Rayuan dan Kalap Hati Si Tuan


KALTIMTODAY -- Entah mengapa, Tuan menempatkan dia di sini, bersamaku. Aku menatapnya. Ternyata dia pun tengah menatapku. Aku tidak menyukainya sejak awal. 

Wajahnya menyeramkan penuh gurat kesombongan. Kulitnya hitam, kusam, bersisik, dan menggelembur. Bau badannya menyengat, menjijikkan. Aku tidak mau berdiri terlalu dekat dengannya. Perutku mual. Matanya besar dan merah berkilat-kilat. Nanar. Jahat. 

Aku yakin, sikap sinisnya kepadaku menunjukkan  dia pun sama sekali tidak menyukai aku. Aku segera mengalihkan pandangan. Ingin rasanya kuusir dia dari kamar ini, tapi aku tidak berani. Aku takut Tuan marah sebab dia adalah tamu Tuan.

Semakin hari, tingkah polahnya semakin membuatku tidak suka. Dia mulai menguasai kamar ini. Dia tidur di sembarang tempat, tanpa peduli itu tempatnya ataukah bukan. Beberapa kali aku terpaksa tidur di lantai karena dia dengan sengaja menempati ranjangku. Tentu saja aku kesal, tapi dia tak berhati. Sama sekali tak peduli. 

Pun hari Jum’at yang lalu. Saat tiba waktu sholat Jum’at, aku ingatkan Tuan untuk segera menuju masjid. Tapi apa yang dia katakan?. 

Dengan wajah seramnya yang dibuat berseri-seri, dan suara seraknya yang membuat telingaku sakit, dia berbisik pada Tuan,”Tuan baru saja pulang rapat. Lelah, bukan? Waktu Jum’atan masih setengah jam lagi, lebih baik Tuan berbaring sebentar untuk istirahat….”. Aku terperangah mendengarnya. 

“Jangan Tuan, pergilah ke masjid dulu. Waktu sholat Jum’at tidak lama lagi. Tuan bisa melewatkannya jika ketiduran,” aku berusaha mengingatkan Tuan.

Tuan tampak diam sejenak. Mungkin dia sedang berpikir. Sesudah itu Tuan menuju sofa di ruang tamu dan merebahkan diri di sana. Ternyata Tuan lebih menuruti kata-katanya daripada ucapanku. Aku sedih. 

Padahal, dulu Tuan sangat peduli dengan apa yang kukatakan. Tuan pun akhirnya tertidur di sofa itu dan bangun ketika matahari hampir tenggelam. Dan dia, menatapku dengan sinis penuh kemenangan.

Lalu dia bertingkah lagi. Dia menurunkan lukisan Ka’bah berukuran besar yang tergantung di dinding kamar. Juga beberapa lukisan kaligrafi kesukaan Tuan. Aku protes. Aku tidak terima.

“Hai, apa yang kau lakukan?” tanyaku.
“Menggantinya dengan gambar-gambar ini. Lebih bagus,” jawabnya singkat. Sekejap kemudian dia menggantungkan gambar-gambar wanita setengah telanjang yang menggoda.

“Turunkan gambar-gambar itu dan pasang kembali lukisan Tuan!” kataku.
“Tidak mau!” jawabnya membentakku.
“Tuan tidak akan menyukai gambar-gambarmu itu!” suaraku tak kalah keras. 
“Dasar bodoh. Tuan pasti menyukainya.” Jawabnya acuh.

Aku geram. Segera aku raih lukisan binal itu lalu aku turunkan dengan paksa. Dia menahanku dan berusaha merebut lukisan itu dari tanganku. Dan… pranggg! Kaca pun pecah berantakan. Lukisan itu akhirnya terjatuh. Tuan mendengar kegaduhan.

“Sudahlah, aku pusing. Kalian jangan berisik!” bentak Tuan. Marah.
“Tuan, dia mengganti lukisan Ka’bah dan kaligrafi Tuan dengan gambar ini,” kataku seraya menunjukkan lukisan tercela itu.

“Tuan, aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya ingin memberi sedikit variasi di dinding kamar ini. Lukisan lama Tuan sudah buram. Dinding kamar ini akan  terlihat lebih segar dengan lukisan baru,” rayunya dengan muka manis penuh kepalsuan.

“Tidak,” jawab Tuan. Aku lega mendengarnya. 
“Tuan, bagaimana jika gambar-gambarku bersanding dengan lukisan lama Tuan?“ rupanya dia belum putus asa merayu Tuan.
“Tidak!” jawab Tuan.
“Sebentar saja Tuan, hanya melihat bukanlah maksiat,” lanjutnya. Kali ini Tuan tampak ragu. 

“Ya sudah, pasang saja lukisanmu. Tapi sebentar saja, ya,” jawab Tuan akhirnya. Kembali aku bersedih. Lagi-lagi Tuan memenangkan dia. Lagi-lagi pula, dia sinis tersenyum penuh kemenangan kepadaku.

Aku semakin tidak menyukainya. Aku benci. Dia selalu berbisik pada  Tuan dengan bujuk rayu tak bertepi. Rasanya ingin aku mengusir dia jauh-jauh dari kamar ini. 

Hari-hari berikutnya semakin menyedihkan. Tuan lebih banyak bercakap dengannya daripada denganku. Saat datang ke kamar ini, selalu dia yang Tuan kunjungi, bukannya aku. Tuan tidak lagi bertanya aku berada di mana saat aku tidak ada. Aku memang mulai sering keluar kamar sebab aku tidak betah berlama-lama di dalamnya. 

Nafasku sesak karena kamar ini menjadi pengap oleh aroma tubuhnya yang busuk. Mataku sakit melihat gambar-gambar maksiat yang makin banyak menempel di dinding. Telingaku sakit mendengar alunan musik dan tari-tarian wanita-wanita itu merayu Tuan. Aku lemah. Tapi Tuan sama sekali tidak menengokku. 

Dia mengajak Tuan tenggelam dalam dunia barunya yang kelam. Dia menutup mata Tuan dengan lembaran-lembaran rupiah yang menggiurkan, juga memenuhi pikiran Tuan dengan kursi besar yang empuk dengan sandaran menjulang tinggi tanpa aku bisa melihat dimana ujungnya. Tuan ingin sekali duduk di kursi itu. Setiap saat hanya itu yang Tuan pikirkan. 


**********

MALAM itu Tuan berpesta di rumah salah seorang temannya. Usai pesta, Tuan tampak kelelahan.  Seorang wanita yang ikut berpesta datang mendekati Tuan. 

Dia berwajah cantik, berkulit putih seperti pualam. Pakaiannya gemerlap dengan belahan dada rendah yang mengundang syahwat. Sementara kaki jenjangnya dia biarkan terbuka tanpa sehelai benangpun hingga hampir mencapai paha.

“Tuan Mahmud, Anda tampak sangat lelah. Bagaimana jika saya pijat kaki Anda?” tanya tamu itu setengah berbisik.

“Tidak, tidak, terima kasih,” jawab Tuan tergeragap.
“Tuan jangan kuatir. Saya pintar lho memijat. Mari, kita ke kamar, Tuan.” Rayu wanita itu dengan senyum sangat menggoda. Dada Tuan berdegup kencang. Wajah wanita itu memang jauh lebih menarik dari Bu Halimah, istri Tuan yang mulai keriput di sana-sini.

“Bagus Tuan, jangan diterima tawaran itu. Tuan harus segera megusir wanita itu,” bisikku pada Tuan.

“Terima saja Tuan. Tuan sedang lelah, butuh seseorang untuk melepas penat. Ayolah Tuan. Apa salahnya menerima kebaikan teman?” tiba-tiba dia kembali muncul di hadapan Tuan.

“Jangan dengarkan dia Tuan. Kali ini dengarkan saya! Ingatlah istri Tuan!,” kataku pada Tuan dengan suara serak menahan sakit yang juga tidak kunjung sembuh.

“Istri Tuan tidak tahu, terima saja Tuan. Sekali-sekali bersenang-senang, tidak ada salahnya, bukan?,” segera dia menimpali.

“Dia salah Tuan. Tuhan tahu apa pun yang Tuan lakukan. Tuan berdosa jika bermaksiat,” balasku tak mau kalah.

“Halah, jangan terlalu dibikin berat Tuan. Tuhan Maha Pengampun, besok Tuan bisa bertaubat,” rayunya sekali lagi.

Tuan tampak bingung. Sementara tangan wanita itu mulai bergerak pelan menyentuh jemari Tuan.

“Tuan, segera pergilah. Tuan seorang Kyai, bukan? Tidakkah Tuan malu bermaksiat seperti ini?!” aku terpaksa membentak Tuan.

“Tuan, Kyai juga manusia. Wajar jika bersalah. Mana ada manusia yang sempurna? Bahkan Nabi pun pernah berbuat salah. Iya, kan?” dia kembali menimpali.

Tiba-tiba Tuan berdiri dari tempatnya duduk. Wanita itu tersenyum puas. Dia lingkarkan tangannya di punggung Tuan dan menuntun Tuan menuju sebuah kamar di lantai atas. Tuan tidak menolak.

“Tuan, ingatlah Tuhan, ingatlah istri Tuan. Ingat dosa, istighfar Tuan!,” Setengah berteriak aku berusaha menahan Tuan.

“Tuan sudah sholat beribu kali, tak ada salahnya bersenang-senang sekali saja,” bisiknya sembari turut serta mengantar Tuan ke lantai atas. 

Tuan, wanita cantik, dan dia masuk ke kamar itu. Aku tidak turut. Pantang bagiku melihat maksiat di depan mata. Aku berada di luar kamar. Aku gedor-gedor pintu dan memanggil Tuan agar keluar. 

“Tuan … keluarlah! Tuan … keluarlah …!” aku terus berteriak. 
Tuan tidak menjawab.


[Nimas Kinanthi, penulis adalah blog writer www.kaltimtoday.com. Peminat bahasa dan sastra ini kini sedang proses menyelesaikan buku perdananya. Ia juga aktif di forum Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN). Sumber ilustrasi gambar: Wikia]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel