News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Sekarang, Ada Arisan Seks Pelajar!

Sekarang, Ada Arisan Seks Pelajar!


KABAR buruk kembali menyapa bangsa Indonesia. Dalam pekan ini, media ramai memberitakan perihal pelajar di Situbondo, Jawa Timur. Bukan prestasi mereka yang disorot, melainkan tindakan yang sudah diluar batas kewajaran. 

Bagaimana tidak, pelajar yang semestinya kerja kelompok untuk meningkatkan kecerdasan dengan berlatih melakukan berbagai eksperimen mata pelajaran, justru bekerjasama membentuk kelompok arisan, yang ditujukan untuk bisa “membeli” PSK alias Pekerja Seks Komersial. 

Hal itu terungkap setelah razia yang dilakukan oleh Satpol PP Situbondo yang berhasil menjaring  empat orang PSK. Berdasarkan paparan PSK itu, diketahui bahwa pelanggan yang paling sering mereka layani adalah pelajar. Padahal, dari 136 pengidap HIV di Situbondo, 21 di antaranya adalah PSK yang cukup banyak melayani para pelajar. 

Berarti sebagian generasi muda di Situbondo –mungkin juga di daerah lain, yang belum terungkap– terancam menghadapi masalah sangat serius. Mentalitas pelajar di negeri ini, sebagian telah terjun bebas pada titik minus yang sangat mengkhawatirkan. 

Setelah dilakukan penelusuran lanjutan, ternyata modus pergaulan bebas di kalangan pelajar tidak saja dengan “membeli” PSK. Ada juga yang melakukan praktik perzinahan itu antar sesama teman atau pacar yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tertutup dan sangat rahasia.

Sebuah majalah parenting terbaru di Indonesia, Karima, yang fokus membahas masalah keluarga dan pendidikan anak, melaporkan bahwa pergaulan bebas di kalangan pelajar bermula dari telepon genggam. 

Di media itu, dikisahkan suatu saat, sebut saja Luppiana, seorang siswi SMP, setelah menerima SMS dari pacarnya, tertidur disamping ibunya. 

Ketika hendak bangun shalat tahajjud, sang ibu memeriksa isi SMS telepon genggam putrinya itu. Sang ibu terkejut saat membaca SMS yang ditulis secara terbalik, “My Luppi Tks ya udah mo nyoba. Benerkan sakitnya cuman sebentar. Besok Ku ke rumahmu kita coba lagi..Ku beliin pengamannya, mau rasa apa”.

Pernah dalam suatu kesempatan, ada seorang mahasiswi akhir di sebuah perguruan tinggi swasta di Indonesia Timur menyapa saya melalui saluran komunikasi Facebook. Dia bertanya kepada saya seperti ini, “Saya tidak pernah pacaran, kak. Tetapi saya sekarang sedang pacaran via facebook, menurut kakak, pacaran via facebook itu bagaimana?”. 

Jadi, pergaulan bebas itu sudah sangat dekat dengan kehidupan remaja atau pelajar negeri ini. Internet dan telepon genggam menjadi media utama yang jika salah guna akan menjerumuskan putra-putri kita semua. Oleh karena itu, para orang tua harus ekstra waspada dan tidak boleh gagap teknologi, apalagi tidak mengerti sama sekali.

Selain itu para orang tua, guru, masyarakat, dan pemerintah harus dengan segera meningkatkan penanaman dan penguatan norma agama dan sosial. Jika tidak, boleh jadi negeri ini akan dihuni oleh generasi muda yang invalid (cacat) secara mental, yang akan menjadikan wajah negeri ini kian berantakan tidak keruan.

Solusinya?
Siapapun, hendaknya tidak melihat temuan memprihatinkan ini secara biasa. Karena hal ini adalah masalah yang sangat serius, yang jika tidak segera dibenahi akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan bangsa dan negara. 

Serangan moral dan mental itu telah mengepung kehidupan bangsa dan negara ini. Mulai dari film, internet, HP, dan termasuk pergaulan di masyarakat. Sungguh, situasi dan kondisi yang sangat mengancam eksistensi generasi bangsa masa depan. Gagal mengatasi ini, sama dengan membunuh anak sendiri.

Dalam menghadapi situasi ini saya melihat bahwa perlu ada sinergisitas gerakan antara orang tua, sekolah dan tentunya pemerintah. Mungkin usulan ini bersifat teknis, tetapi bagaimanapun langkah ini tetap perlu dilakukan untuk penyadaran pemikiran dan mental remaja kita.

Pertama, secara pribadi, setiap keluarga harus menekankan pentingnya pendidikan agama kepada putra-putrinya di rumah. Melarang mereka mengikuti tayangan gosip, sinetron atau film yang miskin edukasi. Selain itu, setiap keluarga harus memiliki agenda bersama memahami ajaran agamanya, sekaligus menjalankan ibadah wajib dalam keseharian.

Kedua, setiap sekolah hendaknya membuat spanduk atau banner sebanyak-banyaknya di setiap sudut sekolah yang bertemakan tentang penolakan terhadap budaya pasif nonton film, pacaran, atau budaya destruktif lainnya. 

Misalnya; “Berprestasi Yes, Pacaran No”; “Jaga Iman, Gunakan HP-mu untuk Kebaikan”; “Orang Pintar Tidak Nonton Sinetron!”; “Untuk Masa Depanmu, Kendalikan Nafsumu”; “Pacaran= Nyoba Haram, Jauhilah...!”, dan masih banyak lagi kreasi yang bisa kita buat di sekolah untuk menyadarkan pelajar-pelajar kita agar selamat dari bahaya pergaulan bebas.

Ketiga, pemerintah hendaknya tidak tinggal diam dengan hanya menyesalkan apa yang telah terjadi. Pemerintah harus berani mengambil langkah-langkah tegas. Misalnya dengan membuat regulasi yang melarang penayangan film atau sinetron yang mengancam mental dan moral generasi muda. Karena jika tidak, maka usaha keluarga dan sekolah di atas akan kurang efektif, bahkan mungkin nyaris sia-sia.

Dari ketiga usulan tadi, secara sosial dan massal, peran pemerintahlah yang paling signifikan. Tinggal kemauan pemerintah saja, berani atau tidak melakukan penyelamatan mental dan moral bangsa. Jika tidak, maka masa depan bangsa akan terancam. Jika berani, maka akan selamatlah negeri ini. 

Pendakian
Upaya untuk mengatasi kondisi buruk ini adalah suatu pendakian. Dikatakan pendakian, karena meliputi banyak aspek. Mulai dari mental, moral, hingga finansial.

Kenapa pelajar membentuk arisan PSK, karena akal mereka dikuasai imajinasi tentang seks sebagai pengaruh langsung dari budaya nonton film dan sinetron, termasuk budaya berpakaian sebagian wanita Indonesia yang membuka aurat. Bahkan tidak lama lagi, di Amerika akan digelar kontes ratu kecantikan, yang lagi-lagi pasti pakai bikini dan disiarkan di tivi.

Begitu pula dengan para PSK, mereka memilih jalan asusila itu karena ketiadaan daya beli, sementara mental komsuptif-hedonis telah merasuki relung kesadaran mereka sebagai dampak langsung dari konsumerisme yang dipropagandakan melalui media massa, jadilah mereka melakukan apa saja demi impian materi yang memenuhi imajinasi.

Jadi, saya menyimpulkan, ada dua kemiskinan yang melanda negeri ini, pertama miskin akal kedua miskin finansial. Ironisnya, kedua kemiskinan itu kondisinya sudah sangat parah. Jika terus dibiarkan bukan saja akan melemahkan iman, tetapi juga akan melenyapkan eksistensi bangsa dan negara.

Maka berhasil mengatasi kemiskinan tersebut sama dengan berhasil melakukan pendakian. Dan, meninggalkan pendakian sama dengan menggali jurang kehancuran.

Al-Qur’an dengan sangat jelas menjabarkan, “Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir” (QS. 90 : 12 – 16). 

Untuk mengatasi kemiskinan finansial saja pemerintah perlu perencanaan yang matang, melibatkan lintas sekotral dan multidisiplin, serta kebulatan tekad dari semua pihak, terutama komitmen pemerintah dan jajaran birokrasi, apalagi mengatasi kemiskinan akal untuk membangun mental dan moral generasi bangsa yang kini sangat kronis. 

Lalu, apakah pengentasan kemiskinan negara ini akan terwujud jika banyak pejabat masih gemar korupsi, kolusi, ingkar janji dan tak punya harga diri?


[IMAM NAWAWI, penulis adalah kolumnis www.kaltimtoday.com dan perintis Kelompok Studi Islam (KSI) Loa Kulu, serta mantan perintis dan ketua Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII), Kutai Kartanegara, Kaltim]


Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.