News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Reformasi Pola Pikir Harga Mati!

Reformasi Pola Pikir Harga Mati!

APA yang membuat bangsa kita masih jalan di tempat alias stagnan hingga saat ini, bahkan ada yang mengatakan terus mengalami degradasi, meskipun reformasi hampir memasuki dua windu lamanya?

Pertumbuhan pasar teknologi informasi dan komunikasi boleh dikatakan belum berpengaruh signifikan bagi peningkatan perbaikan kondisi bangsa dan negara. Justru sebaliknya, ketersediaan teknologi dan informasi seringkali menimbulkan masalah baru daripada solusi baru. 

Lihat saja, media sering memberitakan remaja putri hilang dari rumah setelah berkenalan dengan teman baru di jejaring sosial. Sampai pada berita orang tertipu karena begitu percaya dengan teman dunia mayanya, bahkan ada yang terjebak hanya karena dibuai janji melalui pesan singkat (sms).

Semakin ke sini kita merasakan internet juga lebih cenderung membahayakan daripada membanggakan, dominan melenakan daripada memberdayakan. 

Pasalnya, mindset bangsa kita relatif masih belum mengalami perubahan berarti. Bahwa teknologi yang digunakan bangsa Indonesia canggih, itu benar, tetapi apakah pola pikirnya canggih, ini masih belum bisa dibuktikan. Parahnya, hal semacam ini juga terjadi dalam pemerintahan, yang notabene bertanggungjawab penuh terhadap kemaslahatan rakyat.

Saya benar-benar terkejut ketika membaca harian Kompas (6/12) pada rubrik Ekonomi halaman 17. Dalam acara Kompas 100 CEO Forum, pekan lalu, di Jakarta, dilaporkan bawa Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal M Chatib Basri mengeluhkan kinerja aparatur di instansinya.

Masak telepon saja nggak ada yang jawab. Bagaimana kalau ada investor dari luar negeri mau meminta informasi investasi di Indonesia. E-mail juga nggak dibalas. Bagaimana kita mau bicara investasi kalau aparaturnya seperti itu,” begitu tegas Chatib seperti dikutip media tersebut.

Saya juga punya pengalaman yang kurang lebih sama seperti yang disampaikan M Chatib Basri itu, tetapi tidak dengan aparatur negara. Melainkan sebuah perusahaan swasta, tepatnya ketika saya mengirim naskah buku via e-mail ke sebuah perusahaan penerbitan. Ada penerbit yang tidak menjawab sama sekali e-mail saya, ada yang menjawab setelah sekian lama dikirim. Lucunya, e-mail balasan mereka ada dua dengan isi yang berbeda.

Memiliki pengalaman seperti itu saja sudah cukup mengecewakan. Bagaimana jika kita berurusan dengan aparatur pemerintah yang memang sumber pendapatannya berasal dari uang rakyat?

Sebagai unsur pelaksana penyelenggara pemerintahan negara, aparatur negara memiliki peran sentral dan strategis terhadap pertumbuhan ekonomi. Dan, data saat ini mencatat bahwa jumlah aparatur negara mencapai angka 4 juta orang, sementara jumpah penduduk sekitar 235 juta jiwa. 

Dengan kuantitas begitu besar, masih menurut Kompas, seharusnya kontribusi mereka bisa lebih optimal. Tetapi, sayang disayang, aspek kuantitas itu sama sekali tidak berbanding lurus dengan aspek kualitas. 

Tidak heran jika eksistensi aparatur negara lebih sering dianggap sebagai beban ketimbang aset penting. Inilah satu-satunya alasan kuat, mengapa kemudian pemerintah mengeluarkan kebijakan moratorium penerimaan PNS. Bahkan lebih jauh, aparatur negara lebih bisa dilihat sebagai penghambat pertumbuhan ekonomi daripada penyelamat ekonomi.

Padahal, pemerintah telah menggelontorkan program reformasi berupa peningkatan kesejahteraan PNS dengan peningkatan gaji dan pemberian remunerasi. Tetapi, di sinilah kekeliruan pemerintah dalam menjalankan reformasi. Reformasi masih dipahami sebagai perkara teknis, bukan perkara pola pikir. 

Jika ini terus terjadi, maka tidak menutup kemungkinan problem bangsa dan negara ini akan semakin runyam, yang mau tidak mau mengharuskan negeri ini kembali mundur ke belakang. Bukannya mati satu tumbuh seribu, tetapi malah mati satu, mati semuanya.

Mengubah Diri
Many people want to change the world. But, no body want to change him self. Demikian guru saya sering mengingatkan untuk fokus membangun diri. Meneguhkan iman, menguatkan ilmu, dan mengokohkan perbuatan penuh keteladanan.

Seberapa pun gaji PNS mau dinaikkan, gaji polisi ditingkatkan lagi, dan gaji pejabat diangkat terus, sejauh reformasi pola pikir tidak terjadi, maka kemajuan itu hanyalah angan-angan. 

Karena, dengan hanya pemberian fasilitas materi dengan tidak diimbangi pencerdasan akal dan hati, manusia akan cenderung stagnan, tidak kreatif, inovatif, dan produktif. Sebab, orang yang kreatif, inovatif, dan produktif, adalah orang yang telah berkorban, bukan telah mendapatkan.

Jika demikian maka tidak ada cara terbaik untuk mewujudkan reformasi yang sejati, melainkan dengan mereformasi diri sendiri dengan mengedepankan sikap rela berkorban untuk bangsa dan negara, siap menjadi panutan atau teladan, bahkan rela mati untuk kemajuan bangsa dan negara. Mental seperti itulah yang dimiliki oleh para pahlawan bangsa, sehingga bangsa ini bisa merdeka.

Kita bisa bayangkan, sekiranya 4 juta orang yang mengemban amanah sebagai aparatur negara memiliki pola pikir seperti itu, maka Indonesia akan menjadi negara maju bahkan adidaya. Tetapi, 4 juta orang itu juga tidak mungkin melakukan reformasi pola pikir, jika pucuk pimpinannya miskin teladan, lemah edukasi, dan hanya mementingkan diri sendiri. 

Sumber Petaka
Dengan demikian maka reformasi pola pikir tidak bisa ditunda-tunda apalagi disepelekan. Hal ini justru harus menjadi prioritas pembangunan bangsa dan negara ke depan. 

Tapi jika tidak, maka sebenarnya yang menghambat perjalanan bangsa dan negara ini adalah diri kita sendiri. Oleh karena itu, reformasi pola pikir ini harus segera diwujudkan.

Kita tidak boleh mengkhianati para pahlawan negara yang telah berhasil mengusir Belanda dari tanah air. Kita hari ini harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai kemerdekaan yang diperoleh dengan darah dan nyawa, kita tebus dengan mental materialis-hedonis yang menjerumuskan kita pada perselisihan dan perpecahan, sehingga Indonesia ini hanya nama negara, rakyatnya tetap menjadi budak bangsa asing.

Menarik apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim:

“Jika Allah menghendaki kelestarian atau kemakmuran suatu kaum (negara), maka Allah akan menganugerahkan kepada mereka kesederhanaan dan kesucian. Dan jika Allah menghendaki kehancuran suatu kaum (negara), maka Allah akan membukakan bagi mereka pintu pengkhianatan”. 

Jadi, reformasi pola pikir adalah harga mati. Gagal mereformasi pola pikir sama dengan mengundang petaka luar biasa. 

Ingat, kekerdilan pola pikir akan menjadikan manusia tidak profesional, tidak manusiawi, bahkan tidak beradab. Dan, apabila itu terjadi, maka reformasi yang ada hakikatnya adalah bunuh diri!.*

[IMAM NAWAWI, penulis adalah kolumnis www.kaltimtoday.com dan perintis Kelompok Studi Islam (KSI) Loa Kulu, serta mantan perintis dan ketua Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII), Kutai Kartanegara, Kaltim]

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.