Tak Hanya Soal Jembatan Tenggarong


KTC -- Kalau boleh kita memberi predikat, korupsi tampak sudah menjadi budaya yang mendarah daging di negeri tercinta kita ini. Telah mengakar dan meluas menjadi sebuah sindikat kriminal.

Sebagai bangsa yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan adat ketimuran, sangat miris bila mengetahui bahwa negara ini menempati posisi ke-2 sebagai negara terkorup di Asia pasifik, menurut survei dari The World Justice Project.

Sebelum kita mengetahui apa dampak korupsi, sebaiknya kita bahas dulu apa itu korupsi. Menurut database Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), korupsi berarti penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara untuk keuntungan pribadi atau orang lain. 

Sementara, dari arti kebahasaan, sebagaimana saya kutip dari Wikipedia, korupsi berasal dari bahasa latin yaitu corruptio. Asal dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, dan menyogok.

Lalu, bagaimana dampaknya? Jelas sangat nyata. Dari segi ekonomi sendiri, korupsi telah berdampak banyak terhadap laju pertumbuhan perekonomian negara kita. Terutama pembangunan dari sektor-sektor publik menjadi tersendat bahkan tak jarang jadi macet. 

Kalau pun proyeknya terlaksana, selalu saja menyisakan malapetaka dan tanda tanya besar. Ingat saja kasus sejumlah venue Sport Center Hambalang di Bogor dan fasilitas PON ke XVIII di Riau yang roboh, padahal belum dimanfaatkan. Atau yang terhangat di Kaltim, jembatan beton Kutai Kartanegara di Tenggarong ambruk di usianya yang terbilang masih sangat belia.   

Dana APBN maupun APBD dari pemerintah yang hampir semua dialokasikan untuk kepentingan rakyat seperti fasilitas-fasilitas publik hampir tidak terlihat realisasinya. Kalaupun ada, rasanya sangat tidak sebanding dengan biaya anggaran yang telah diterima oleh pihak-pihak terkait.

Okelah, walaupun dikatakan “belum banyak” buktinya, ini merupakan indikasi riil bahwa praktik korupsi itu berlangsung dan jelas membahayakan. Asal tahu saja, tidak jelasnya pembangunan fasilitas-fasilitas publik ini nantinya pasti akan memberi efek domino yang berdampak sistemik bagi publik. 

Contoh kecilnya saja, misalnya, jalan-jalan yang rusak dan tidak pernah mau diperbaiki akan mengakibatkan susahnya masyarakat dalam mobilitas mereka sehari-hari, termasuk juga dalam melakukan kegiatan ekonomi mereka. 

Jadi, akibat dari tindakan korupsi yang telah meluas ini tidak hanya akan mengganggu perekonomian dalam skala makro saja, tetapi pelan tapi pasti akan juga mengganggu keberlangsungan hidup negara secara mikro dengan terhambatnya sirkulasi suplay dan demand.

Di sisi lain, kita melihat, segala upaya yang dilakukan untuk pemberantasan korupsi di negeri ini selalu saja mendapat halangan. Selalu saja saja ada pihak merasa terganggu. Mereka terancam dengan keberadaan KPK yang memiliki kewenangan sebagai “predator” pembasmi koruptor. Sebut saja kasus Cicak vs Buaya yang sempat memanas. 

Tak berhenti disitu, sekarang yang menjadi headline di mainstream media yaitu kasus Novel Baswedan, seorang polisi, yang enggan mundur menjadi penyidik KPK meski Polri mendesaknya untuk mundur. Ia kemudian, nilai banyak pihak, coba dikriminalisasi oleh Polri dengan berbagai tuduhan yang menyudutkan dirinya. Tapi KPK tidak diam, Novel pun dibela.

Situasi tersebut, sebagaimana kita lihat, telah mengganggu proses penanganan banyak kasus di KPK. Padahal di waktu yang sama KPK punya tugas harus menyelidiki ratusan kasus korupsi. Tapi, bagaimana dapat fokus melakukan penyelidikan dalam rangka memberantas korupsi jika selalu saja ada pihak yang tidak senang dan menghalangi kinerja sang predator.

Kita pun ikut bersedih. Dan, mungkin juga kecewa. Bagaimana bangsa ini bisa maju jika semangat memberantas penghambat kemajuan saja dihalang-halangi oleh orang Indonesia itu sendiri. Ayo, kita dukung pemberantasan korupsi...!!!.



[Didit Aditya, penulis adalah blog writer www.kaltimtoday.com desk nasional, seorang newbie blogger juga social networker.  Saat ini ia adalah Koordinator Forum Pelajar Islam Menulis atau disingkat FORPIM]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel