News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Jangan Lupakan yang Satu Ini!

Jangan Lupakan yang Satu Ini!

KALTIMTODAY -- Pernahkah kita bertanya, atau mungkin punya jawaban, manusia seperti apa yang akan berhasil menjadi manusia sukses? Jika tidak, segera tanyakan atau segera temukan jawabannya.

Sudah jamak dipahami bahwa setiap orang pasti ingin sukses. Oleh karena itu, sekolah dari TK sampai perguruan tinggi selalu ramai pendaftar. Bahkan di antaranya harus rela membayar dengan biaya yang tidak kecil.

Tetapi, apakah semua manusia yang sekolah dan belajar itu semuanya sukses? Jawabannya tidak. Malah, dalam banyak diskusi, sekarang orang sering berujar, “Mengapa orang yang tidak sekolah bisa sukses, dan yang terpelajar malah jadi karyawan orang yang tidak sekolah”.

Di sebuah radio nasional di Jakarta misalnya, owner dari radio itu orang biasa, bukan sarjana apalagi doktor. Tetapi karyawannya, mulai dari direktor sampai manajer, rata-rata jebolan S2, lulusan dari dalam bahkan luar negeri.

Mengapa itu terjadi? Menarik sekali apa yang diungkapkan oleh Wilson Miher. Dia punya kalimat pendek untuk menjelaskan mengapa banyak orang yang belajar, tetapi tidak sukses.

Ia mengatakan, “Saya tahu, tidak terhitung orang yang belajar, namun mereka tak pernah berpikir”. Begitulah kata Miher. Simpel sekali, bukan?

Dalam konteks Indonesia, pernyataan Miher itu sangat relevan. Bagaimana tidak, hitung saja data lulusan perguran tinggi dalam negeri yang setiap tahunnya selalu menambah daftar pengangguran baru di tanah air.

Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Edy Suandi Hamid saat membuka "Job Fair Campus Hiring" di Kampus Terpadu UII, Yogyakarta, kemarin.

Edy menuturkan, berdasarkan data terakhir, jumlah pengangguran yang bergelar sarjana mencapai 7,8 persen dari total angkatan kerja. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan pengangguran secara nasional yaitu 6,8 persen, demikian ujarnya seperti dilansir oleh OkeZone.
 
Menurut data yang disajikan oleh BPS dalam situs resminya disebutkan bahwa jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2012 mencapai 120,4 juta orang, bertambah sekitar 3,0 juta orang dibanding angkatan kerja Agustus 2011 sebesar 117,4 juta orang atau bertambah sebesar 1,0 juta orang dibanding Februari 2011.

Apalagi, rata-rata mental sarjana tanah air, paling tinggi ingin menjadi PNS. Bahkan entah benar atau tidak, sebagian berpendapat bahwa lebih baik menjadi pegawai kantoran, dari pada pedagang sayur atau ikan.

Padahal, kalau mau jujur, boleh jadi pedagang sayur atau ikan yang sudah berpengalaman, akan mendapat keuntungan lebih besar dari pada gaji seorang pegawai.

Sama yang terjadi di tingkat pemerintahan. Indonesia ini sudah cukup kelewatan. Bagaimana tidak, semua komoditi yang Indonesia punya segalanya, masih harus impor dan lebih senang impor. Kedelai, daging sapi, hingga garam pun harus beli dari negeri orang.

Nah, ini semua adalah akibat tidak mau berpikir. Kalau berpikir saja sudah ogah, pasti tidak mau belajar, apalagi bekerja dan bertanggung jawab.

Makanya pelajar atau mahasiswa yang benar-benar berprestasi di kampusnya atau sekolahnya bisa dihitung jari. Karena, kebanyakan tidak mau berpikir, akibatnya sering telat, tidak tuntas tugas, dan terakhir, lebih suka bolos daripada belajar. Ujungnya, makin banyaklah manusia Indonesia tidak produktif karena tidak mau berpikir.

Maka, jangan sekali-kali tinggalkan kebiasaan penting ini setiap hari. Yuk, berpikir!!!


 
[Bangun Bumigiri, penulis adalah blog writer di www.kaltimtoday.com. Pria yang pernah lama karam di Kota Tenggarong ini, kini aktif bergelut di dunia kependidikan dan berwirausaha]

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.