News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Agar Zona Aman Tak Jadi Bumerang

Agar Zona Aman Tak Jadi Bumerang

KALTIMTODAY -- Dari segi materi, sesungguhnya lelaki itu telah berada di zona aman. Statusnya sebagai wartawan sebuah media internasional di Amerika Serikat menjadikan pria asal Padang ini memiliki income di atas rata-rata. 

Pemasukan rutinnya jauh lebih tinggi dibanding penghasilan wartawan di negeri ini. Meski demikian, ia merasa ada yang kurang dalam dirinya. Walau hidup dalam kecukupan, tapi rintihan batinnya yang kurang berkenan dengan posisinya tersebut, tak bisa dielakkannya. 

Karena itu, di kemudian hari, ia pun menekatkan diri untuk keluar dari zona aman tersebut. Ia mulai merintis karir dari awal sebagai penulis buku, khususnya fiksi. Di luar dugaan, salah satu novel yang mengisahkan tentang pengalaman hidupnya di pondok,  mendapat respon positif dari masyarakat. 

Bahkan, kisah fiksi tersebut telah diangkat ke layar lebar, yang juga telah menyedot animo tinggi dari pecinta film termasuk diputar juga di beberapa negara di Asia. Siapa laki-laki nekat itu? Tidak lain laki-laki itu adalah Ahmad Fuadi, pengarang novel Negeri 5 Menara

Lain Fuadi, lain pula Samsul Ma’arif. Seorang pengusaha di kota Pahlawan, Surabaya. Zona aman yang telah didudukinya sebagai salah satu manajer di sebuah perusahaan besar, tidak menutup keinginan Samsul untuk membuka usaha sendiri. 

Dengan motivasi tinggi; ingin memiliki usaha mandiri. Ia pun bertekad keluar dari zona aman, ke zona “rawan”. Rawan karena hanya bermodal nekat dan keberanian. Setelah tertatih-tatih, dan terus belajar, kini Samsul telah sukses mendirikan sebuah perusahaan bidang konstruksi yang menangani proyek bernilai milyaran rupiah, bahkan hingga trliunan. Luar biasa!. 
Jangan Salah Kaprah
Sekarang, coba kita amati dua tokoh di atas. Apa kekurangan keduanya sebagai karyawan? Keduanya telah berada di zona aman, di mana mereka telah mendapatkan gaji yang begitu besar, dari jabatan yang mereka pegang masing-masing. 

Tapi lihatlah, demi menuju kondisi yang lebih baik lagi di masa mendatang, mereka berani “berjudi” dengan keluar dari zona aman yang telah mereka nikmati. Lalu merintis jalan masing-masing untuk menjadi seorang yang luar biasa dan memberi manfaat. Jabatan mereka bahkan menjadi lebih bergengsi. Dan, mereka akhirnya mampu meraih apa yang mereka impikan.

Kedua tokoh di atas, sengaja saya angkat sebagai cermin kita, dalam konteks pembahasan kali ini. Tujuannya, lebih kepada ajakan kepada para pembaca untuk bersikap lebih positif lagi terhadap zona aman. Bukan bermaksud untuk menggiring pembaca keluar dari zona aman tersebut. Tapi,  kalau hal itu memang diperlukan, mengapa tidak, sebagaimana yang telah dipraktekkan dua tokoh di atas.

Zona aman adalah posisi yang dicari oleh setiap orang. Ia menjadi primadona yang dikejar-kejar setiap saat. Berburu zona aman adalah langkah yang penting. Sebab, bahasa lain dari zona aman adalah zona kesuksesan, zona di mana kita mampu menggapai yang kita inginkan, sehingga kehidupan kita pun terasa tercukupi dari segala aspek, terutama yang berkaitan dengan materi. 

Pada dasarnya, tidak ada yang salah dengan zona ini. Ia adalah impian setiap orang. Dengan memburunya, orang semakin giat dalam bekerja. Namun yang menjadi persoalan adalah, sikap kita terhadap zona aman tersebut ketika kita telah merengkuhnya.

Tidak dipungkiri bahwa tidak sedikit orang, yang telah merasa sangat nyaman berada di zona aman. Mereka pikir, bahwa ia telah berada di posisi puncak, jauh dari zona bahaya. Parahnya, banyak orang berada di zona ini kemudian menjadi sangat penakut kalau sewaktu-waktu posisinya hilang.

Padahal sejatinya, ketika menyikapi posisinya dengan demikian, maka ia telah berada di zona bahaya, tidak lagi tinggal di posisi aman. Mengapa demikian, karena dengan sampai pada posisi ini, maka kerap memunculkan stagnasi, kreativitas mulai hilang, tradis berfikir mandeg, dan produksivitas pun akan menurun. Akhirnya ia akan jalan di tempat. Tidak pernah lagi berfikir maju, barang selangkah pun karena selalu merasa posisinya sudah aman. 

Logikanya, tidak akan ada yang bisa dilakukan oleh orang yang telah berada di puncak tangga, kecuali ia akan turun dengan sendirinya. Tidak butuh waktu lama ia akan undur diri dengan sendirinya. Namun, akan berbeda kalau ia terus berusaha menambah jumlah “anak tangganya”. Ia akan semakin meninggi. Posisinya semakin sukar dilampaui. Semakin sulit untuk disaingi. Ketika hal ini terus ia lakukan hingga akhir hayatnya, maka ia akan terus berada di atas, karena ia selalu bergerak untuk menambah anak tangga kesuksesannya.

Begitu juga kaitan dengan posisi nyaman kita. Ketika kita merasa nyaman dengan posisi aman kita, nyaman di puncak karir kita, lalu, kita enggan untuk melakukan improvisasi diri, meningkatkan produktivitas lebih baik lagi, maka cepat atau lambat kita akan turun kasta, dari zona aman ke zona kritis.

Mengapa bisa demikian? Di antara alasannya, Pertama, karena tantangan di masa mendatang akan lebih kompleks dan rumit. Hari berganti hari, persoalan hidup akan lebih runyam. Tidak mungkin di masa mendatang kita temukan permasalahan lebih ringan dari hari ini. Sungguh suatu keniscayaan. Yang ada, justru sebaliknya, semakin banyak dan semakin rumit.

Karena demikian, modal yang perlu dipersiapkan untuk menanggulangi permasalahan-permasalahan di masa mendatang pun harus matang. Tidak bisa kita gunakan modal masa kini, untuk menghadapi permasalahan masa mendatang. Kita akan minus nantinya. Misal, seorang pemuda yang yang telah mendapat gaji tetap dari perusahaan tempatnya bekerja, tentu akan mendapati kebutuhan yang lebih meningkat di masa mendatang, ketika ia telah menikah dan memiliki beberapa buah hati.

Bila kemudian  ia merasa aman dengan apa yang ia hasilkan selama ini, dan tidak pernah berusaha untuk lebih maju lagi, tentulah ia akan kolaps di kemudian hari, karena besarnya tanggungan, sedangkan uang gaji bulanannya tidak bisa lagi meng-cover kebutuhan yang ada. Belum lagi, kalau ada resiko-resiko lain di luar dugaan; perusahaan bangkrut, misalnya. Maka ia akan tambah sengsara.

Yang kedua; tingginya daya saing. Hidup adalah kompetisi. Di akui atau tidak, dalam menjalani kehidupan ini, kita tengah bersaing dengan orang lain. Dengan demikian, ketika daya saing kita menurun, karena terlampau cepat berpuas diri terhadap zona aman yang dirasa sudah dicapai, maka kita akan tersaingi. 

Sebab, sejatinya kompetitor kita terus berlari dan berlari. Di lain pihak kita justru berjalan di tempat. Dalam kondisi ini, sudah pasti kita akan menjadi sosok yang kalah. Kita akan tertinggal jauh dari para kompetitor kita.

Inilah di antara bahaya, ketika kita salah kaprah dalam menyikapi zona aman. Langkah kita tidak lagi menuju apa yang disebut ‘Zero to Hero’, tapi justru sebaliknya, ‘Hero to Zero”.
Tak Hanya Materi!
Kondisi ini, tentu tidak akan terjadi bila sikap kita justru sebaliknya. Yaitu bersikap tidak pernah merasa nyaman dan puas, meski telah merasa berada di zona aman. Sikap mawas diri tersebut harus diterapkan tentu tak hanya dalam aspek materi saja, tetapi juga dari sisi keilmuan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. 

Dengan sikap demikian, pola fikir kita akan terus berjalan guna melakukan improvisasi. Produksivitas pun akan terus meningkat karena selalu merasa belum maksimal. Semangat saing serta intensitas ibadah untuk menjadi juara dan orang shaleh pun akan terus menggebu. 

Kalau pun ia telah dinobatkan sebagai juara, maka ia akan pertahankan status tersebut sekuat tenaga bahkan dengan “gigi geraham” sekalipun, sehingga tidak akan pernah lepas.  Dengan demikian, teraplikasilah konsep hidup orang sukses bahwa “Hari ini harus lebih baik dari pada hari kemarin”, dalam keseharian kita.

Terakhir, sebagai penghujung dari tulisan ini, saya akan mengutip pernyataan dari tokoh nasional, Muhammad Natsir, tentang bagaimana seharusnya seseorang mengarungi samudera kehidupan ini. Beliau berkata, “Jangan berenti tangan mendayung, nanti arus membawa hanyut”. Semoga bermanfaat. 


[Robinsah, artikel ini ditulis untuk www.kaltimtoday.com. Penulis tamu ini juga penulis di www.akbarnews.com juga menjadi kontributor aktif di sejumlah kanal transmisi untuk isu-isu sosial dan kegamaan. Ia juga aktif di Asosiasi Penulis Islam –API-. Photo by StageFrightFreedom]

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.