News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Mengapa Organisasi dan Kerupuk?

Mengapa Organisasi dan Kerupuk?


KALTIMTODAY -- Sebagian orang beranggapan organisasi tanpa fungsi adalah melompong, tak ada isinya. Tri fungsi organisasi sebagai tampang fungsi organisasi, menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan. 

Dan, memang benar, sebagian anggapan orang tadi. Betapa besar pun suatu organisasi, jika tanpa usaha fungsionalnya, tak akan bergeming. Apalagi tanpa kinerja penuh, organisasi bukan saja tidak berkutik, malah akan melempem dan kemudian hancur. 

Ibarat kerupuk atau keripik, organisasi seperti apa yang dikaca perbandingkan tadi. Keripik dan kerupuk akan renyah dan mudah dinikmati, dengan memulai proses pematangan yang sempurna, dan tak lupa penggunaan bumbu yang pas, atau ketepatan waktu, bumbu dan minyak sekalipun. 

Kedua atau ketiganya, relevansi mendasar dalam pembuatan kerupuk (fungsi mendasar). Kerupuk pun punya fungsi dan peranan terhadap kelancaran suatu acara. Apalagi organisasi yang memang punya peranan penting dalam melancarkan ide-ide dan gagasan, serta aspirasi yang dimunculkan dari anggota.

Kalau bicara masalah organisasi elit, sudah banyak yang bertipikal tersebut, diantara banyak organisasi. Indonesia punya banyak organisasi masyarakat (ormas) elit bidang politik, keagamaan, maupun organisasi laba atau nirlaba. Organisasi yang terkemuka ini, tidak langsung begitu saja menjadi terkenal dan disegani oleh masyarakat. 

Butuh tahapan dan pematangan sedikit demi sedikit, yah sama seperti kerupuk dan keripik tadi. Tantangan dalam penempaannya tentulah makan banyak waktu dan mungkin bertubi-tubi. Kegagalan demi kegagalan, banyak dialami dan menjadi pengalaman yang berbuah hikmah, tercatat sebagai sejarah  pendiriannya. 

Rasanya tak berbeda jauh dengan kerupuk dan keripik dalam pengolahannya, secara bertahap mereka akan berjuang mati-matian untuk menjadi barang yang jadi dan memuaskan. Mereka ada yang keras seperti batu jadinya, ada pula yang sunsang rasa dan bentuknya. Itulah perjuangan mereka, agar mereka bisa dihargai oleh para peminat dan pelanggannya.

Memang kita melihat tak ada yang terlalu istimewa untuk benda semacam kerupuk yang biasa terjajaki di pasar, warung, dan tempat perbelanjaan lainnya. Mereka hanya sebuah pelengkap makanan, mereka juga hanya dipakai untuk kiasan (perumpamaan) orang yang lemah mental dan tak punya kepercayaan diri sedikitpun. 

Tapi, setidaknya kita harus menghargai, bahwa inilah kerupuk yang selalu menjadi pelengkap hidangan, baik besar maupun kecil, rendah maupun tinggi segala tingkatan masyarakat. Inilah kerupuk yang akan dipesan kapan saja, saat makanan tak terasa lengkap tanpa kerupuk. Orang yang bermental kerupuk, bukan orang yang patut dihina dan dikucilkan. Karena setiap orang pasti punya kelemahan. 

Orang yang menghina orang lain pun pasti punya kelemahan. Perbedaannya, orang yang menghina, mungkin saja orang yang lebih dominan kebanding orang yang dituduh bermental kerupuk tadi. Dalam hal berpidato atau berorasi misalnya, dan malah mungkin tak ada apa-apanya. 

Biasanya memang seperti itu, mereka hanya bisa mengkritik kemudian menghina, tetapi tak punya solusi atas apa yang dikritiknya. Menghina akan tetapi dirinya tak bisa apa-apa. Yah, lebih baik tak usah ada orang seperti ini, kalau hanya bisa berlagak sok kritikus, sok kepercayaan diri tinggi. 

Fenomena semacam ini sudah banyak sekali kita jumpai, dan menjadi kebiasaan buruk. Orang menghina punya kelebihan, tidak buruk sekali. Tetapi orang menghina tapi dalam waktu yang sama ternyata tidak punya kelebihan apa-apa, ini yang dipertanyakan. Mau dikemanakan mukanya itu. Jika orang itu adalah kita, sepertinya kita (orang yang tak tahu malu itu) harus berpikir dua kali, untuk menghina.

Semua Berpotensi
Orang yang bermental kerupuk, bukan untuk dihina. Mereka hanya butuh motivasi dan masukan positif lainnya. Karena orang yang bermental kerupuk, tak menutup kemungkinan, punya kelebihan. Hanya saja mereka memendamnya, disebabkan oleh malu yang besar, tak mau mencoba, tak berani untuk maju, bahkan diantara mereka ada yang shock setelah beberapa kali tampil di depan khalayak, namun mereka gagal untuk memenuhi keinginannya. 

Sekali lagi mereka hanya butuh dorongan, agar tertanam kembali benih-benih yang sebenarnya mereka sia-siakan tapi bisa mereka rangsang dan tumbuhkan.

Solusinya, agar mereka selalu semangat, adalah ingatkanlah. Ingatkan bahwa menjadi orang sukses itu tak semudah mengedipkan mata. Butuh perjuangan dan pengorbanan, melalui tantangan yang silih berganti. Orang yang sukses, tak asal begitu saja bisa meraihnya, mereka terus mencoba dan mencoba beribu kali, sampai kemudian berhasil. 

Dalam hal ini, bukannya kita menakut-nakuti. Kita harus berpikir, bagaimana seandainya kita ingin menjadi sukses, tetapi tak mau mencoba terlebih dahulu. Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali, kata orang bijak.

Organisasi adalah kumpulan orang yang di dalamnya terdapat koordinasi, pembagian tugas, dan menejeman dalam mencapai tujuan bersama. Kita masukan orang-orang yang bermental kerupuk tadi, apakah yang terjadi? Besar kemungkinan organisasi ini, berjalan kurang baik. Mereka bisa saja mengacaukan kinerja individu yang lain, kalau di depan jalan ada banyak rintangan, yang berat untuk dilewati. Oleh karena itu, kita harus mencegahnya dari sekarang. Mencegah lebih baik daripada mengobati, kata dokter bijak.

Solusi selanjutnya, kita harus menunjukan kepada mereka, banyak orang sukses selalu mendapat kegagalan di tengah malpighi kehidupannya, dan itu menjadi bekal mereka untuk menghadapi rintangan berikutnya. 

Kita harus berprinsip “HARUS BERANI!”. Intinya kita harus berani menantang dunia. Dunia adalah lika-liku sementara, bukan saatnya bersantai dan berdiam diri sekarang. Ada akhirat yang menunggu kita, tempat pamungkas pertanggungjawaban kita. Inilah kebahagian sesungguhnya, kalau saja kita mampu melewati ujiannya.

Rasa takut wajar ada. Keberanian dan ketakutan adalah sesuatu yang bersilangan. Keduanya dimiliki seseorang, karena sesuatu yang bersilangan akan menimbulkan daya. Namun, kita harus menyeimbangkannya, kapan kita harus takut dan kapan kita harus berani. Kalau, toh terlalu berani, tidak bagus juga. Terlalu takut, apalagi. 

Jadi, semua yang ada dalam organisasi, harus berani demi menjalankan kepentingan bersama, dan “takut” demi menjaga kepercayaan mitra kerja kepada diri sendiri. Orang yang bermental kerupuk, banyak takutnya, dan itu tidak baik. Orang yang seringkali meremehkan bahkan sampai menjurus kepada menghina, mengumpat, menggerutu, juga tidak baik. Oleh karenanya, solusi selanjutnya adalah menyeimbangi antara potensi berani dan takut. 

Organisasi adalah alat bagi orang-orang bersosialisasi, dalam menampung aspirasi, sebagai tangan kanan dan motorisasi. Seperti yang saya katakan sebelumnya, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi, bila seandainya seluruh bagan dalam organisasi dihinggapi mental kerupuk atau mental yang sok jadi pahlawan, organisasi akan melempem seperti kerupuk. 

Yah, tak apalah seperti kerupuk, tapi bukan melempemnya yang kita ikuti, melainkan renyahnya yang dapat dinikmati kapan pun dan dibutuhkan oleh orang lain. Kita harus memanfaatkan sebaik-baiknya kelemahan dan kelebihan yang kita punya, agar kita dapat bermanfaat buat orang lain. 

    
 
[Aba Idris Shalatan, penulis adalah alumni Pondok Pesantren Hidayatullah. Kini  mahasiswa di IDIA Prenduan Sumenep, Madura. Aktif di kajian ilmiah KOPI (Kajian Orang-orang Pinggiran), Gejora, dan Kajian Maktabah. Sumber gambar ilustrasi: OrganizedAtoZ]

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.