News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Siapkah Hadapi Ledakan Gempa Literasi?

Siapkah Hadapi Ledakan Gempa Literasi?

Foto: Ilustrasi/iphoneart.com  
KALTIMTODAY -- SAYA jadi ingat tentang gempa literasi yang sudah banyak “mengguncang” di sebagian daerah. Rasanya, lembaga pendidikan lain perlu mengalaminya pula. 

Gempa maha dahsyat, gelegar, mengguncang keheningan dan rasa jatuh bangun?!. Bukan! Bukanlah ini yang saya maksud. Gempa maha dahsyat ini, tak mengguncang dan membuat retak tanah perantauan ini. 

Jelas sekali terbukti, gempa literasi sudah menjadi momok yang nyaman untuk menggerus pemikiran kolot, seperti yang banyak kita temui. 

Ada banyak kalangan orang, terutama anak muda dan orangtua, yang masih berpikiran jahil. Tradisi ini seharusnya sudah terhapuskan. Tetapi semakin zaman mengarah pada kemajuan, semakin pula zaman menjerumuskan. Pada akhirnya kita kembali pada era kegelapan. Seakan era adalah sebuah musiman, berlangsung seperti sebuah siklus, berlanjut dengan ketentuan waktu dan berubah pada batasan-batasan tertentu. 

Waktu memang sebuah pedang di tengah malpighi hidup ini. Banyak kita temukan kebiasaan hidup mencolok, tak wajar dan sembrono. Ini semua sudah merupakan bukti, waktu bisa kapan saja menjadi sesuatu yang membunuh. Waktu tidaklah bersalah, hanya manusia patut dipersalahkan. 

Manusia adalah konsumen paling pro-aktif di antara konsumen-konsumen lain. Sehingga banyak sekali phobia bermunculan, baik antar sesamanya maupun makhluk lain. Keadilan merupakan satu-satunya pemecahan dari situasi kemelut, persoalan realistis dengan perilaku ketidaknormalan dan ketidakseimbangannya. Kenyataannya memang dunia menyarankan untuk mendinamiskan diri. 

Akhirnya, menjadi suatu keharusan mengembalikan segalanya pada titah Kitab Suci. Tapi manusia malah menyalahgunakan pemikiran-pemikiran berkenaan dengan pusaka tersebut, sebagai referensi yang kenyataannya dan tak terbantahkan. Memanipulasi arti sebuah firman Tuhan dan perkataan Rasul-Nya, memalsukan ayat-ayatnya dan memelintir petuah rasul.

Semuanya jelas, saya menyebut ini semacam bentuk penghancuran dan pengikisan yang terintimidasi dari banyak paham gagal. Paham gagal adalah pemikiran yang mengambil segi teoritis dari kitab suci, namun merujuk pada sebuah kesalahan fatal yang berakibat buruk pada penanaman nilai-nilai kebenaran. Inilah kemudian ketakutan paling mematikan sepanjang sejarah.

Mentradisikan Literasi
Banyak paham gagal yang sedang kembang kempis beberapa tahun terakhir ini. Ada aliran ekonomi liberal, politik liberal, aliran seni dan budaya liberal, bahkan ada jaringan agama liberal. Gerakan liberalisasi tersebut kemudian menjadi pemicu mapannya penetrasi gerakan doktrin liberalisme absolut dan sekulerisme. Tapi tetap absurd. 

Adanya jaringan pengusung nilai kebebasan ini bukan lantas karena kedekatan (waktu) kita semua terhadap hari kiamat, seperti petuah Nabi, sehingga berdiam diri tanpa respon. Kita perlu berpikir bagaimana menggerus dan membuat “serangan balik” terhadap banyaknya bombardir yang dilancarkan. Ini ada kaitannya dengan latar belakang pemuda sebagai tonggak kebesaran suatu umat, terkhusus umat bangsa ini yang terus digempur pemikiran-pemikiran juhhal.

Gempa literasi bisa menjadi kunci jawabannya. Mentradisikan literasi kuncinya. Pikiran kolot, sok benar sendiri, merasa sisi lain adalah salah, semuanya harus kita hilangkan. Sebenarnya inilah titik awal kelemahan kita. Kita silau, karena terpaku pada keadaan internal. Diperparah dengan ke-masygul-an para mereka yang disebut umara’ dan ulama’ bi nafsihi (sibuk sendiri). Yah, tidak semuanya, mungkin hanya segelintir. 

Namun dampak apa yang terjadi seandainya pihak kecil ini menjadi ulat dan mengganggu kinerja lainnya sampai habis termakan omong kosongnya, akal-akalannya, penahbisan dirinya sebagai orang suci berpengaruh diantara lainnya. Akhirnya ia menjadi seorang pemimpin dalam kelompok dengan segala cara. Cara orang munafik. 

Hal separah ini, bukan saja kita temui di dalam kelompok organisasi. Masih ada antar kelompok organisasi. Tindak-tanduk kerusuhan terjadi di mana-mana. Sehingga kelompok organisasi justru saling tuding-menuding, salah menyalahkan, dan tentu saja merasa benar sendiri. 

Percayalah, ini semua sebuah konspirasi Barat terhadap kita sebagai umat kaffah dan bangsa yang heterogen seutuhnya. Anggaplah ini phobia, terutama setelah kebangkitan kembali, dan mereka biasa sebut masa renaisans atau reinkarnasi. 

Pemuda adalah harapan bangsa. Dengan adanya pemuda keutuhan suatu kelompok organisasi, organisasi gugus, organisasi cabang, organisasi daerah dan terakhir organisasi nasional sampai organisasi internasional, akan mumpuni. Regenerasi patut direalisasikan ke depan. 

Sebagian pemuda yang anjlok moralnya, sudah pasti maksud dinamisasi ini tidak akan dapat terrealisasikan. Oleh karenanya kita perlu membina dan merangkul generasi tersebut. Generasi ala pemuda, yang paham seluk-beluk agama dan bangsanya. 

Gempa literasi, seperti yang telah disampaikan berulang-ulang di atas, dapat menjadi wadah membina pemuda. Ini adalah versi keadilan, di mana pemuda menjadi pendalaman harapan bangsa dan negara. Dalam gempa literasi, pemuda tidak hanya diajak untuk membaca, menulis, dan terakhir berdiskusi. Mereka juga berkarya membangun tradisi intelektual. 

Terus Berkarya
Berkarya dapat menjadi wadah bagi kita untuk menuangkan segala isi kepala kita. Terkadang seseorang menemukan sesuatu justru pada saat kekacauan melanda. Entah melanda pikirannya, tempat tinggalnya, atau mengambil pelajaran dari orang lain. Dan, tidak hanya itu, ada banyak kegiatan pembinaan, penyuluhan, pendidikan, berupa manejemen, kemasyarakatan, tulis-menulis, pemberdayaan generasi cerdas bangsa, dan lain sebagainya. 

Semua itu adalah bagian dari pencarian ide dan gagasan. Kita coba bayangkan seandainya gempa literasi versi kebangkitan ini terealisasikan, maka akan lahir para pemikir-pemikir bangsa. Mereka semua menyampaikan isi hati serta gagasan-gagasan mereka tanpa rasa ragu, takut, dan tidak khawatir akan tertindas. 

Maka, anak muda tak perlu risau dengan banyaknya para pemikir, pengamat, dan ahli di bidang-bidang tertentu yang ada hari ini karena mengandalkan mereka saja belum cukup, apalagi untuk tingkat negeri berkembang seperti Indonesia ini. Jelas sangat kekurangan sekali. 

Tapi sebenarnya, para pemikir, pengamat, dan ahli sekarang ini, bukan tidak memikirkan yang terbaik untuk negeri ini. Hanya saja kita masih belum bisa bekerjasama. Pikiran kotor, tidak percaya, rasa kebencian mengakar jelas dalam otak kita. Ditambah permasalahan negara yang belum tuntas, masih menyicil, dan tersisa. 

Oleh karenanya, mari kita ramaikan negeri ini dengan semarak gempa literasi, gempa maha dahsyat yang menyulut semangat muda untuk menegakkan tradisi baca, menulis, dan berfikir. Kita akan kembalikan negeri kepada era “Indonesia sejak dulu kala selalu dipuja-puja bangsa lain”. 

Saya adalah pemuda dan saya berharap agar pemuda kita jangan dibiarkan bobrok. Jangan berpikir, politik akan memperkaya kita di masa yang akan datang. Maklum saya berkata seperti ini, karena sebagai pemuda, saya turut juga merasakan kengerian zaman ini. 

Tapi, pemerintah tampak benar-benar masygul, orangtua kita terlalu “memaksakan kehendak” sementara di sisi lain umumnya pemuda maunya bebas yang tak jelas arah tujuannya. Akhirnya nggak nyambung! Malah membuat arah berlawanan. 

Saya ulangi kembali, memang harus pemuda yang mulai menyadari keadaan ini. Karena sepak terjang berikutnya, pemuda yang akan mengambilnya. Bukan masalah percaya atau tidak percaya, silahkan pikir sendiri! Siapa yang akan meneruskan keberlangsungan kebaikan bangsa ini selain pemuda.   

Buat para pemuda, sadarlah segera! Mari kita memikirkan yang terbaik untuk negeri ini. Mari ikut serta bersama dalam gempa literasi, menggempakan kebaikan untuk bangsa lewat literasi, akal, pikiran jernih tanpa ada paksaan, yang didambakan setiap orang. 

Mari kita sambung kembali silahturahmi lewat gempa literasi. Yuk, kita berpikir maju buat negeri ini, mari kita banggakan orangtua kita, merubah mereka yang masih berpikiran kolot. Mari kita menanamkan nilai-nilai kejuangan lewat gempa literasi. Waallahu ‘alam.



[ABA IDRIS SHALATAN, penulis adalah blog writer di www.kaltimtoday.com desk sastra dan bahasa. Kini menjadi Mahasiswa IDIA Prenduan Sumenep Madura. Aktif di kajian ilmiah KOPI (Kajian Orang-orang Pinggiran)]                               

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.