News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Kisruh Bethara Kala Berdasi di Astinapura

Kisruh Bethara Kala Berdasi di Astinapura


KALTIMTODAY -- Galau. Hanya satu kata itu yang tepat untuk menggambarkan keadaan negeri Astinapura saat ini. 

Negeri yang berjuluk Zamrud Khatulistiwa saking ijo royo-royonya[1] hamparan puspawananya itu tengah dilanda galau level akut, carut-marut penaka kelapa parut. Penyebabnya, tak lain dan tak bukan adalah penyakit yang menjangkiti para pamong praja.

Prabu Duryudana jelas resah. Sebagai raja yang selalu menjaga citranya agar senantiasa terlihat memesona, sekuat tenaga dia berusaha menyembunyikan penyakit yang sedang menimpa anak buahnya. Tapi apa lacur? Bau busuk khas parfum Bethara Kala yang meruap dari balik kemeja putih dan jas hitam kimpleng[2] mereka tak urung menebar terbawa angin yang berhela. Rakyat menjadi tahu keadaan yang sebenarnya.

Semakin hari, penyakit itu makin ganas menyerang. Jika sebelumnya hanya satu dua orang, dengan cepat virus itu menular. Maklum, penyakit itu datang tak berasa. Awalnya, para pamong praja hanya mengalami slenco[3] alias salah bicara. 

Saat mereka  tengah berkampanye agar rakyat memilih dirinya, berlaksa kata manis keluar dari mulut mereka hingga berbusa-busa. Janji-janji untuk membuat rakyat lebih makmur, aman dan sentosa mengalir penaka halau mentua. Rakyat pun bersorak gembira. Mereka percaya jagoan yang mereka elu-elukan akan benar-benar membawa negeri Astinapura kembali pada masa gemah ripah loh djinawi seperti zaman dahulu kala.

Penyakit mereka makin parah ketika mereka telah benar-benar  duduk di kursi kehormatan. Mata mereka mendadak keseleo. Mata belok yang sebelumnya berapi-api dan berkilat-kilat penuh semangat saat berorasi kampanye diri itu perlahan-lahan meredup. Kursi empuk dengan babut[4] nomor wahid yang mereka duduki membuat mereka teklak-tekluk[5] terkantuk-kantuk  saat sidang untuk rakyat tengah berlangsung. 

Ditambah lagi, sandaran kursi yang tinggi menjulang hingga tak terlihat dimana ujungnya klop membuat mata mereka tertutup sempurna. Puncaknya, gejala itu akan diakhiri dengan satu kata, ngorok!

Penyakit akan berlanjut dengan otak mereka yang menjadi slendro[6]. Pikiran para pamong praja yang dulunya waras-wiris[7], berubah drastis hingga tak sanggup memerintah tangan dan kaki sebagaimana mestinya. Dengan sendirinya, tangan-tangan mereka bergerak cepat mengutil upeti rakyat yang bertumpuk di sudut gedung istana. 

Semula sedikit, lama-lama menjadi bukit. Dengan duit itu mereka dapat dengan mudah berpelesir ke negara-negara tetangga seperti Amarta, Awangga, Mandura, Dwarawati, dan sebagainya. Efek sampingnya, kecanduan melanda. Sekali ngutil, tetaplah ngutil. Lagi, lagi, dan lagi! Lha wong memang enak!

Dalam stadium lanjut, mereka tak sadarkan diri. Semaput[8]. Ruh mereka beralih rupa. Bethara Kala telah berhasil sepenuhnya merupakan diri pada jasad mereka. Hati para pamong praja disantapnya hingga tak bersisa. 

Akibatnya, tak segan-segan lagi pamong praja yang sebenarnya adalah perwujudan butha[9] itu menyantap daging rakyat dengan lahap. Dia menyesap setiap tetes keringat rakyat dengan jilatan-jilatan nikmat. Tawa mencetar membahana saat bulur mereka terusaikan. Tak peduli mayat-mayat bergelimpangan. Tak peduli teriakan-teriakan rakyat yang minta perampunan.

Rakyat yang menyaksikan adegan demi adegan itu dari layar kaca sontak melayangkan protes kepada Prabu Duryudana. Mereka tidak terima.

“Kanjeng Prabu, kados punika punika?[10]”

“Tenang, rakyatku tercinta. Aku berjanji akan memenggal siapa pun dari pamong prajaku yang terkena bala Bethara Kala,” jawab Prabu Duryudana. Seperti biasanya, dengan air muka  berwibawa.

Rakyat pun tenang dengan pengayom-ayom dari Sang Prabu. Bagaimana pun juga, seorang raja adalah titisan dewa yang wajib dipercaya dan dilaksanakan titahnya. Tapi, kejadian besar sungguh membuat rakyat teramat kecewa. Prabu Duryudana tidak cukup perkasa untuk menunaikan janji mulianya.

Terbukti, saat  Dursasana, adik dari Prabu Duryudana, dituding mengutil upeti rakyat dalam jumlah milyaran rupiah. Uang yang dianggarkan untuk pembangunan pondok ksatria di sebelah tenggara istana ditilepnya sebagian. 

Rakyat marah besar sebab para kstaria yang hendak mengadakan latihan akhirnya keleleran dalam pondok reyot seadanya. Mereka menuntut prabu Duryudana untuk mengobati adiknya itu sesuai dengan janji yang diucapkannya.

Rupanya, bukan hanya menimpa para pria, penyakit pamong praja juga menyerang kaum wanita. Dalam perkembangan berikutnya, nama Dewi Dresnala ikut pula disebut-sebut melakukan aksi yang sama. Dewi elok rupa yang  berambut panjang dan gemar berkaca mata itu adalah pemenang kontes kecantikan yang diadakan di negeri Astinapura beberapa warsa sebelumnya. 

Padahal, saat kampanye, dengan lantang dia berjanji akan membasmi segala penyakit yang menyerang para pamong praja. Eh, tidak tahunya, dia sendiri malah ketularan. Parah! Antibodinya Payah!

Prabu Duryudana kebakaran jenggot. Bagai buah simalakama, dia tak tahu harus berbuat apa. Dursasana adalah adiknya yang juga ketua paguyuban kawula muda yang dengan getol membantunya merebut tahta Astinapura dari raja sebelumnya. Begitu juga dengan Dewi Dresnala.

Sidang pun digelar dihadapan rakyat dengan menghadirkan Aswatama, bendahara istana yang mengetahui dengan pasti kronologi pengutilan dan kemana saja uang itu dialirkan. Adu mulut pun terjadi. Masing-masing berkilah dirinya sehat dan tak ada masalah dengan kesehatannya, termasuk tak pernah mau mengakui pengutilan yang nyata-nyata dilakukan.

“Penggal kepala Dursasana! Penggal kepalanya …! Rakyat berteriak-teriak dari luar gedung peradilan. Tapi teriakan mereka nirguna. Dursasana selamat dari segala dakwaan. Para juru hukum tak sanggup memenggal kepalanya sebab mereka sungkan pada Prabu Duryudana. Lha adiknya je? Bagaimana jika mereka sendiri yang menghadapi hukuman penggal dari sang Prabu nantinya? Mereka pun ciut nyali.

Untuk meminimalisir protes dari rakyat, atas persetujuan dari Prabu Duryudana, diputuskanlah cukup Aswatama dan Dewi Dresnala yang disembuhkan penyakitnya. Itu pun bukan hukuman penggal seperti yang dijanjikan, tapi cukup sayatan ukur-ukur[11] yang bahkan perih pun mereka tidak rasakan. 

Rakyat semakin berang. Rasa tidak terima mereka melgit sebab perbuatan mereka bertiga telah menyebabkan ratusan perut menderita kelaparan hebat. Bahkan puluhan orang meninggal karenanya. Nirguna. Tak ada yang mendengar. Prabu Duryudana pun hanya diam tak bergerak. Tak membenarkan, tak juga menyalahkan. 

Ambigu. Tak ada titik temu. Kepercayaan rakyat terhadap Prabu Duryudana perlahan luntur. Raja yang juga mantan ksatria istana itu perlahan tapi pasti turun dari keyakinan mereka sebagai Satria Pingingit yang sanggup membasmi segala kerusuhan.

Kondisi semakin parah. Para pamong praja semakin kesetanan. Bethara Kala tak takut-takut lagi menampakkan diri sebab Prabu Duryudana sendiri tak punya ketegasan. Setiap kali Bethara Kala merupa dalam jasad pamong praja, hanya gertak sambal saja yang dia terima. Selebihnya, dia aman tanpa lawan. Mereka tak lagi jeri dengan ancaman hukum penggal. Nyatanya, setiap kali ada pamong praja yang tertangkap, paling-paling kasusnya akan heboh sebentar, lantas begitu saja menguap terlupakan.

Rakyat gelisah, tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi para pamong mereka yang tengah sakit jiwa. Bukannya melindungi dan mengayomi, ruh Bethara Kala yang bersarang dalam diri mereka menjadikan mereka bak monster yang setiap saat datang dan memangsa. 

Berikutnya, virus mulai keluar dari gedung istana, lalu merembet ke gedung pencetakan kitab Kalimasada, kitab agung yang dipercaya mampu menanggulangi bencana di arcapada. Dengan dalih  untuk menggandakan kitab, mereka mengutil sekarung upeti rakyat. Jian edan tenan![12] Mereka tak lagi takut akan laknak kualat dari Sang Hyang Panyerat Babad.

Lagi-lagi, ratusan rakyat megap-megap di pelataran negeri. Kelaparan kembali mengatapi. Tak ada beras karena mereka tak sanggup membeli. Uang mereka kembali tersesap paksa oleh pamong Bethara Kala. Sementara seperti sebelum-sebelumnya, Prabu Duryudana tak mampu berbuat apa-apa selain muncul di layar kaca dan mengatakan para ksatrianya akan segera membereskan semuanya. 

Namun sayang, rakyat tak lagi percaya. Buktinya, Bethara Kala berdasi tetap aman berkeliaran. Mereka muncuri, mengambil upeti dengan paksa, membunuh rakyat pelan-pelan dengan merebut hak-hak mereka. Jatah makan, jatah pakaian, jatah pendidikan, semuanya tak luput dari rampokan.

Rakyat tak sabar menunggu Prabu Duryudana bertindak. Rasa tidak puas melampias. Mereka menyerang para Bethara Kala dengan apa saja. Ya pisau, arit, clurit, bahkan direwangi meminjam kapak Naga Geni 212 dari Wiro Sableng dan pedang setan dari Dewi Mantili. 

Tapi tak mempan. Tubuh para pamong praja itu kebal dengan berbagai senjata tajam. Penyebabnya jelas. Bethara Kala yang menyusupi mereka adalah manusia setengah dewa. Kekuatannya luar biasa.

Rakyat menangis. Putus asa. Apa jadinya jika para pamong praja yang berjumlah ratusan orang itu tiba-tiba berubah menjadi Bethara Kala semua? Lalu datanglah mereka pada Eyang Pandita, penasihat negeri yang arif dan bijaksana.

“Bagaimana ini, Eyang? Apa yang bisa kami lakukan?” tanya rakyat dengan wajah bermuram durja.

 “Tak ada jalan lain. Bethara Kala yang membo-membo[13] menjadi pamong praja itu harus dimusnahkan.”

“Caranya, Yang?”

“Satria Piningit, Cu! Hanya dia yang mampun menyelamatkan negeri kita dari amukan Bethara Kala.”

Duh biyung[14] … Rakyat semakin bingung! Semua orang di negeri Astinapura tahu pendekar sakti mandraguna itu menurut dongeng dari mulut ke mulut akan membawa negeri mereka pada masa kejayaan. Sayangnya, tak seorang pun tahu kapan pendekar itu akan tiba. Satu-satunya harapan mereka adalah perang Baratayudha yang dihelat dua tahun lagi untuk memilih raja pengganti Prabu Duryudana.

"Lalu, apakah tahun 2014 nanti Satria Piningit akan benar datang, Eyang?"

"Entahlah Cu, Eyang sendiri tidak tahu. Yang pasti, dari semeriwingnya kabar, Satria Bergitarlah yang akan unjuk gigi...."

Membayanglah di pelupuk mata mereka seorang laki-laki berjenggot, berambut ikal, bersuara emas, dan tak suka begadang di tengah malam. Dia menunggang kuda dengan gitar menggantung dipundaknya. Benarkah sang ksatria telah datang??? Rakyat saling pandang. ***



[Nimas Kinanthi, penulis adalah blog writer www.kaltimtoday.com. Peminat bahasa dan sastra ini kini sedang proses menyelesaikan buku perdananya. Ia juga aktif di forum Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN). Sumber ilustrasi gambar: NewsJunkiePost] 




KETERANGAN ISTILAH
[1] = hijau
[2] = licin
[3] = meracau
[4] = permadani
[5] = terkantuk-kantuk
[6] = pikiran kacau
[7] = sehat
[8] = pingsan
[9] = raksasa
[10] = bagaimana ini
[11] = samar-samar
[12]= benar-benar gila
[13] = menyamar
[14] = ibu

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.