News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Anda Orangtua? Jangan Lupakan Nalar Anak!

Anda Orangtua? Jangan Lupakan Nalar Anak!

KALTIMTODAY -- Sudah bukan rahasia, semua orang menginginkan putra-putrinya menjadi orang sukses. Wajar jika kemudian ramai orangtua menambah pendidikan putra-putrinya dengan mengikutsertakan mereka pada program kursus, pelatihan, atau pengembangan skill

Akan tetapi, jika kita cermati lebih jauh, ternyata pemahaman dan gerakan semacam itu tidak benar-benar membawa berita gembira. Kondisi justru sangat berbeda. Pelaku kejahatan di negeri ini, umumnya dilakukan oleh mereka yang ahli, mengerti dan memiliki talenta yang mengagumkan.

Kepandaian berargumentasi membawa banyak orang pada perang statement di media. Kepakaran dalam bidang hukum justru mengarah pada tindakan melanggar hukum. Dan, kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi, justru mendorong sebagian orang bersemangat melakukan rekayasa-rekayasa negatif yang sangat merugikan rakyat, bangsa dan negara.

Diakui atau tidak, inilah fakta manusia-manusia modern. Ironisnya, pelaku kejahatan di era ini tidak lagi semata dilakukan oleh kelompok tidak berpendidikan, tetapi juga ramai-ramai ditunjukkan oleh mereka yang memiliki gelar akademik yang cukup bergengsi.

Di sisi lain, umumnya masyarakat Indonesia mudah sekali terserang penyakit galau, frustasi, dan depresi. Terkadang, ilmu yang diperoleh dari bangku sekolah hingga bangku kuliah tidak mampu mencegahnya dari berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri. Rata-rata merasa tidak mampu menghadapi masalah yang melanda.

Lihat saja berita bunuh diri, perampokan dan pembunuhan. Semua bersumber dari gejolak nafsu yang tak mampu dibendung oleh kekuatan ilmu dalam diri seorang individu. Prahara sosial pun menyeruak bak jamur di musim hujan. Semua datang berbarengan dengan jumlah yang sangat besar. Semua kewalahan, semua kebingungan, akhirnya saling salah-menyalahkan.

Seorang pemikir di tanah air mengatakan, dalam situasi seperti ini sebenarnya yang sangat dibutuhkan oleh seorang anak adalah pendidikan nalar. Bukan lagi semata pendidikan kursus, pelatihan dan pengembangan skill yang hanya bersifat eksoterik (luaran) saja.

Anak-anak kita butuh pendidikan yang paling inti yakni pendidikan iman, mental, dan jiwa yang bersifat esoterik (inti).  Hal inilah yang kini banyak diabaikan oleh para orang tua. 

Akhirnya banyak orang tua terkejut bukan main, ketika anak-anaknya yang tumbuh dewasa dan telah bekerja, tak lagi memiliki karakter dan perilaku yang positif. Mereka memang cerdas dan pandai mencari uang. Tetapi mereka telah kehilangan adab. Mereka buta terhadap yang halal dan haram, mereka tuli terhadap nasehat dan kebenaran.

Nah, di zaman seperti sekarang, dimana kapitalisme menjadi ideologi ekonomi dunia, orang tua hendaknya tidak terjebak dengan pendidikan putra-putrinya. Mereka tidak membutuhkan keterampilan mendapat uang semata, tetapi lebih jauh mereka butuh pendidikan yang menghidupkan hatinya, sehingga sehat dan benar nalar berpikirnya.

Pantas jika kemudian pepatah barat mengatakan, berapa besar ukuran kepala kita itu tidak begitu penting, tetapi apa isi kepala itu lebih penting. Dan, apa isi hati kita itu sangat-sangat-sangat penting. 

Dan, nalar tidak mungkin dimiliki kecuali oleh anak yang sejak dini dididik untuk melihat alam dengan hati. Jadi, didiklah anak kita untuk bernalar dengan iman, sembari berikan mereka skill dalam kehidupan.



[Bangun Bumigiri, adalah penulis tamu di www.kaltimtoday.com. Penulis aktif berkecimpung di dunia pendidikan, pemikiran, dan pemerhati masalah sosial dan budaya. Saat ini sedang menyiapkan penerbitan buku spektakulernya “Sociology For Teens: Membongkar Tradisi Hitam Pendidikan”. Sumber ilustrasi: HealthyTimesArticles]


Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.