Pintar Perlu, Berbudi Pekerti Lebih Penting!


KALTIMTODAY – Di Indonesia, untuk sekedar mencari orang pintar sangatlah mudah. Buktinya, hampir setiap tahun para pelajar Indonesia mampu mengharumkan nama bangsa dalam kompetisi ilmu pengetahuan, baik di kancah nasional ataupun internasional. 

Dan sejatinya, menjadi orang pintar itu relatif ringan. Kuncinya pun sederhana; belajar dan berlatih. Siapa saja yang berusaha melakukan hal ini dengan serius, Insya' Allah, kepintaran akan dia peroleh. Mudah, bukan?  

Akan tetapi, apalah gunanya kepintaran dan kecerdasan tanpa disertai budi pekerti yang baik. Dan, tahukah kita, pada dimensi inilah sebenarnya Indonesia mengalami krisis. Banyak anak bangsa yang pintar di negeri ini, namun tidak memiliki moralitas agung nan luhur.  

Beberapa fenomena bisa menjadi cermin bagi kita atas kondisi ini. Lihatlah wakil rakyat, ahli hukum, atau para pemimpin kita, yang tengah berada di pesakitan akibat kasus korupsi yang mereka lakukan.

Semua kita sepakat, bahwa mereka adalah orang-orang pintar. Orang-orang cerdas berderet titel akademis. Tapi tengoklah pada dimensi mereka dalam mengemban amanah, sangat bobrok!. 

Orang yang beradab, tentu tidak akan khianat, karena dia tahu bahwa menghianati amanah adalah merupakan salah satu sifat yang tak terpuji. Namun, karena mengalami degradasi moral, amanah pun dianggap peluang besar untuk mengambil keuntungan yang segede-gedenya.

Pada akhirnya, korupsi pun dianggap rejeki. Persis dengan adagium dalam lirik lagu di Film ‘Kiamat Sudah Dekat’ yang sangat digemari pemirsa TV, beberapa tahun silam.

Kerusakan di muka bumi ini akan merajalela, manakala kebaikan hati telah sirna dalam diri manusia dan menjelma menjadi prilaku kanibalisme. Kesenjangan hidup, kriminalitas, akan terjadi di mana-mana ketika moral telah dikesampingkan. 

Maka, melihat begitu pentingnya peran moralitas bagi keberlangsungan hidup manusia, tokoh besar revolusi dunia Nabi Muhammad melalui sabdanya menerangkan, bahwa tujuan utama diutusnya dia di muka bumi ini adalah tidak lain untuk menyempurnakan akhlak manusia.   

Sekali pun demikian, bukan berarti kita menyampingkan pengetahuan. Tidak sama sekali. Sebab, tanpa ilmu manusia tidak ubahnya binatang, yang tidak tahu jelas akan arah kehidupannya. Laulaa ‘ilmi lakaana al-naasu ka al-bahaaimi”, Sekiranya bukan karena ilmu niscaya manusia bagaikan binatang. 

Itu artinya, kita pun harus memiliki ilmu. Namun, ilmu yang kita punya akan bias, bahkan justru membahayakan diri si pemilik ilmu itu, ketika ilmu yang dia kuasai tidak disepadankan dengan akhlak yang mulia. 

Ilmu yang disertai akhlak akan menjadi pelita yang menerangi pemiliknya ke arah kebenaran. Sebaliknya, ilmu tanpa akhlak akan berdampak buruk bagi si-pemilik, atau pun orang lain. Kerusakan yang terjadi di negeri kita, bahkan dunia saat ini, adalah efek dari banyaknya para ilmuan yang tidak memiliki akhlak yang mulia.

So, memiliki ilmu yang melimpah, itu perlu guna bekal hidup kita. Dan, memiliki akhlak mulia jauh lebih penting untuk menyelamatkan kita dari segala macam keburukkan, baik itu yang bersumber dari diri sendiri, atau pun yang berasal dari luar. Pribahasa Arab yang menyatakan, “Al-Sharofu bi al-Adabi, Kemuliaan itu diperoleh dengan budi pekerti.** 



[Robinsah, artikel ini ditulis untuk www.kaltimtoday.com. Penulis adalah kontributor di sejumlah kanal transmisi untuk isu-isu sosial dan kegamaan. Ia juga aktif di Asosiasi Penulis Islam –API-. Sumber gambar ilustrasi: Newscientist)


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel