News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Nestapa Ledi di Malam Kelam

Nestapa Ledi di Malam Kelam


KALTIMTODAY -- Bethara Cungkil Nyawa memerah matanya. Anggota sena apsara satu itu memang terkenal temperamental. Tentu saja sifat itu cucok dengan tugasnya sehari-hari yakni mencerabut nyawa manusia yang sudah tiba titi mangsanya[1]. 

“Guru, bagaimana? Bolehkah aku menjemputnya sekarang juga?” tanya Bethara Cungkil Nyawa.

“Tenanglah, Cungkil. Ingat, semua akan indah pada waktunya,” kata Bethara Guru, pemimpin para sena, berusaha menghibur kegundahan anak didiknya itu.

Yang dihibur sama sekali tak terhibur. Sedikit pun riak mukanya tak berubah. Tegang, menyerangsang. Dia begitu jengah melihat manusia yang semakin lama semakin tak takut kepadanya. Mereka meremehkan kehadirannya. Mereka lupa jika dirinya setiap saat mengintai dan siap menerkam jika titah telah dijatuhkan. Mereka abai jika dirinya kelak mengantarkan setiap jiwa pada penghadapan pertanggungjawaban.

“Kenapa Kala Bendu, Naga Samber Jiwa, dan Kala Pati Jiwa harus diciptakan, Guru? Bukankah mereka membuat manusia mati sia-sia?” tanya Bethara Cungkil Nyawa kemudian.

Ngger[2], memang demikianlah Sang Hyang Pangramut Gesang menetapkan. Dia mencipta neraka dan nirwana yang selalu melambaikan tangan pada calon-calon penghuninya”. 

“Ada jahat, ada baik. Jika tidak, alangkah pasinya kehidupan dunia. Tak perlu amal dicatat, tak perlu aturan dibuat, tak perlu jauh-jauh dari maksiat, tak perlu ada taubat, toh semuanya bakal enak di akherat. Hitam dan putih, dosa dan pahala, miskin dan kaya adalah balance of life. Fahimtum?” terang Bethara Guru, lagi. Cungkil Nyawa diam manggut-manggut. Sakderma manut[3].

Adalah di bawah sana, Ledi, salah satu dari berlaksa manusia yuwana yang meremehkan dirinya. Mereka seolah percaya Cungkil Nyawa hanya menjelanaki para lansia. Mereka begitu pongah, meninggalkan berbagai titah langit demi pesona dunia yang semakin hari semakin menyeri rona. Kala Bendu, Kala Pati Jiwa beserta kroninya tak henti-hentinya memoleskan pernis berkilat-kilat pada goda-goda sesat menjelaga hingga mereka terlena menikmatinya. 

Gadis muda itu dikaruniai paras elok rupa. Kulitnya kuning mringin[4] seperti kue apem yang baru keluar dari oven. Rambutnya hitam bergelombang, panjang tergerai hingga hampir menutup pantatnya yang berisi. Bentuk wajahnya oval ngendog bebek[5], pipinya tirus, hidungnya mancung, alisnya tebal melintang. Paduan serasi yang klop tenan! Belum lagi dua kaki jenjang penyangga tubuh yang menambah sempurna penampilan fisiknya. 

Berbekal kelebihannya, berangkatlah Ledi merantau meninggalkan saudara perempuan satu-satunya, Siti.

“Di, mbok ya nggak usah ke kota. Cari kerja di sini saja, nggak usah muluk-muluk. Aku kuatir kamu terkena goda,” cegah Siti ketika saudaranya itu hendak beranjak pergi.
“Jangan cemas, Ti. Doakan saja aku berhasil, ya,” jawab Ledi mantap. Keinginannya untuk menjadi artis tak terbendung lagi.

“Pesanku, apapun yang terjadi jangan tinggalkan titah Pancamasa, dan jagalah bacaan Kalimasada,” kata Siti, sedih.
“Oke, Ti. Siap!” jawab Ledi. Siti lega mendengarnya.

Meski saudara sekandung, rupa mereka jauh berbeda. Jika Ledi mewarisi gen papinya yang keturunan Belanda, berbeda dengan Siti yang jibles[6] maminya, peranakan Jawa tulen. Kulit sawo matang, wajah bulat, tinggi sedang, dan rambut jagung kemerahan. Sekilas pandang, orang tak akan menyangka keduanya bersaudara. 

Di kota, Ledi kesana-kemari mengikuti audisi demi audisi. Mulai dari artis sinetron, model amatiran, lomba nyanyi dangdut koplo, hingga model iklan kaos kaki merek lokalan. Dan benar saja, Sang Hyang Pangramut Gesang berbaik memberi gadis itu kesuksesan. 

Berawal dari audisi dangdut koplo, dia pun menjadi artis ngetop. Panggung demi panggung dia datangi. Tawaran nyanyi berdatangan mengingat Ledi memang mampu menghadirkan sensasi-sensasi berani di setiap aksinya. Dengan cepat, namanya melambung ke seantero penjuru negeri. Khalayak ramai membincangnya sebagai pendatang baru yang berkibar. 

Tayangan televisi tak henti-hentinya mengabarkan setiap detail aktifitasnya, bahkan sampai berapa menit dia mandi pun diekspos dan menjadi tayangan dengan rating tertinggi. Terakhir, aksi spektakulernya adalah melapisi deretan giginya dengan emas dan perak berselang-seling hingga … cling!!! Timbullah kilatan cahaya jika dia tertawa. 

Sejak saat itu, semakin hebohlah dia menjadi bahan obrolan. Karirnya menanjak tajam, seiring pundi-pundi saldonya yang makin menjulang. Ledi Gigi, demikianlah akhirnya orang-orang menyebutnya.

Hari-harinya semakin sibuk. Untuk menata jadwal manggungnya saja, dia musti membayar tiga orang sebagai tim manager. Alhasil, semakin hari pesan Siti pun terabaikan. Bagaimana juga mau melaksanakan titah Pancamasa, sedang setiap waktunya tiba dia tengah asyik menghibur fans-fansnya. Apalagi membaca Kalimasada. Biyuh, mana sempat?!.

Nun jauh disana, Siti begitu resah melihat saudaranya. Ledi yang dikenalnya berubah drastis. Siti ngenes[7] demi melihat paha dan dada mulus Ledi yang diumbar di mana-mana, membuat setiap mata laki-laki ingin copot saat memandangnya. 
Dia pun  menemui Ledi ke kota.

“Di, kamu kok gitu sekarang? Rok-rok panjang kamu, di mana?”
Weh … baju begitu mah sudah nggak jamannya, Ti. Jadul gitu loh! Ini jaman millennium, Ti, zaman modern. Kita nggak boleh ketinggalan. Kamu piye[8], to?”

“Di, ikut perkembangan zaman bukan berarti meninggalkan prinsip utama kita, to? Kita punya pagar diri, Di. Pagar yang membentengi kita agar terhindar dari godaan saat kita maju mengikuti jaman.”

“Ah …  kamu, selalu deh rempong begitu ….”

“Ingat, Saudaraku. Hidup kita hanya sementara. Yang abadi, kelak di akhirat sana.”

“Ti, kulakukan semua ini demi karirku, demi para pengemarku. Aku sudah berpayah-payah mencapai semua ini, tahu? Lihatlah, aku terkenal sekarang. Aku sukses! Semua orang menunduk takjub padaku. Tidakkkah kau turut bangga karenanya? Dan kamu? Siapa yang kenal kamu, Ti? Gadis yang mendekam di balik baju kurung? Kuper dan nggak modis? Tiap hari kamu keluar masuk majelis ilmu, menggunjingkan nikmatnya nirwana dan panas neraka, apa yang kamu dapat? Apa yang kamu punya? Atau, jangan-jangan kamu ngiri lagi, makanya sirik begitu!”

“Ledi saudaraku, kita hidup untuk masa nanti yang abadi. Kita tak pernah tahu kapan akan tiba titi mangsa ….”

“Ti, mati itu bukan untuk kita yang muda-muda. Ini kesempatan emas, Ti. Inilah hidup. Lagian, kita belum tua, ngapain juga sibuk-sibuk persiapkan mati? Just enjoy the game, Sist. Okey?!” 

Siti berlalu. Sepertinya tak berguna pembicaraannya dengan Ledi. Saudara perempuannya itu telah sama dengan yang lain, terlena. Dia tenggelam dalam euforia edan kamanungsan[9].

Di kahyangan …
Bethara Cungkil Nyawa yang mendengar percakapan mereka geregetan. Dia begitu gela[10] karena dirinya disepelekan oleh seorang gadis muda. 

“Lihatlah, Bethara Guru. Aku tidak terima diremehkan seperti itu!” gertak Cungkil Nyawa.

Bethara Guru terhenyak. Anak didiknya itu memang tak pernah berubah, emosional.
“Iya iya … sebentar, Kil. Aku cek dulu ya di buku takdir.”

Bethara Guru membuka-buka buku tebal catatan kantih lajak hidup manusia. Dicarinya bagian halaman dengan inisial nama “L”.

“Hmm … tidak lama lagi, Kil. Malam ahad depan.”
“Oke, Guru. Siap!”
Wajah Bethara Cungkil Nyawa sumringah[11] seketika.


***********

Malam minggu, di panggung super wahh ….

Penonton berjubel. Mereka berderet dari kursi VVIP sampai yang numpang nebeng tanpa tiket. Ribuan orang meluahi gedung terbesar di kota itu. Mereka rela datang sejak pagi demi melihat konser yang akan digelar menjelang malam hari. Konser siapa lagi jika bukan penyanyi ngetop bergigi silau, Ledi Gigi.

Musik mulai berdentum. Ledi Gigi, seperti biasa, menjadi sri panggung. Penonton bersorak saat dia menampakkan diri. Pakaiannya seksi, mlepet[12] mirip ketan bungkus alias lepet. Suguhan pertama ciri khasnya adalah melempar senyum maut, dengan kilatan cahaya keemasan dan keperakan dari gigi-gigi fenomelnya. Sorakan semakin mengecandan.

“Gi Gi! Gi Gi! Gi Gi!” mereka berteriak berjamaah.
Sejurus kemudian, Ledi Gigi telah menghipnotis ribuan penggemarya itu dengan pesona aksi panggungnya yang oke punya. 

Sementara itu, perlahan-lahan Bethara Cungkil Nyawa mengepakkan sayap turun ke bumi. Matanya mengerjap kemerahan tak sabar ingin melekap nyawa yang sudah lama diincarnya. Dengan rupa buta buruk rupa, dia menujui panggung Ledi Gigi. Jlep!!! Suaranya berdebum saat dia jejakkan kedua telapak raksasanya.

Ledi Gigi yang tengah beraksi terkesiap. Matanya mendelik demi dilikatnya makhluk  bersayap menatapnya garang. Dua taring sebesar gunung Jabal Kat menyeringai dengan liur menetes-netes menjerikan. Ingin dia teriak, namun suaranya tercekat. Ingin dia berlari, namun kakinya kelu tak mampu berdiri. Ledi Gigi terjerembab jatuh. Tanpa daya. Tangan dan kakinya meronta-ronta saat Cungkil Nyawa mulai menarik paksa nafasnya.

Sayang, ribuan penontonnya malah bersorak kegirangan. Tak seorang pun melihat kehadiran apsara gaib Cungkil Nyawa.  Ledi Gigi yang berguling kesakitan mereka kira tengah menebar aksi sensasinya yang terkini. 

Hurray …! Gi Gi! Gi Gi! Gi Gi! Gi Gi” Mereka riuh menyoraki.

Ledi Gigi sendiri dalam ramai. Berseorang dia berjuang meregang nyawa sementara dia berada di tengah-tengah lautan manusia tempatnya menghamba. Percuma, sungguh percuma! Mereka yang dipuja dan memujanya senoktah pun tak mampu menolongnya saat titi mangsa benar-benar meneja sapa. Nirguna, sungguh nirguna! Meski sedetik diminta, tak akan Bethara Cungkil Nyawa sudi memperpanjang kontrak waktu hidupnya di dunia jika titah telah diembannya.

Tak lama kemudian, hening. Ladi Gigi terkulai. Tak bergerak. Pasi. Penonton seketika bungkam. Dada-dada bergetar masai. Apakah gerangan yang telah terjadi?
Dan, keesokan harinya ….

Media ramai mengabarkan seorang artis ternama, Ledi Gigi, meninggal saat pentas akbar. Penyebab utamanya belum diketahui secara pasti. 



[Nimas Kinanthi, penulis adalah blog writer www.kaltimtoday.com. Peminat bahasa dan sastra ini kini sedang proses menyelesaikan buku perdananya. Ia juga aktif di forum Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN). Sumber ilustrasi gambar: ThemeBin]







KETERANGAN
[1] = tiba waktunya
[2] = nak
[3] = menurut/tunduk
[4] = merona
[5] = seperti telur bebek
[6] = mirip
[7] =sedih
[8] = bagaimana
[9] = gila hormat dari manusia
[10] = kecewa
[11] = cerah
[12] = ketat

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.