Semangat Baru dengan Sabar yang Terpatri

Bedah buku "Sabar Membawa Nikmat" di Surabaya, Desember.
KALTIMTODAY -- Akhir Desember (22/12/2012) lalu, di Lantai Dasar Masjid Aqshal Madinah Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Terlihat sekumpulan anak muda sedang menyiapkan segala keperluan untuk suatu event. 

Di sana telah terpampang sebuah banner berukuran 3x4  yang bertuliskan Bedah Buku: Sabar, Membawa Nikmat Mengangkat Derajat”. Owh, ternyata sekompok anak muda tadi adalah para aktivis Lembaga Dakwah Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (LDK-STAI) Luqman al-Hakim yang sedang mengecek persiapan perangkat-perangkat acara untuk acara bedah buku yang akan dilaksanakan pada hari itu. 

Yo’I, acara tersebut memang diprakasai oleh Syabab Hidayatullah Jawa Timur yang bekerjasama dengan LDK STAIL. Pada hari itu, para peserta –yang sebagian besar didominasi oleh para mahasiswa dan kalangan muda- yang telah hadir pada kesempatan itu pun datang dengan antusiasme tinggi. 

Namun, dari raut wajah mereka seolah-olah menggantung sebuah pertanyaan, “Sabar seperti apa sih yang dimaksud penulis buku ini?”. Penulis buku yang akan dibedah tersebut, kakanda Imam Nawawi, pada acara tersebut turut didampingi seorang pembanding yaitu Bapak Priyanto, salah seorang dosen juga seolah mengerti apa yang ada di benak para peserta. Sehingga materi dan apa-apa yang beliau sampaikan cukup mewakili sebagai jawaban atas sebesit pertanyaan dari pada para peserta.

Sedikit kutipan dari apa yang beliau sampaikan pada kesempatan kali itu. Pak Priyanto menganalogikan sabar ibarat seorang petani yang ingin melihat hasil panen padinya dalam keadaan baik, padahal baru sekedar menanam dan mengairinya. Tentunya tidak bisa hanya dalam waktu seminggu (baca: instan) petani tersebut langsung bisa melihat hasilnya. Tetapi butuh proses dan usaha. 

Bedah buku "Sabar Membawa Nikmat" di Depok-Jakarta, Oktober lalu.


“Ia harus memberi pupuk, membersihkan rumput yang tumbuh di area sawah. Menjelang padi menguning petani juga masih harus menjaganya dari serangan hama. Dan tentu itu semua membutuhkan usaha keras dengan dilandasi kesabaran yang ekstra. Barulah setelah jerih payah dan kesabaran tinggi hasil yang indahpun bisa kita nikmati,” begitu Pak Priyanto menjelaskan.

Pencerahan dan ilmu baru tentang sabar pun, sedikit banyak telah didapat oleh para peserta. Termasuk oleh salah satu dua dari peserta yang ternyata adalah mahasiswa STAIL. Mereka mengatakan bahwa akhirnya mereka mengerti ternyata penilaian banyak orang bahwa sabar itu ada batasnya adalah suatu hal yang keliru. 

“Setelah mengikuti acara bedah buku dan juga membaca tuntas buku beliau, ternyata memang sejatinya sabar itu tidak ada batasnya. Gak seperti yang dikatakan banyak orang tentang sabar,” tutur Yudi Adib, salah satu peserta mahasiswa.


“Dari buku ini menurut saya benar apa yang dikatakan penulis, bahwa makna sabar bukanlah sesempit ketika hanya kita ditimpa musibah lalu kita bersabar. Tetapi sabarnya itu maknanya luas dan konteksnya pun berbagai macam” ujar Rahmat Kota, Mahasiswa semester tiga.

Sehingga jelaslah bagi kita bahwa untuk mengarungi samudra kehidupan fana ini, haruslah sabar menjadi salah satu bekal utama kita. Banyak sekali kisah-kisah orang-orang terdahulu –termasuk kisah para Nabi dan orang hebat lainnya dari berbagai penjuru negeri - yang telah membuktikan hal ini. 

Jika kita sandingkan dengan kehidupan kita saat ini, apalagi menjelang pergantian tahun seperti ini. Di samping kita harus melakukan introspeksi diri atas apa-apa yang telah kita lakukan di tahun yang lalu. Hendaknya juga, kita saat ini haruslah telah mempersiapkan bekal yang akan kita bawa untuk mengarungi kehidupan di tahun yang baru nanti. 

Dan sejatinya, jika berkaca pada kesuksesan hidup para orang-orang besar masa lalu dan kontemporer, maka kesabaran mestinya menjadi hal pokok yang patut kita masukan dalam daftar bekal yang harus kita persiapkan untuk menapaki tangga kesuksesan kita. Semoga



[Yahya Ghulam Nasrullah, Penulis adalah mahasiswa jurusan komunikasi Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al-Hakim Surabaya, Kini Sekum LDK STAIL Hidayatullah, dan aktif sebagai pengurus di sebuah asosiasi kepenulisan]


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel