Teror Kala Bendu Belum Usai …

 “MAYAT bayi!”
“Ada mayat bayi …!”

Suara teriakan Lek Jumari di subuh buta itu melengking menadirkan tidur lelap orang-orang. Seketika mereka tergeragap bangun dan keluar rumah dan mencari-cari muasal suara.

“Di mana?”
“Mayat bayi siapa?”

Lek Jumari tercekat. Dengan nafas ngos-ngosan, pencari kamboja itu menunjuk-nunjuk ke arah kuburan. Orang-orang lingat berlarian menujuinya.

Mereka terpana. Sesosok bayi mungil dengan darah kering menggores-gores tidur tenangnya beralaskan sobekan koran bekas. Tubuhnya membiru. Beberapa ekor lalat mesra menghinggapinya.

“Kala Bendu, pasti ini karena ulahnya.”

Orang-orang bergumam lirih mengiyakan. Jeri. Takut. Miris. Benci. Ruah dalam sewadah.


********

DULU, pedukuhan kecil itu begitu damai. Orang-orang pergi ke sawah di pagi hari berselarap dengan kicauan merdu burung kenari. Anak-anak mereka bersepeda dengan riang menuju sekolah masing-masing.

Saat sore menjelang, masjid-masjid  ramai dikerumuni sebagai tempat meluahkan keping-keping kerinduan pada Dzat Agung Raja Diraja, setelah seharian berpeluk dengan penat pekerjaan.

Tapi, tahun yang berganti seolah membawa petaka yang tak pasti. Pedukuhan semakin hari semakin lusuh dalam kecandan kelimut. Orang-orang berjalan dengan perasaan was-was mendera. Wajah-wajah ceria berganti dengan jerih tak terkira. Senyum dan tawa terulas karena terpaksa. Semu semata. Tak larat menyamarkan rona-rona kekhawatiran yang menyerangsang semakin dalam.

Bagaimana tidak, kehadiran Kala Bendu semakin terasa. Suara jejak kakinya pun telah terdengar oleh mereka. Makhluk tak berupa itu begitu mengerikan. Kabarnya, dia akan melumatlantakkan segala yang dilaluinya. Tanpa ampun, tanpa suara. Dia begitu lihai melesitkan syair pekasih dengan lagu-lagu yang mendayu dan melenakan hingga tanpa sadar orang-orang akan begitu mudah dirangkulnya dalam genggaman.

Dia jadikan mereka abdi setia dengan iming-iming keindahan maya berlaksa. Dan pada akhirnya, pelan-pelan dia gelingsirkan mereka satu persatu dalam jurang jelaga yang pegam dan berpelanggi bara merah. Dia meminta bayaran penderitaan dari kesenangan yang telah mereka sesap sebelumnya.

Penemuan bayi merah yang telah pasi itu adalah yang kedua kalinya selama tiga bulan terakhir. Bayi sebelumnya ditemukan di pinggiran jalan setapak yang menghubungkan pedukuhan dengan area pesawahan.

Saat itu Dulkamdi, seorang pencari rumput yang tidak sengaja menemukannya. Bayi malang itu berwarna kehitaman dan hampir membusuk. Orang-orang geger, gemas dengan pelaku yang begitu kejam.

“Manusia laknat! Siapa yang tega berbuat seperti ini?”
“Ayo, kita selidiki siapa yang telah melahirkan bayi ini. Ibu macam  apa dia?”
“Rupanya Kala Bendu telah memasuki pedukuhan kita. Bagaimana pun juga, bayi ini adalah bukti kehadirannya di sini.”

Seketika orang-orang blangkemen[1]. Diam. Nirsuara. Mendengar nama Kala Bendu saja bulu kuduk mereka merinding. Tapi mereka tak menolak pernyataan itu. Kengerian yang terjadi adalah memang pertanda Kala Bendu tengah mengarah pada pedukuhan mereka.

“Kita harus menemukan ibu bayi ini dan menyelamatkannya dari Kala Bendu.”
“Betul! Saya setuju!”
“Tidak! Saya tidak setuju! Ibu bayi itu harus diusir dari pedukuhan kita agar racun-racun Kala Bendu yang bersarang ditubuhnya tidak mengotori pedukuhan!”
“Jangan gegabah. Usul yang pertama lebih baik. Kita selamatkan wanita itu dari Kala Bendu agar dia tak semakin terjerumus.”
“Setuju …!”

Hari itu, para sesepuh pedukuhan mendatangi rumah-rumah penduduk yang memiliki anggota keluarga yang tengah hamil. Hingga akhirnya, mereka mendapati hujan tangis tengah melanda keluarga Pak Sumarni.

“Anak kami, Pak. Lihatlah anak kami ….”
Para sesepuh mendekati seorang gadis remaja yang tengah mengerang kesakitan di atas kasur di kamarnya.

“Kenapa dengan anakmu, Pak Sumarni?”
“Maafkan kami, Pak. Anak kami, Sunarsih, telah termakan hasutan Kala Bendu. Sungguh, selama sembilan bulan dia hamil, kami tak tahu, Pak ….”
“Jadi, anakmu yang telah membuang bayi di pinggir sawah?”
“Iya, Pak. Maafkan kami, maafkan anak saya. Jangan usir dia ….”
“Lalu kenapa panjenengan[2] tidak melarangnya, Pak?”
Ngapunten[3], Pak. Kami tidak tahu perihal anak kami yang melahirkan bayinya sendiri tadi malam di kamar mandi. Pun kami tak tahu jika dia lantas membuangnya karena takut kepada kami ….”

Semuanya terdiam. Hanya terdengar sedu sedan Sunarsih yang menyilukan. Siapa sangka gadis pendiam yang biasanya berangkat ke sekolah dengan seragam abu-abu putih itu menjadi korban Kala Bendu. Menurut kedua orang tuanya, mereka sebenarnya telah begitu kukuh menjaga putrinya. Tapi apa daya, tak setiap saat mereka dapat mengawal sang putri. Apalagi Sunarsih bersekolah di pedukuhan lain yang lebih besar dan maju pendidikannya.

Dan, dari sanalah Kala Bendu memanfaatkan kesempatan. Dia datang setiap saat kepada Sunarsih. Dia bentangkan layar tentang keindahan cinta yang belum masanya kepada gadis muda itu. Jadilah , Sunarsih jatuh cinta kepada teman sekelasnya.

Kala Bendu senang bukan kepalang. Setiap hari dia tuntun keduanya dalam anafora kelindan dua anak manusia yang berlikatan asmaraloka. Mereka terjebak. Larut dalam cedayam goda. Puncaknya, Kala Bendu berhasil meretaskan titah utamanya; menyatukan keduanya dalam persenyawaan tanpa upacara penisbatan. Sunarsih dan kekasihya luluh. Masai. Gugur dalam lumpur jelaga.

Tiga bulan berlena, Sunarsih tak lagi bersua dengan tamu bulanannya. Perasaannya berantakan. Gulana menyergapnya tanpa lukatan. Dia takut kedua orang tuanya akan mengamuk jika mereka tahu dirinya telah berbadan dua. Apalagi orang-orang pedukuhan. Dia takut mereka mengusirnya karena dia telah berakrab dengan Kala Bendu, Si Pembawa Malapetaka.

“Bagaimana sekarang, Pak? Saya manut akan diapakan putri saya ini. Tapi kalau bisa saya mohon, ampunilah dia sebab kini dia telah hancur masa depannya. Kala Bendu telah mengambilnya bersama kelahiran jabang bayinya semalam ….”

Sesepuh pedukuhan tampak berunding sebentar. Bagaiman pun juga, mereka harus menyelamatkan pedukuhan dari racun-racun Kala Bendu yang mungkin masih tertinggal dalam diri Sunarsih. Namun mengusir Sunarsih pergi, mereka khawatir Kala Bendu akan semakin dalam merangkulnya dan melesapnya dalam kegelapan.

“Baiklah, Pak Sumarni. Sebagai jalan terbaik untuk menyucikan putrimu kembali, kirimlah dia ke Pondok Panyucen. Di sana nanti Sunarsih akan disucikan dan diberi ilmu kekebalan agar tidak mudah terkena serangan Kala Bendu.”

Pak Sumarni manggut-manggut. Raur wajahnya sedikit berseri. Setidaknya, dia tidak akan kehilangan putrinya karena diusir.

“Iya, Pak. Akan saya kirim putri saya ke sana”

Tak mudah berada di Pondok Panyucen. Sunarsih akan ditempa dengan pengajaran yang berat dan melelahkan. Tapi jika dia berhasil, dia akan dapat mengalahkan Kala Bendu nantinya.

Sayangnya, Sunarsih memilih mengakhiri hidupnya daripada menanggung malu dan harus menjalani penyucian jiwa. Keesokan paginya, Pak Sumarni mendapati putrinya itu telah tenang di atas kasurnya dengan nadi berleleran darah segar.

Air mata menggelenang. Tapi nasi telah menjadi bubur. Satu anak manusia tumbang. Dan, dari kejauhan, Kala Bendu bersorak senang. Misinya, menang!


******


KINI, orang-orang kembali bingung. Mereka teringat dengan peristiwa tiga bulan yang lalu itu. Wajah Sunarsih terkenang-kenang kembali di setiap mata. Akankah peristiwa berulang lagi di pedukuhan mereka? Akankah Kala Bendu berhasil membawa satu masa depan seorang gadis lagi? Ah, Kala Bendu benar-benar biadab!

Malam itu, para sesepuh pedukuhan berkumpul di  rumah kepala sesepuh. Mereka berembug apa yang harus dilakukan selanjutnya. Tiba-tiba, Mak Darmi, tergopoh-gopoh datang menghadap.

“Pak, saya mendengar suara perselisihan hebat di rumah Pak Minto. Saya khawatir terjadi apa-apa dengan mereka”.

Para sesepuh saling berpandangan. Tanpa banyak ba-bi-bu, mereka beranjak mengikuti langkah Mak Darmi.

“Dasar anak tak tahu diri! Kurang apa orang tuamu ini, Nduk? Bisa-bisanya kamu buat malu keluarga? Berapa kali Bapak pesan agar kamu tak dekat-dekat dengan rayuan Kala Bendu, di mana kamu taruh telingamu?”
“Maafkan saya, Pak. Ampun … ampun ….”
“Tiap hari Bapak minta kamu pergi ngaji, Nduk. Tapi kamu enak-enakan menekuri layar handphone. Tahukah kamu? Dari sana jua berasal segala bujuk rayuan?! Tiap saat Bapak ingatkan kamu untuk sembahyang, selalu kamu jawab ‘Bentar lagi, Pak. Tanggung’. Dan sekarang, kamu tahu akibatnya? Kamu tak punya senjata apapun untuk melawan Kala Bendu!”

Berikutnya, terdengar suara berdebum-debum. Gagang sapu lidi berulang kali menghantam tubuh gadis 17 tahun itu. Hanya erang ampun dan kesakitan yang dia laraukan. Para sesepuh segera masuk ke dalam rumah.

“Hentikan! Anakmu bisa mati, Pak Minto!”
“Biar saja mati, Pak. Lebih baik tak punya anak sekalian!”

Silu hati kedua orang tua Putri, nama gadis belia itu. Betapa selama ini mereka menelekap anaknya dalam balutan kasih agar tak terbawa Kala Bendu. Setiap saat mereka ingatkan anaknya agar belajar ilmu samawi, satu-satunya senjata yang mampu membuat Kala Bendu lari terbirit-birit. Siang, malam, mereka tak jua bosan. Hingga liur menyalir, kantuk terantuk, lelah tak terasakan. Semua mereka lakukan agar Putri tak lebur dalam kilauan semu rayuan Kala Bendu.

Namun apa mau dikata, bagi sebagian manusia di luar sana, Kala Bendu bukanlah musuh bebuyutan. Sebaliknya, mereka terang-terangan berangkulan untuk bersama-sama menaklukkan dunia.

Mereka lupa, kelak Kala Bendu akan menagih upahnya dan menjadikan mereka nestapa selamanya. Kesenangan Kala Bendu mereka kibarkan seolah hal itu menjadi lazim dan biasa untuk dilakukan.

Kala Bendu lihai membisiki hari mereka dengan tameng apresiasi seni untuk segala yang full pressed body, dia hasut para pengikutnya dengan alasan cinta untuk persenyawaan raga tanpa isbat mulia, dan dia rayu setiap hati para remaja dengan kata manis “penyemangat belajar” untuk pacaran yang mengarah pada hubungan haram. Semakin pilulah hati kedua orang tua Putri.

Dan Putri, salah satu dari pembaca poster-poster itu. Tanpa tedeng aling-aling[4], dia baca setiap iklan menggiurkan dari Kala Bendu dan kroninya. Darah mudanya menggelegak. Rasa ingin mencoba memberontak. Kala Bendu menyambut. Dia ulurkan tangan untuk Putri dan menghantarnya pada gulali manis bertudung cinta yang begitu digemari para remaja. Memang, itulah senjata pamungkas Kala Bendu untuk merenggut masa depan korban-korbannya.

*******


SUARA sirine meraung-raung memasuki pelataran rumah Pak Minto. Sebuah mobil tahanan dengan lima orang laki-laki gagah berseragam coklat memasuki ruang tamu. Surat perintah penangkapan diserahkan. Sekejap kemudian, Putri diapit dua orang dari mereka memasuki mobil. Wajahnya sayu. Pasi bagai daun layu. Bapak dan ibunya sesenggukan melepasnya pergi.

Hari-hari dia jalani dalam kamar berjeruji besi. Pengap. Sebak. Gerah. Penyesalan menggantung di langit-langit hati. Terbayang di matanya yang kian sepi, teman-temannya yang lain tengah bersenda gurau di sekolah mereka. Menyongsong hari depan cerah berbunga-bunga.

Sedang dirinya?  Beratus hari menjalani karantina untuk membersihkan sisa racun Kala Bendu yang terlanjur dihisapnya.

Lagi-lagi, dari sarangnya yang hitam, Kala Bendu menyaksikan tangisan Putri dengan gelegak tawa kemenangan. Satu lagi masa depan berhasil dia telan. Puas meretas. Bertimpas-timpas!. [ktc]



[Nimas Kinanthi, penulis adalah blog writer www.kaltimtoday.com. Peminat bahasa dan sastra ini kini sedang proses menyelesaikan buku perdananya. Ia juga aktif di forum Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN)]






KETERANGAN:
[1] = bungkam
[2] = anda
[3] = maaf
[4] = tanpa penghalang

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel