Silau Mata dan Si Mister Rente

KALTIMTODAY -- Sulung membopong Ibu yang tak lagi berdaya. Sakit parah yang dideritanya membuatnya tak kuasa untuk meronta. Tubuh Ibu yang tak lagi berat karena air susu dan darah mulai mengering, membuat Sulung tak kesulitan membawanya dengan setengah berlari.

Rambut Ibu yang masih legam menggerai berkibar-kibar. Tangan Ibu yang hanya tinggal sebelah menjuntai jatuh hampir menyentuh tanah. Bibir Ibu pucat, terkatup ratap. Matanya sayu, pertanda dalam menyimpan silu.

Aku dan bungsu mengejarnya. Aku tak rela Sulung melakukannya. Aku tak rela Ibu kami tercinta menuai derita. Aku tahu apa yang akan dilakukan oleh Mister. Dia akan membelah dada Ibu, dan mengambil nafasnya yang selama ini memberi kami udara. Dia akan mengorek rahim Ibu dan merenggut mutiara kehidupan yang menghidupi kami selama ini.

Dia akan memotong-motong tangan dan kaki Ibu yang selama ini kokoh melindungi kami banjir dan gempa. Dia akan memerah puting susu Ibu hingga tetes terakhir dan mengambil seluruh sari patinya. Aku menatap Bungsu yang lunglai dalam dekapanku. Bagaimana kelak dia tumbuh dan melepas bulur tanpa Ibu?
Aku terus berlari ….


*******

KAU tahu? Dulu, Ibu adalah wanita elok rupawan. Tubuhnya padat berisi. Betisnya indah serupa himpunan butiran-butiran gabah. Ibu terkenal ramah kepada siapa saja. Senyum senantiasa mengulas dari bibirnya penaka manjing merekah. Tuturnya lembut bagai seorang putri yang sedang ngendikan[1].

Jika berbicara atau berpapasan dengan yang lebih tua, Ibu merunduk sopan. Ibu berselimutkan dewangga hijau tua yang menghangatkan. Disaat hujan, dalam balutannya kami nyaman melingkarkan badan. 

Darinya bersumber segala kasih sayang, Ibu pun memiliki kekuatan yang mengagumkan. Tangan dan kakinya yang jenjang begitu kokoh melindungi kami dari terjangan badai dan topan. Begitulah Ibu …. Cantik memesonakan.

Dan kau tahu? Ibu tak pernah bosan memasak beras menjadi segumpal nasi untuk kami. Ibu pun tak pernah lupa memasak semangkuk sayur hijau segar dengan ikan laut goreng yang gurih. Tak dibiarkannya kami merasa lapar, dan juga haus. Ibu memangku kami di depan perapian saat kami menggigil kedinginan, dan Ibu mengulurkan segelas air saat kami kehausan. Bagi kami, Ibu laksana seorang dewi.

Kecantikan dan kebaikan budi Ibu rupanya membuat laki-laki berhidung mancung dari negeri seberang begitu bernafsu memilikinya. Orang-orang memanggilnya Mister, entah siapa nama aslinya. Dia rentenir.

Dari sendalu yang berkabar, aku tahu dia laki-laki tamak, licik, dan serakah. Aku tak pernah menyukainya sejak pertama dia hadir ke rumah kami. Tapi sayang, Sulung tergoda. Dia begitu terpesona dengan tawaran yang diberikannya.

“Untuk apa ini, Mister?” tanya Sulung padanya.
 “Lung, ambillah uang ini. Kamu bisa gunakan untuk menyejahtarakan adik-adikmu,” kata Mister.

“Tapi, kami sudah sejahtera, Mister. Tak kurang suatu apa,” jawab Sulung.
“Kamu keliru. Coba lihat dirimu. Masih juga makan nasi dan sayur. Lihat di luar sana, orang-orang makan burger,” jawab Mister.

Sulung terdiam. Dalam hati, dia ingin tahu seperti apa rasanya burger.

“Baik, Mister. Tapi, bagaimana nanti aku mengembalikannya?” tanya Sulung.
“Gampang … kamu balikin dua bulan lagi ya. Atau … tiga bulan juga oke. Yakinlah, kamu dan adik-adikmu pasti suka,” kata Mister dengan senyum mengembang.

“Mister, Anda sungguh baik. Bagaimana kami dapat membalas kebaikanmu?” tanya Sulung lagi.
Hmm … gampang juga, kok. Tambahin aja 10 persen dari yang uang itu ya. Aku pikir, jumlah itu tak seberapa,” jawab Mister.
“Baik, Mister,” jawab Sulung riang. Toh, hanya segitu. Kecil!. Batinnya.

Selepas Mister pergi, Sulung membelanjakan uang itu untuk membeli segudang burger. Tiap hari dia isi perutnya dengan makanan gemuk itu. Aku dan bungsu tidak begitu menyukainya. Entahlah, bagiku nasi pecel dan rempeyek kedelai bikinan Ibu terasa jauh lebih lezat.

Tiga bulan datang juga. Mister datang ke rumah kami menagih janji.

“Bagaimana, Lung? Lezat burgernya?” tanya Mister.
“Iya, Mister. Te o pe begete, deh, pokoknya,” jawab Sulung berseri rona.
Oh iya, aku kemari mau nagih utang, Lung …,” kata Mister kemudian.
“Beres, Mister. Nih! Pinjaman plus bunganya. Lunas!” kata Sulung. Dia sodorkan segebok duit pada Mister.

Hmm … tapi, bagaimana nanti kamu dapat membeli burger lagi? Dan lagi, di luar sana sekarang musimnya gini, nih,” kata Mister seraya menjimpit jas hitamnya yang licin mengkilat. “Kaos oblong sepertinya nggak pantas lagi buat kamu, Lung. Apalagi, kamu kan kakak tertua. Musti wibawalah,” sambungnya.

Sulung menunduk. Iya ya, dia cuma berkaos oblong. Sejenak kemudian dia menoleh pada Mister yang membalut tubuhnya dengan setelan jas dan celana hitam, lengkap dengan dasi kupu-kupu. Look so handsome. Benar juga kata Mister.

“Iya, Mister benar. Lalu saya musti bagaimana?” tanya Sulung.
“Begini, ambil saja lagi uang ini. Oke? Tapi seperti biasa, Lung, simbiosis mutualisma kita,” kata Mister.

“Saya  paham, Mister. Berapa yang harus saya kembalikan?” tanya Sulung.
Yah, kali ini, tambahin dikit ya, Lung. 15 persen saja. Kalau kamu keberatan, aku ambil aja deh duitnya,” kata Mister. Serius.
Eh, iya, Mister. Oke. Jangan kuatir, saya bayar lunas nanti. Deal!

Dan kemudian, Sulung membelanjakan uang itu untuk mengganti pakaian lamanya dengan jas-jas licin dan mahal. Memang, penampilannya semakin menarik. Tubuhnya gempal berisi dalam balutan setelan jas hitam plus sepatu berkilat. Aku dan Bungsu berdecak kagum saat melihatnya.

Selanjutnya, Mister semakin sering datang. Dia selalu menawarkan hal baru pada Sulung. Sulung pun tampil semakin trendi, mobilnya mewah kleser-kleser[2]. Perutnya gendut menggelambir kebanyakan burger. Duitnya banyak, setiap saat dia butuh, Mister langsung mentransfer.

Aku dan bungsu? Tak jauh berbeda dari sebelumnya. Kami tetap bersahaja. Sulung sepertinya lupa dengan kami. Dia lebih asyik membuang-buang duit untuk menyenangkan dirinya sendiri. Aku miris melihat Mister. Bagaimana jika dia tak mampu membayar hutang-hutangnya nanti?

“Kan ada Ibu, Su. Ibu masih punya simpanan. Berara pun pinjamanku, Ibu pasti mau membayarnya,” jawabnya enteng.

“Tapi, Lung. Anak Ibu bukan kamu. Ada aku, juga Bungsu. Kamu jangan serakah dengan harta Ibu,” aku memepringatkannya.

Eh, bocah! Jangan banyak omong ya kamu. Aku lakukan semua ini untuk kesejahteraan kita. Ibu, dan kamu, dan juga Bungsu!” Sulung naik darah.

“Omong kosong! Mana yang kamu berikan pada kami? Kamu berjas berdasi, kami hanya mendapat baju lungsuranmu[3] yang mirip serbet. Kamu enak-enakan makan burger dan kami hanya kau ceceri sejumput remah roti. Kamu bermobil mewah, sedang kami hanya kau izinkan menaiki motor butut bekas kau pakai. Dari pinjaman kamu jadi jutawan, lalu kau bayar hutang-hutangmu dengan harta Ibu, harta bagian kami juga!” kataku sengit. Aku benar-benar jengah dengan kelakuan Sulung.

Plak! Tamparan keras Sulung mendarat di pipiku. Duh… perih tak terkira. Aku diam menahan lara. Semarah-marahnya aku, mana bisa aku melawan Sulung yang tegap, gagah perkasa. Tubuhku ringkih. Lagipula, aku masih menghormatinya sebagai anak Ibu yang tertua.

Dugaanku benar. Dua bulan yang lalu Mister datang ke rumah. Dia menagih pinjaman. Sulung kelabakan. Tak dia sangka, hutangnya telah menjelma puluhan kali lipat. Dia bingung. Keringat dingin bercucuran.

Akhirnya, Ibu yang turun tangan. Mana ada Ibu yang tega melihat anaknya dalam derita? Diberikannya separuh selimut hijaunya kepada Mister. Sulung menyeringai puas. Lunaslah hutangnya. Aku meneteskan air mata.


***************

SULUNG tak juga puas. Terbiasa menikmati segala kesenangan, dia ketagihan. Berapa pun duit yang dia terima dari Mister, tak kan bertahan lama di tangannya. Sebentar saja menjelma menjadi barang mewah, atau bertukar dengan gelas-gelas air cendawan.

Untuk yang kedua kalinya Sulung terjerat  dalam hutang kepada Mister. Jika tidak mampu membayar, Sulung terancam di penjarakan. Ibu tak tega. Dengan bening mata melinang, dia lepas sebelah tangannya untuk Mister. Lunaslah hutan Sulung. Dia tersenyum senang.

Mister pun merajang jemari Ibu dalam kepingan, lalu dibawanya ke negeri seberang. Dia peras darah Ibu yang menyuburkan. Dia tanam belulang Ibu sebagai pancang penyangga rumah megahnya. Seketika orang-orang terkagum-kagum dengan rumahnya yang etnik eksotik. Tentu saja karena aura kecantikan Ibu memancar darinya. Ibu merintih. Aku pedih. Sesak. Berlimbak-limbak.

Sulung makin merajalela. Rasa kasihan perlahan terkikis dari hatinya. Matanya gelap oleh pesona dunia yang indah tiada tara. Dia lupa Ibu. Lupa aku, dan juga bungsu. Kembali berlembar-lembar duit dia terima dari Mister.

Berdalih dia ingin mengobati luka di tangan Ibu, membangunkan kami rumah yang lebih kokoh, memberikan kami makanan lezat, baju bagus dan hangat, dan segudang alasan lain. Tapi seperti biasa, kami hanya mendapat gabah yang tercecer satu dua dari pori-pori karungnya.

Sulung menjadi malas mengolah lahan. Keenakan dia terima duit cepat dan instan. Entah kapan Sulung akan sadar jika Mister semakin pintar. Setiap kali dia memberi, selalu bertambahlah bunga yang dia syaratkan. Mulai dari 10 persen, 15 persen, 20 persen, hingga 50 persen! Tawarannya begitu manis, namun sejatinya berisi racun yang perlahan-lahan mengikat nafas dengan bengis.

Sementara Ibu makin lemah dan sakit-sakitan. Ibu kedinginan. Selimut hijaunya makin habis tergadai untuk membayar hutang Sulung yang menggunung. Luka di ujung lengannya menimbulkan infeksi berbunga barah. Ibu mengerang menahan sakit. Pun begitu, darah Ibu masih dia peras hingga mengalir dari pori-porinya yang mengeriput. Air susu Ibu dia perah hingga Bungsu tak lagi mendapatkan jatah susu.

Hati Sulung telah pegam. Dia balas kebaikan Ibu dengan air tuba menjijikkan. Dia tak juga sadar betapa Ibu telah menghidupi dan membesarkannya dengan luah cinta kasih. Berapa kali kuingatkan dia betapa Ibu adalah wanita yang mulia hingga Mister tak akan berhenti merudapaksa ingin memilikinya. Berkali-kali kukatakan padanya jika hidupnya akan bahagia dengan mengasihinya. Dan durhaka padanya, akan membuat sengsara. Tapi semuanya nihil. Nirguna. Sulung tak percaya.

Puncaknya, semalam Mister kembali datang. Sulung kalut-malut. Mister yang biasanya tersenyum-senyum itu tampak garang. Dia datang membawa bedil berlaras panjang.

“Mister, uangnya belum ada. Adakah hal lain yang bisa menggantikannya?” kata Sulung, gemetar.

“Ya sudah, kasihkan saja ibumu! Beres! Dan kamu bisa mendapat sedikit duit kembalian,” jawab Mister. Dahinya mengernyit. Senyumnya menyeringai. Mata birunya mendelik. Licik.

“Tapi, Mister … Ibu masih menyusui adik bungsu saya,” kata Sulung.
“Aku nggak peduli. Itu bukan urusanku!” jawab Mister cuek.
Dia arahkan bedil pada Sulung. Aku bersama bungsu mendekam pucat di sudut ruangan.
“I … iya, Mister. Ampun …,” kata Sulung. Menggigil.

*******

AKU terus mengejar. Dari kejauhan, kulihat Sulung mulai menyeberang jembatan. Aku berteriak memanggilnya. Sekali. Dua kali. Ratusan kali. Aku terjatuh. Bungsu tetap kudekap. Aku lelah. Payah. Hanya tanganku mampu menggapai.

Sulung terus saja melangkah. Di ujung jembatan, Mister julurkan tangan. Siap merengkuh Ibu dalam genggaman. Senyum mengembang. Penuh kemenangan.



[Nimas Kinanthi, penulis adalah blog writer www.kaltimtoday.com. Peminat bahasa dan sastra ini kini sedang proses menyelesaikan buku perdananya. Ia juga aktif di forum Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN) dan sangat mencintai pekerjaannya sebagai PNS di Pemkab Tulungagung. Sumber ilustrasi gambar: Dumaker]



KETERANGAN
[1] = berbicara
[2] = suaranya lirih, tidak begitu terdengar
[3] = baju bekas

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel