Budaya Nalar dan Energi Perubahan

INDONESIA sebenarnya memiliki energi yang besar untuk mewujudkan apa saja. Tetapi, karena tidak ada penataan yang komprehensif, energi yang digunakan tidak berdampak perubahan yang diharapkan. Padahal, penataan komprehensif itu sudah sangat mungkin untuk dilakukan. 

Kendala yang paling utama mengapa energi yang dikeluarkan tidak mengarah pada perubahan yang diharapkan, lebih pada “ketidakmauan” stakeholder negara untuk benar-benar mengoptimalkan potensi energi yang sangat luar biasa itu. Selain itu, juga disebabkan oleh cara pandang yang sempit, di mana harta dan kedudukan dipandang sebagai sebuah kemuliaan yang harus dimanfaatkan untuk memperkaya diri.

Akhirnya energi besar bangsa terpakai tanpa jelas arah dan tujuan. Eksplorasi minyak bumi, ternyata tidak menjamin ketersediaan BBM di beberapa daerah. Luasnya area pertanian, ternyata juga tidak menyelamatkan bangsa ini menjadi negeri importir. 

Sementara itu, APBN lebih banyak tersalurkan untuk biaya konsumtif dan mencicil utang. Jika ini dibiarkan terus-menerus, boleh jadi energi besar bangsa ini justru akan menenggelamkan kita semua. Maka dari itu kita harus melakukan sebuah perencaan komprehensif, sehingga bangsa ini dapat benar-benar mengoptimalkan energinya untuk terwujudnya sebuah perubahan. 

Budaya Nalar
Budaya nalar bangsa kita masih terbilang rendah. Hal ini bisa kita lihat dari program dan kebijakan pemerintah yang seringkali tumpang tindih, sektoral, dan tidak efisien dan efektif. Semua itu bukanlah akibat dari budaya yang sekejap, melainkan kultur yang telah berjalan sekian lama.

Saya kira tepat sekali apa yang dikemukakan Prof Dr Iwan Pranoto di  laman LKBN Antara beberapa waktu lalu, bahwa kebijakan pendidikan kita rendah daya nalarnya. Tidak masalah kalau pelajaran agama dogmatis. Itu wajar. Tapi, yang menjadi masalah kalau matematika juga diajarkan dogmatis. Demikian kata sang profesor yang juga matematikawan itu. 

Sama seperti yang pernah saya alami ketika sekolah mulai SD hingga SMA, dan mungkin sekarang juga masih dirasakan oleh adik-adik pelajar di Kalimantan Timur. Bagaimana para pelajar bisa meningkatkan etos belajarnya, jika belajar fisika, kimia, dan biologi, masih menggunakan metode ceramah, layaknya penyampaian sebuah nasehat. 

Sementara itu, pelajaran-pelajaran yang merangsang nalar analisis seperti sosiologi, sejarah, antropologi, sering diajarkan dengan cara yang sangat sederhana. Guru membaca beberapa paragraf, mendikte, murid-murid mencatat, kemudian menjelaskan sekenanya. 

Nah, di sini pendidikan di negeri ini mengalami keterlambatan dalam membangun budaya nalar pelajar. Adapun pelajaran agama –dalam hal ini Islam- lebih dipenuhi dengan sajian tentang fiqh, hafalan, dan wawasan semata. Akibatnya pelajaran agama menjadi pelajaran paling mudah untuk dihafal, namun sulit mewujud dalam tindakan. Tetapi, mudah-mudahan apa yang pernah saya alami itu, tidak terulang di masa adik-adik pelajar saat ini dan seterusnya. 

Sebenarnya pelajaran agama akan sangat menarik dan merangsang minat pelajar dalam memahami iman, jika pelajaran agama (Islam) mengetengahkan hal-hal yang sifatnya idealis-historis yang menjadikan umat Islam tergerak melakukan banyak hal, yang semua itu justru karena mereka memahami Al-Qur’an, sehingga muncul berbagai macam prestasi spektakuler yang tidak mampu diulangi manusia abad modern ini. 

Islam sebagai peradaban tidak sedikitpun memberikan celah pada kekosongan intelektual. Semua wilayah dalam ajaran Islam dapat dibuktikan secara ilmiah. Itulah mengapa, Islam bukan ajaran dogma. Inilah alasan paling kuat mengapa Islam mampu menguasai peradaban dunia selama lebih dari 7 abad.

Sejarah telah memberi bukti, bahwa dogmatis itu tidak akan pernah mengantarkan manusia pada terbangunnya budaya nalar. Sebagaimana tidak pernah bangkitnya Eropa dalam kegelapan, ketika intelektualisme dimonopoli oleh pihak yang otoriter dan dogmatis dalam pendidikan masyarakat.

Dalam konteks Indonesia, Islam sebagai ajaran agama sama sekali tidak mengenal konsep dan metode dogmatis. Islam adalah agama sekaligus ilmu dan peradaban. Hal itu bisa dibuktikan dengan banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an yang menantang optimalisasi akal pikiran manusia untuk memahami ayat-ayat Allah SWT. Dan, semakin jelas tak terbantahkan jika kita menelusuri lembaran sejarah peradaban Islam dan peradaban ilmu di dunia.

Pendidikan Nalar
Terus terang saya sangat prihatin dengan kondisi remaja dan pelajar pada umumnya. Mereka seolah-olah berada pada dunia lain, meskipun setiap hari kita bisa temui mereka di sekolah dengan seragam sekolah. Antara sekolah, pelajaran, antusiasme, dengan pikiran dan perilaku pelajar, secara umum sangat bertentangan.

Umumnya pelajar hari ini lebih nyaman bicara hal-hal ringan dan rekreatif. Sangat jarang kita bisa menemukan pelajar yang nyaman dan hobi mendiskusikan hal-hal penting, minimal tentang pelajaran mereka di sekolah. Semua itu terjadi tidak lain karena materi pelajaran di sekolah umumnya bersifat kognitif (hafalan) belaka. Hal inilah yang mesti diperhatikan secara serius oleh seluruh elemen bangsa dan negara Indonesia.

Menarik apa yang digagas oleh Elfindri, Guru Besar Ekonomi SDM Universitas Andalas. Ia mengatakan bahwa semakin berat sains dasar semakin terbiasa anak bangsa melalui proses pematangan berpikir. Jadi, sejak kecil anak-anak Indonesia sudah harus dilatih untuk berpikir, sehingga ketika dewasa, anak-anak Indonesia memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah dengan benar. 

Jika ini tidak dilakukan maka anak akan rendah daya nalarnya. Logikanya sederhana, pelajar yang suka tawuran adalah pelajar yang rendah daya nalarnya. Dalam konteks yang lain, pejabat yang korup adalah pejabat yang rendah daya nalarnya, dan seterusnya. 

Dengan demikian, pendidikan nalar menjadi suatu keniscayaan. Islam sebagai agama sekaligus peradaban tidak memiliki ruang kajian, melainkan nalar menjadi pemain utama di dalamnya. Sejauh nalar tidak menjadi playmaker dalam diri seseorang, maka kekuatan iman akan terus menerus melemah, akhirnya energi yang semestinya menghasilkan perkara positif malah sebaliknya.

Nalar, Iman dan Perubahan
Dalam Islam iman harus didasarkan pada ilmu (QS. 47 : 19). Dengan kata lain, nalar adalah syarat untuk kuatnya iman. Jadi, orang yang beriman pada hakikatnya adalah orang yang kuat nalarnya. Jika nalar dan iman bersatu dalam intelektual, jiwa, dan akhlak manusia, maka perubahan menjadi suatu keniscayaan.

Apabila elemen bangsa kita memenuhi kriteria nalar, iman dan perubahan, maka banyaknya harta tidak akan membuat tenggelam dalam kemewahan kemudian hilang dari peredaran. Sebaliknya, sulitnya ujian kehidupan tidak akan membuat bangsa ini mati inovasi dan kreasi.

Penyebab berbagai kerusakan bangsa hari ini adalah karena lemahnya nalar, keroposnya iman, dan tidak adanya daya perubahan, sehingga bangsa ini bertubi-tubi jatuh dalam kegagalan demi kegagalan. Masalah inilah yang utama harus segera dituntaskan oleh seluruh elemen bangsa. 

Tanpa itu, maka energi perubahan tidak akan pernah terwujud sesuai harapan. Mari bangun nalar, iman agar tercipta energi perubahan yang menegakkan keadilan dan kebenaran.[]


[IMAM NAWAWI, penulis adalah kolumnis www.kaltimtoday.com dan perintis Kelompok Studi Islam (KSI) Loa Kulu, serta mantan perintis dan ketua Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII), Kutai Kartanegara, Kaltim]


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel