari tiga hari. 

Saat itulah kolonel Belanda yang tak sama dengan karakter Belanda lainnya itu mulai sadar. Pensilnya tak nyaman digunakan. Tetapi ia tidak mau buru-buru memarahi bawahannya. Ia menahan diri. Menanti semua pekerjanya lengkap masuk kantor.

Hari Senin pun tiba, seperti perkiraannya, semua pekerja hadir dan lengkap. “Saya ingin bertanya, siapa di antara kalian yang selalu meruncingkan pensil saya?” Suara kolonel memecah keheningan pagi yang dingin itu.

Tak satu pun angkat tangan. Tetapi sang kolonel sudah melihat wajah Heri. “Heri, kamu ke depan. Coba runcingkan pensil ini,” pinta kolonel.

Heri maju dan ia mengeluarkan sebuah belati yang sangat tajam dari balik punggungnya. Sang kolonel terperangah. Heri pun mengambil lima pensil yang tumpul itu dan meruncingkannya satu persatu.

Kolonel hampir tidak percaya, cara Heri meruncingkan pensil sangat rapi dan indah. Bahkan ia mampu meruncingkan lima pensil kurang dari dua menit dengan hasil yang sama kualitasnya.

“Kamu anak yang baik Heri. Kamu punya kemampuan yang bagus. Mulai hari ini, dengarkan oleh kalian semua, Heri tidak lagi bekerja sebagai OB. Ia kuangkat menjadi asisten di kantor ini. Mulai besok Heri tidak masuk kerja, kecuali dia telah lulus dari sekolah,” ujar sang kolonel dengan penuh bangga terhadap Heri.

Heri pun sekolah dengan biaya dari kolonel Belanda itu. Luar biasa, Heri disekolahkan di tempat anak-anak Belanda dan anak-anak bangsawan pribumi belajar. 

Heri hampir tidak percaya. Kepercayaan belajar itu pun tak ia sia-siakan. Ia belajar sekuat tenaga, ia tajamkan karakter positifnya, dan ia tak pernah mau kalah dengan anak-anak Belanda atau pun bangsawan pribumi lainnya.

Demikianlah Heri, anak keenam dari dua belas bersaudara yang tak pernah menyerah untuk menjadi yang terbaik dengan membangun karakter baik. Sulitnya kehidupan ia lihat sebagai medan latihan, sarana menjawab tantangan.

Akhirnya ia menjadi asisten di kantor semula ia menjadi OB. Ia menikah dan dari 12 anak hasil pernikahannya dengan Sumiati, delapan orang menjadi insinyur, satu diantara delapan itu menjadi arsitek utama, tiga orang wiraswasta, dan satu orang yang tak lain anak bungsunya, menjadi seorang dokter. 



[Bangun Bumigiri, penulis yang besar di Tenggarong ini adalah seorang peminat bahasa dan sastra. Di sela-sela kesibukannya bekerja dan menulis, penyuka olahraga futsal ini kini sedang merintis usaha mandiri bersama sejumlah kolega]


Sumber foto ilustrasi: izismile.com

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.