Rakyat Kaltim Harus Bersatu Rebut Blok Mahakam


KALTIMTODAY -- Gebrakan untuk menggalang kekuatan bersama rakyat Kaltim dalam tuntutan hak kelola blok migas Mahakam dilancarkan Aliansi Rakyat Kalimantan Timur untuk Blok Mahakam.

Sebagai institusi independen, aliansi ini menilai sekarang merupakan waktu yang tepat bagi daerah untuk secara bersama memperjuangkan hak yang lebih baik terkait pengelolaan blok migas Mahakam melalui upaya persuasive dan progressive, menyusul akan berakhirnya kontrak Total E&P Indonesie (Prancis) dan Inpex Corporation (Jepang), 2017 mendatang.

"Besarnya cadangan migas yang tersisa di blok Mahakam masih sangat mengiurkan. Karena itu, Total dan Inpex sangat berminat mengajukan perpanjangan kontrak untuk penguasaan blok Mahakam pasca 2017. Pertanyaannya, sampai kapan kita harus puas hanya menjadi penonton dan membiarkan kekayaan sumber daya alam kita kembali dikuasai asing," kata Ketua Aliansi Rakyat Kalimantan Timur untuk Blok Mahakam, Dr Yusuf Kuleh, belum lama ini.

Sinyalemen perpanjangan kontrak dua perusahaan asing itu semakin menguat setelah beberapa kali permohonan perpanjangan kontrak diajukan oleh mereka. Juli 2011 lalu, Perdana Menteri Prancis Francois Fillon telah meminta perpanjangan kontrak blok migas Mahakam saat berkunjung ke Jakarta.

Permohonan ini kemudian dilanjutkan oleh Menteri Perda¬ga¬ngan Luar Negeri Pran¬cis Ni-cole Bricq saat kunjungan Menteri ESDM Jero Wacik ke Paris, 23 Juli 2012 lalu. Bukan hanya itu, CEO Inpex Toshiaki Kitamura saat bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Boediono, 14 September 2012 pun mengutarakan hasrat yang sama tentang blok Mahakam ini.

"Seluruh elemen rakyat Kaltim harus berada dalam semangat yang sama untuk melakukan tuntutan ini. Rakyat Kaltim harus ikut menentukan ke arah mana kesejahteraan rakyat akan diarahkan dari tetesan-tetesan migas blok Mahakam. Ini perjuangan konstitusional rakyat Kaltim dan rakyat Indonesia, karena kami tidak menuntut penguasaan seluruhnya," tegas Yusuf Kuleh.

Sementara Direktur Pusat Kajian Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah Aji Sofyan Efendi menjelaskan, sesuai amanat konstitusi, maka pengelolaan blok Mahakam harus diserahkan kepada pemerintah (Pertamina) bersama Pemprov Kaltim dan Pemkab Kutai Kartanegara, setelah kontrak berakhir 2017.

Aji menguraikan, blok Mahakam merupakan salah satu ladang gas terbesar di Indonesia dengan rata-rata produksi sekitar 2.200 juta kaki kubik per hari. Cadangan blok ini sekitar 27 TCF. Dimana sejak 1970 hingga 2011, sekitar 50% (13,5 tcf) cadangan telah dieksploitasi, dengan pendapatan kotor sekitar US$ 100 miliar.

"Cadangan tersisa saat ini sekitar 12,5 TCF, dengan harga gas yang terus naik, blok Mahakam berpotensi menghasilkan pendapatan kotor US$ 187 miliar atau bisa diasumsikan mencapai Rp1.700 triliun. Ini angka yang sangat besar dan tentu saja akan diperebutkan banyak investor," jelas Aji Sofyan.

Blok Mahakam yang berada di wilayah Kalimantan Timur sudah seharusnya memberi sumbangan yang nyata bagi kesejahteraan rakyat Kaltim di masa-masa mendatang, sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.

Dukungan juga datang dari Wakil Ketua DPRD Kaltim Yahya Anja. Menurutnya, rakyat Kaltim harus bersatu dan berada dalam semangat perjuangan yang sama bersama pemerintah untuk menuntut pengelolaan blok Mahakam.

"Pemerintah, DPRD dan rakyat harus bersatu. Mari kita bersama memperjuangkan hak yang lebih baik untuk anak cucu kita ke depan. Jangan ada saling tuding atau saling lempar masalah, sekali lagi mari kita bersatu untuk perjuangan mulia bagi anak cucu kita ini," kata Yahya Anja.

Namun dia mengingatkan, agar sejak awal hingga akhir perjuangan terus terbangun kebersamaan, khususnya antara eksekutif dan legeslatif. Pasalnya menurut dia, jika eksekutif dan legeslatif tidak kompak, maka rakyat justru akan menemui kebingungan dan ini tidak akan menguntungkan bagi daerah.

Nada lebih keras disampaikan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mulawarman, Surahman. Blok Mahakam menurutnya bukan hanya milik Pertamina, tetapi juga hak rakyat Kaltim.

"Blok Mahakam bukan hanya untuk Pertamina. Rakyat Kaltim harus mendapat manfaat lebih besar dari blok Mahakam ini, bukan hanya participating interest," seru Surahman.

Foto : Potensi Blok Mahakam masih menggiurkan.(ist)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel