Kisah Persahabatan Syahwah dan Mahabbah

KALTIMTODAY -- Dahulu kala, tersebutlah dua sahabat karib yang rukun dan damai bak dua saudara. Mereka adalah Mahabbah dan Syahwah. Mahabbah berwajah elok rupawan, bertubuh indah semampai, lembut, penyayang, dan penuh kasih sayang. 

Pakaian yang dikenakannya senantiasa berkilat merelang-relang. Wajahnya bersaput bedak sari bunga melati. Bibirnya merah merekah dari warna mirah alami. Jemarinya berhias baiduri pandan kehijauan penanda kesuburan. Sungguh menawan. 

Sedangkan Syahwah, berbadan tegap, berkulit hitam, kedua tangannya kekar, jika berbicara keras suaranya, dan sedikit temperamental. Dia tak suka berdandan. Pakaiannya compang-camping dan seringkali terkesan acak-acakan. 

Berulangkali Mahabbah memprotes cara tampil karibnya itu. Tapi percuma. Keduanya memang memiliki kepribadian yang berbeda. Meski demikian, keduanya klop saat bermuwajjahah, bahu-membahu mengantarkan manusia kepada srimanganti pernikahan sakinah mawaddah warahmah

Berawal dari Mahabbah yang bertugas menumbuhkan benih-benih cinta diantara ajnab dan ajnabiyah, lantas mengobarkan semangat keduanya untuk menghalalkan ikatan. Selebihnya, tugas Syahwah menghangatkan keduanya dengan menyalakan perapian asmaraloka hingga manusia beranak pinak memenuhi sebagian dunia.

Karena tugasnya yang mulia tersebut, Mahabbah pun dipuji di mana-mana. Dia selalu mendapatkan tempat yang layak dalam kehidupan. Namanya disebut-sebut saat seorang ibu mendekap erat buah hatinya, saat dua sahabat saling tolong satu dengan yang lain, saat si kaya memberi pada si miskin, bahkan saat seseorang memberi kebaikan meski hanya sebesar biji dzarrah

Kehadirannya begitu dinanti saat pertengkaran terjadi. Manusia mengatakan hanya dengan Mahabbah-lah segala perselisihan akan dapat didamaikan. Mereka tersesap dalam keelokan pesonanya. Mahabbah begitu tenar. Namanya melejit hingga tak ada satu celah pun di dunia yang tidak membincangkannya. 

Syahwah berduka karenanya. Entah mengapa, semakin hari dia semakin merasa tersisih. Manusia lebih mengenal Mahabbah sebab dia selalu hadir lebih dulu. Sedangkan dia? Seolah-olah hanya pelengkap saja yang tak  begitu besar maknanya. Tampangnya yang membuat jeri seringkali diabaikan. Dia hanya hadir di belakang punggung Mahabbah, tanpa berani menampakkan muka.

“Mahabbah, kenapa semua orang begitu menyukaimu?” tanyanya memelas.
“Syahwah, jangan sedih begitu. Bukankah kau pun berjasa besar pada manusia? Tanpamu, tak ada gelora, tak ada tekad, tak ada semangat, dan  ranjang-ranjang pengantin akan kesepian,” jawab Mahabbah.

“Tapi Bah, manusia takut jika aku hadir terlalu lama, bukan? Mereka menerimamu dengan aneka sajian di ruang tamu, sementara aku hanya termangu di teras dan menunggumu memanggilku. Hanya binatang-binatang yang menerimaku dengan hati lapang. Tiap hari aku bercengkerama dengan mereka yang bau dan tak pernah mandi. Aku berjalan di atas tumpukan kotoran yang menjijikkan, juga berada di antara darah-darah yang berlinangan. Aku lelah. Aku iri padamu…,” kata Syahwah Sedih. Dia menangis sesenggukan.

Syahwah nelangsa sebab hanya binatang-binatang saja yang begitu mencintainya. Binatang-binatang tak berakal itu setiap saat mengundangnya datang, tak peduli malam, tak peduli siang. Karena kehadiran Syahwah-lah mereka saling memangsa, saling mengalirkan darah, saling bunuh, dan saling bersenggama tanpa peduli siapa pasangannya. Bagi mereka, Syahwah ibarat dewa yang diagungkan keberadaannya. Dia dielu-elukan dan disembah-sembah.

Mahabbah merangkul karibnya dengan penuh kelembutan. “Tenanglah, sahabatku. Memang demikianlah takdir kita. Aku diciptakan untuk manusia, dan kamu untuk mereka. Begitulah yang kudengar dari percakapan langit kemarin malam.”

“What?! Tidak bisa begitu, Bah. Aku tidak terima!”. Syahwah mulai menunjukkan amarah. Asap mengepul dari kepalanya, hawa panas mengelimut seketika. Mahabbah tak mampu berbuat apa-apa. Mendekat saja dia tak berani, sebab Syahwah bisa membuatnya terbakar.

*****************

SEJAK hari itu, keduanya berseteru dalam perang dingin. Dengan liciknya, Syahwah mencuri pakaian Mahabbah, lalu mengenakannya. Dia poles wajah hitamnya dengan bedak tebal hingga tak nampak lagi rupa aslinya. Dia berjalan berlenggak-lenggok, lalu mendatangi manusia. 

Syahwah mengetuk pintu rumah mereka, bertamu, dan menghias dinding-dinding dengan lukisan tangannya. Dia diterima dengan senang hati sebab sang pemilik rumah mengira dialah Mahabbah. Berbagai suguhan pun dihidangkan sebab kedatangan Mahabbah adalah anugerah. Syahwah cekikian dalam hati. “Alangkah bodohnya manusia,” batinnya.

Mendapati hal demikian, Mahabbah tak rela. Dia tak tega menyaksikan manusia berlaku seperti binatang. Dia kejar langkah cepat Syahwah.

“Wah, kembalikan pakaianku!” kata Mahabbah.
“Enak saja!” jawabnya santai tanpa ekspresi.

“Itu bajuku! Kamu jangan kurang ajar ya! Lihatlah, manusia-manusia tertipu karena ulahmu!,” bentak Mahabbah yang sama sekali tak terlihat garang. Bagaiman pun juga, sifat kalemnya tetap mendominasi.

“Ciyus? Miapah?” jawab Syahwah. Tenang tanpa beban.
“Ternyata enak ya jadi ente, Bah. Dimana-mana dipuja-puja, hadirmu di tunggu-tunggu, disanjung-sanjung. Mereka berdandan dan wangi saat menyambutmu. Berbeda ane. Melirik saja manusia ogah-ogahan, ” sambungnya.

“Dan mulai sekarang, ane yang akan menggantikan tugas ente,” kata Syahwah lagi.
“Nggak bisa, Wah! Fitrah kita berbeda. Tugas muliamu untuk binatang, bukan manusia. Mereka tak akan sanggup menerima kekuatanm,” Mahabbah tetap bertahan.
“Halah … apa peduli ane?,” hardik Syahwah dengan tetap mempertahankan pakaian Mahabbah yang melekatinya.

Keduanya berkelahi. Mati-matian Mahabbah berjuang. Tapi apa daya? Tenaga Syahwah yang lebih kuat membuatnya tak berkutik. Dia berhasil ditelanjangi sahabatnya itu hingga ludeslah semua yang menempel di tubuhnya. Dalam sekejap. Syahwah merupakan penyempurnaan dirinya dalam balutan busana Mahabbah. 

Syahwah semakin melenggang. Busana Mahabbah membuatnya terlihat jelita. Banyak mata terpedaya karenanya. Di mana pun Mahabbah pernah singgah, disanalah Syahwah berupaya mendepak jejaknya. Dengan kukunya yang tajam, dia cungkil-cungkil jejak itu hingga perlahan lindap terkikis. Tak ada yang sadar dia adalah Syahwah, bukannya Mahabbah. 

Dia hadir diantara pejabat dan pekerjaannya, lalu mengusir jejak Mahabbah yang tertinggal di sana. Dia semaikan tekad besar untuk mengenyangkan perut seperti yang dia lakukan pada seekor macan hingga dia terus berburu dan memangsa tiada henti. Yang lemah, akan ditelannya. Pasti. 

Dia juga datang pada dua orang sahabat dan lagi-lagi menendang jejak Mahabbah yang pernah singgah di sana. Dia hasut keduanya agar saling iri seperti yang dilakukannya pada dua ekor singa agar berebut seekor betina. Perselisihan pun tak terelakkan. 

Sahabat dan sahabat saling tindas, saling bunuh, dan saling meniadakan demi kepuasan kebendaan yang dimiliki. Perseteruan terjadi di mana-mana. Darah mengalir menggelimang karena masing-masing saling mengalahkan dengan menebas-nebas. 

Dia datang di antara ibu dan bayi yang lahir atas campur tangannya hingga bayi-bayi malang dan terbuang bertebar di setiap penjuru kota. Dia hadir diantara pedagang dan keuntungan hingga timbangan pun tak jeri lagi dikurangi. Dan yang parah, dia datang diantara hati dan iman. Syahwah perlahan tapi pasti memeloroti rasa malu yang tergantung di dinding-dinding hati hingga manusia bebas melakukan apa saja tanpa takut dosa. 

Dia mendatangi laki-laki dan wanita yang duduk berdua dan mengaku bahwa dirinyalah Mahabbah. Dia disambut dengan tangan terbuka. Mereka menurut saat Mahabbah gadungan menghembuskan aji asmaragama seperti yang biasa dilakukannya pada binatang-binatang. Akibatnya, nafas-nafas desah dan erangan terdengar di mana-mana. Hampir seluruh kota menjadi ranjang pengantin laiknya hutan belantara. Syahwah girang bukan kepalang.  

“Syahwah, jangan usir aku! Ingatlah, kita sahabat, bukan?”
“Sahabat? Apa peduli ane? Ane bahagia sekarang. Aku dipuja. Ane disembah-sembah. Dan ente tahu? Ane tak akan melepasnya lagi!”

“Kamu jahat, Syahwah! Kenapa kau samakan manusia dengan binatang?”
“Salah sendiri mereka mau. Mereka enjoy kok, kenapa ente yang pusing? Tuh lihat saja betapa asyiknya mereka menjadi macan yang saling makan, menjadi beruang yang saling tikam, menjadi ular yang membelit dan mematikan, bahkan ada yang menjadi ayam yang tubruk sana tubruk sini. Dunia semakin ramai, bukan?”

Syahwah tertawa lebar. Mahabbah semakin nelangsa. Dengan sisa tenaganya dia berupaya merebut kembali busananya yang melekat di badan Syahwah. Nahas, Syahwah lebih tangkas. Di raihnya tubuh Mahabbah, ditendang, ditampar, dijambak, dan dipukul habis-habisan. Mahabbah lunglai tanpa daya. 

Tanpa belas kasihan pula, Syahwah menjadikan Mahabbah sebagai kuda tunggangan. Ke mana dia pergi, diperintahnya Mahabbah mengantarnya sampai ke tujuan. Syahwah pun kian mengancam.



[Nimas Kinanthi, penulis adalah blog writer www.kaltimtoday.com. Peminat bahasa dan sastra ini kini sedang proses menyelesaikan buku perdananya. Ia juga aktif di forum Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN). Sumber ilustrasi gambar: TheTrueKnowledge]


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel