News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Mau Sukses Selamat? Jangan Keluar Jalur!

Mau Sukses Selamat? Jangan Keluar Jalur!


KALTIMTODAY -- Pada awalnya, laki-laki itu tergolong orang yang taat sekali kepada Tuhan dan Nabi-Nya. Dia ahli ibadah, gemar melakukan sholat berjamaah. 

Namun, karena himpitan ekonomi, dan atas desakan istrinya, lelaki berkeluarga ini meminta kepada Nabi Muhammad agar mendoakan dirinya supaya diberi kekayaan.  

Nabi pun mengingatkan agar dia tetap bersabar, dan terus konsisten dalam melakukan kebaikan. Namun, apa mau dikata, karena terus mendesak, Nabi pun luluh seraya mendoakannya. 

Lambat laun, sang laki-laki ini pun menjadi kaya-raya bergelimang harta. Hewan ternaknya bahkan hampir memenuhi sebuah bukit bernama Uhud di negeri jazirah ketika itu. 

Namun sayangnya, di tengah melimpah-ruahnya harta yang dia miliki, dia membelok dari jalan yang benar. Dia mulai enggan menjalankan ibadah pada Tuhan. Tidak itu saja, ketika Nabi memerintahkannya mengeluarkan sedekah kepada orang yang tak berpunya, dia enggan melakukannya. 

Demikianlah kisah pilu lelaki bernama Tsa’labah. Karena keliru dalam memilih jalan, akhirnya dia menyesal atas perilakunya sendiri. Bahkan, ketika dia sudah mau mengeluarkan zakatnya, Nabi dan para khalifah kemudian terang-terangan enggan menerimanya. Tsa’labah kemudian disebut Nabi sebagai orang yang merugi.

Di lain pihak, ada sosok Abdurrahman bin ‘Auf, yang merupakan saudagar kaya-raya, namun tetap berjalan di koridor yang telah ditetapkan-Nya. Buahnya terbukti, kesuksesan di dunia dia peroleh, dan kebahagiaan di akhirat, pun akan dia rengkuh.  

Dari dua kisah nyata tentang anak manusia yang berlawanan karakter di atas, bisa kita simpulkan bahwa untuk menggapai kesuksesan, maka konsisten, atau dalam bahasa agamanya disebut istiqomah, menjadi modal penting yang akan menghantarkan seseorang hingga ke garis finish, yaitu garis kesuksesan. 

Artinya jelas, bahwa sedikit saja kita melenceng dari koridor yang benar, dan tidak berusaha segera kembali ke posisi semula, maka kegagalan akan selalu membayangi kita.   

“Ihdinaa al-Shiraatha al-Mustaqiim” artinya, tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus. Ini adalah doa meminta kemampuan untuk konsisten di jalan kebenaran, agar kita terus berjalan di jalur yang telah ditentukan-Nya melalui wejangan utusan-Nya. Setiap bilangan rakaat dalam sholat, kita terus mengucapkan pemohonan ini.

Kisah pilu Tsa’labah tidak lain karena dia melangkahkan dirinya pada jalur yang salah. Dia kemudian tidak berkenan mentaati sistem yang ada; mentaati Tuhan dan Nabi-Nya. Ia terbuai dengan apa yang ia peroleh, sehingga tersesat di pertengahan jalan. Akhirnya jadilah dia seorang yang terggelincir, sebelum sampai garis akhir. 

Sebaliknya, karena tetap konsisten mengikuti jejak yang telah digariskan oleh Tuhan, Abdurrahman bin ‘Auf pun tercatat dalam tinta emas sejarah mampu memungkasi perjalanannya dengan hasil yang gilang gemilang. 

Kini, pertanyaannya, hendak berada di jalur yang manakah kita? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Yang pasti, bahwa, untuk menggapai kesuksesan, kita harus terus berada di jalur kesuksesan itu sendiri.  Kondisi apa pun yang menerpa kita, kita harus tetap berada di posisi tersebut. 

Hal tersebut perlu, karena rumus dalam pepatah Arab menegaskannya, "Man Saaro ‘alaa al-darbi Washola", bahwa barang siapa yang berjalan pada jalannya pasti akan sampai. Ini pasti, berlaku bagi siapa saja yang merindukan kesuksesan. Lurus dan fokuslah!


[Robinsah, artikel ini ditulis untuk www.kaltimtoday.com. Penulis adalah kontributor di sejumlah kanal transmisi untuk isu-isu sosial dan kegamaan. Ia juga aktif di Asosiasi Penulis Islam –API-. Sumber gambar ilustrasi: 2012Pro]

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.