News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Bongkar Kebiasaan Lama, Beginilah Bersahabat!

Bongkar Kebiasaan Lama, Beginilah Bersahabat!


KALTIMTODAY -- Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa bergantung pada dirinya sendiri. Ia butuh orang lain guna mengentaskan permasalahannya. 

Orang dekat selain kerabat itulah yang kebanyakan orang menyebutnya sebagai sahabat. Bahkan, karena terlalu dekat pergaulan keduanya biasa juga disapa dengan sahabat karib.  

Mencari sahabat itu relatif gampang. Di manapun kita berada yang penting kita aktif dan komunikatif maka sahabat akan kita dapat. Namun, ketika lingkup sahabat itu kita kerucutkan lagi menjadi sahabat sejati, maka di titik inilah tidak sedikit orang yang keliru memposisikannya. 

Banyak orang yang menyangka bahwa teman sejati adalah teman “sehidup-semati”. Dalam kontek tulisan ini, yang dimaksud penulis adalah teman yang senantiasa membantu sahabatnya yang lain dalam segala hal, meskipun dalam keburukan. 

Hal ini bukan sekedar isapan jempol. Namun telah dipraktekkan secara massal dalam kehidupan bersosial. Sebagai contoh, karena merasa malu dibilang teman-temannya sebagai anak “Kuper” atau nggak gaul, seorang anak yang lugu dan pendiam dengan mudah mengikuti prilaku teman-temannya. Ia kemudian ikut-ikutan ngerokok, pacaran, tawuran, dll. 

Misal yang lain, di lingkup sekolah, seorang bintang kelas dengan terpaksa memberi contek temannya yang lain, hanya lantaran khawatir disebut tidak setia kawan, pelit, egois, dan lain sebagainya.

Pada intinya tidak sedikit orang yang telah keliru dalam memaknai sahabat sejati. Di waktu yang sama kita memang butuh sahabat sejati yang berkenan menerima kita apa adanya. 

Karena itu, bagimanapun sahabat karib itu posisinya lebih spesial dari sekedar sahabat biasa. Akan tetapi, ketika definisi sahabat karib tersebut seperti gambaran di atas, maka sesungguhnya bukan kebahagiaan yang akan didapat dari interaksi keduanya, tapi justru kehancuranlah yang tengah menanti. 

Mengapa? Alasannya, karena tidak ada kebaikan dalam hal keburukan. Kecurangan akan selalu berbuah keburukan sekalipun yang nampak di pelopak mata saat itu adalah keindahan yang nyata. Semua itu adalah semu, tak ubahnya sebuah fatamorgana yang tidak  akan pernah menampakkan wujud aslinya. 

“Man a’annaka ‘alaa syarri zhalamaka”,  Barng siapa yang membantumu dalam keburukan maka ia telah berbuat zhalim kepadamu. Demikianlah pribahasa Arab berucap, mengingatkan mereka yang merasa diuntungkan dengan pola persahabatan macam ini. 

Setali tiga uang, bagi mereka yang suka membantu temannya dalam keburukan, sejatinya mereka telah mendorong sahabatnya ke jurang kegagalan sedalam-dalamnya. Pertanyaanya, masih layakkah disebut sahabat sejati mereka yang melakukan tindakan ini?!.

Sahabat Sejati Itu!
Setelah kita “membedah” konsep persahabatan yang keliru dan yang saat ini sangat parah dipraktekkan di lapangan, tibalah saatnya kita mengurai “Siapakah sahabat sejati itu?”. 

Untuk menemukan jawabannya, penting kiranya kita memperhatikan konsep persahabatan yang tertuang dalam pribahasa penuh hikmah di bawah ini. 

“Kairu al-ashhabi man yadulluka ‘alaa khairi”, artinya Sebaik-baik teman itu adalah teman yang mengarahkan kepada kebaikan. 

Selanjutnya, ada juga qaul (perkataan) yang menyatakan, “Shadikuka man abkaaka laa man adh-hakaka” yang maknanya, Temanmu –yang sebenarnya- adalah yang membuatmu menangis –karena nasehat- bukan yang kerap membuatmu tertawa!. 

Jelas sudah bagi kita siapakah sahabat sejati itu. Mereka adalah yang senantiasa mengajak kita kepada kebaikan, bukan sekedar kesenangan. Ingat, bahwa kesenangan belum tentu mengarahkan kebaikan, sebagaimana kasus di atas. 

Sebaliknya, kebaikan pasti akan membawa kepada kebahagiaan dan kesenangan, meski yang terpampang di hadapan adalah kesukaran. Namun, yang pastinya hal tersebut akan menghasilkan apa yang diimpikan semua orang; kebahagiaan dan kesenangan. 

Karenanya, berbanggalah kita mendapati teman selalu mengingatkan ketika kita berjalan di  jalur yang keliru. Itu berarti ia telah menunjukkan kesetiakawanannya. Ia tidak ingin kita tersesat terlalu jauh dari jalur kebenaran, sehingga ia memperingatkan kita. 

Kita harus bersyukur dan berterimakasih kepadanya. Bukan sebaliknya, justru menghardik dan mengecapnya sebagai sebagai sosok yang cerewet, sok peduli, sok tahu. Begitu juga kita, ketika hendak menyandang gelar sebagai “sebaik-baik sahabat”, maka kitapun harus melakukan hal serupa. 

Ketika kita mendapti teman kita melakukan sesuatu yang kurang produktif, yang justru akan membahayakan masa depannya, maka wajib bagi kita mengingatkannya –dengan cara baik-baik tentunya-, sehingga ia tidak larut dalam kesesatan langkahnya. 

Ketika konsep ini kita terapkan dalam menjalin persahabatan, maka tidak lain yang akan dihasilkan kedepannya kecuali keberkahan dari ikatan persahabatan tersebut. 

Mengapa saya bilang berkah, karena dari persahabatan tersebut akan bermunculan kebaikan demi kebaikan. Sedangkan makna berkah sendiri, menurut para ulama adalah ‘Ziyadatu al-khairi’ (bertambahnya kebaikan). 

So, kalau sudah demikian, marilah kita rombak konsep persahabatan kita. yang dulunya keliru, menganggap teman sejati itu ialah yang se-ia sekata dalam segala hal tak terkecuali dalam keburukan, kini mengubahnya menjadi persahabatan yang senantiasa mengingatkan atau mengarahkan dalam kebaikan. 

Dengan demikian, mudah-mudahan keberkahan dan kebahagiaan dalam menjalin persahabatan akan kita rasakan. Semoga.


[ROBINSAH, artikel ini ditulis untuk www.kaltimtoday.com. Penulis adalah kontributor di sejumlah kanal transmisi untuk isu-isu sosial dan kegamaan. Ia juga aktif di Asosiasi Penulis Islam –API-. Sumber gambar ilustrasi: Newscientist]

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.