Bagaimana Cita-cita Anak TK itu Sekarang?!

COBA kita tanya pada remaja sekarang soal cita-cita! Sedikit atau mungkin sangat langka yang secara berani mau menyebutkan cita-citanya secara jujur, apalagi lantang dan berani. Bukan berarti mereka tidak punya cita-cita, tetapi mereka umumnya ragu dengan cita-cita mereka sendiri. 

Padahal, ketika masih di usia TK, anak-anak dengan lantang mengatakan, aku ingin jadi dokter, ingin jadi pilot, bahkan ada yang ingin jadi presiden!. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ketika anak-anak itu tumbuh dewasa, suara lantang tentang cita-cita itu hilang entah kemana.

Kondisinya pun sangat berbeda. Jika di masa anak-anak, mereka tampil penuh percaya diri. Kini, ketika menginjak dewasa, keluh kesah, minder, sering sekali menghiasi perjalanan hari-hari mereka. 

Akibatnya, banyak kita temukan remaja bahkan pemuda saat ini hidup tidak untuk masa depan, tetapi meratapi kesusahan dan kesulitan. Padahal, sebagai insan berakal, kita tidak boleh berhenti menyiapkan diri untuk menyambut terwujudnya cita-cita.

Jika kita mendengar berita tawuran, maka jangan heran, itu karena mereka sudah putus asa dengan masa depan. Jika ada pelajar tidak punya sopan santun, maka tidak perlu tertegun, itu tanda paling nyata bahwa mereka sudah tak punya harapan masa depan. 

Hal inilah yang mendorong banyak remaja atau pemuda sekarang rela menghabiskan waktunya untuk nongkrong, begadang tiap malam, atau hidup tanpa tujuan, sehingga terjebak narkoba, pergaulan bebas dan kejahatan remaja. 

Kekuatan Cita-Cita
Kebaikan hidup seorang remaja atau generasi muda sangat dipengaruhi oleh cita-cita yang dimiliki. Biar ada anak kampung, sangat miskin sekalipun, jika dia memiliki cita-cita, maka dia akan menempa diri menjadi pribadi sukses. Dalam hal ini, kita bisa belajar dari Bapak Jamil Azzaini.

Di penghujung tahun 2005, ketika menjadi utusan LDK STAIL Surabaya dalam acara Simposium Pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB), saya berkesempatan bersua dengan penulis “Kubik Leadership” yang terkenal itu. 

Di sana, Jamil menceritakan masa lalunya yang ditakdirkan Allah menjadi anak tukang sadap pohon karet yang kenyang dengan cibiran, hinaan, dan cacian. Jamil, merasa sangat terpukul dan sangat sedih, terutama ketika ia berangkat sekolah dengan tangan yang masih membawa sisa bau latek. 

Tetapi sang ayah memanggil dan memberikan nasehat kepadanya dengan memberitahukan kondisi seekor kerang. Kerang jika tahan terhadap sakitnya pasir yang menusuk tubuhnya, ia akan menjadi kerang mutiara. Tetapi kerang yang tidak tahan, maka ia hanya akan menjadi kerang rebus. “Terserah kamu Jamil, mau jadi kerang mutiara atau kerang rebus,” tutur beliau kala itu.

Jamil pun memilih menjadi kerang mutiara. Itulah cita-citanya kala itu. Akhirnya, dengan ketekunan, kesabaran dan kedisiplinan, serta doa dan ibadah, ia kini menjadi sosok manusia yang banyak memberikan inspirasi bagi generasi muda sekarang. 

Bahkan Jamil, termasuk orang yang mendorong saya untuk memiliki cita-cita tertinggi yang mungkin dipandang tidak yakin terwujud, tetapi kita harus bekerja keras membuktikannya. Itulah spirit dari Bapak Jamil Azzaini.

Berikutnya adalah anak desa dari Bojonegoro, Jawa Timur. Namanya Adian Husaini. Karena cita-cita yang kokoh ingin melakukan pencerahan kepada masyarakat dengan benar, ia tak pernah lelah belajar. 

Pulang dari belajar di sekolah, ia ikut belajar di madrasah atau pesantren. Kegiatan seperti itu terus ia lanjutkan hingga masuk jenjang mahasiswa. Bahkan, dorongan cita-citanya membuatnya mampu menerjemahkan kitab-kitab klasik sejak masih remaja. Ketika aktif sebagai mahasiswa di IPB ia tekun dalam kegiatan Lembaga Dakwah Kampus (LDK).

Ketekunannya ternyata memberikan bukti saat itu juga. Adian muda didaulat menjadi asisten dosen untuk mata kuliah agama di almamaternya. Usai kuliah ia menempa diri menjadi seorang jurnalis di harian nasioanl ibu kota. Berbekal pengalaman jurnalisnya, ia seperti air terjun yang tak pernah berhenti mengalir deras ke bawah. Ia semakin produktif menulis dan belajar. 

Kini, Adian Husaini menjadi penulis sangat produktif di negeri ini. Buku-bukunya dalam berbagai macam tema sangat mudah kita temukan di toko-toko buku. Cendekiawan multi disiplin ilmu itu kini dikenal publik sebagai pakar kajian peradaban. 

Dan, beruntung, sejak di Surabaya, saya sudah mengenal sosok yang sangat konsen dengan pendidikan dan peradaban ini. Bahkan tesis saya, lulus diuji oleh Ketua Program Pascasarjana Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor itu. Terimakasih Bapak Adian Husaini, ilmu yang diberikan sungguhlah sangat bermanfaat. 

Jadi, milikilah cita-cita. Karena hanya dengan cita-cita, setiap kita bisa melihat manisnya kehidupan ketika tantangan menghadang. Sebaliknya, selamanya kita akan kesulitan dalam hidup ini, meski kesenangan setiap hari kita miliki.

Consistence and Continous
Setelah kita memiliki cita-cita, kemudian melihat para pemilik cita-cita bekerja meraihnya, tugas berikut yang harus kita tuntaskan adalah konsisten dan terus-menerus. 

Dalam Webster Ninth New Collegiate Dictionary disebutkan bahwa kata “consistence” berasal dari bahasa Latin: consistere, harmony of conduct or practice with profession, ability to be asserted together without contradiction.

Yang menurut KH. Toto Tasmara dalam bukunya ‘Yahudi Mengapa Mereka Berprestasi’ diartikan sebagai kemampuan untuk bersikap secara taat azas, satu kata dengan perbuatan, pantang menyerah dan mampu mempertahankan prinsip secara istiqomah walau harus berhadapan dengan risiko yang membahayakan dirinya sekalipun.

Hal itulah yang dilakukan oleh para pemilik cita-cita besar, seperti; Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Wali Songo, Sultan Hasanuddin, Raja Baabullah, KH. Agus Salim, Buya Hamka, dan yang lainnya.

Selanjutnya, kita harus continous atau terus-menerus. Dalam Islam ada pesan Nabi yang sangat patut kita renungkan, “Amal yang paling baik adalah amal yang dilakukan secara kontinyu walaupun sedikit”.

Jadi, jangan pedulikan berapa buku Anda baca dalam sebulan, yang penting untuk diperhatikan adalah teruslah membaca dan jangan pernah berhenti untuk membaca.

Dalam peradaban lain kita kenal istilah “Stilla cavet lapidem” (air yang terus-menerus menetes pada satu titik akan melubangi batu yang keras). Tepat jika kemudian dikatakan bahwa, jika ingin menjadi manusia hebat, maka bangunlah habit (kebiasaan positif secara terus-menerus).

Dengan demikian, mari kita miliki cita-cita, kita isi waktu kita untuk mewujudkannya dan terus berusaha untuk menyempurnakannya, sehingga kita tidak lalai dengan nikmat sehat dan nikmat waktu yang Allah berikan kepada kita. 

Kendala apapun, hendaknya tidak menghambat cita-cita mulia dalam jiwa. Karena masa depan itu bukanlah perkara tempat, ia merupakan suatu keadaan yang sedang kita ciptakan. Atau dengan kata lain, Anda esok hari adalah Anda hari ini. So, jangan pernah ragu untuk bercita-cita!* 

______
*) IMAM NAWAWI, 
penulis adalah kolumnis kaltara.news . Ikuti juga cuitannya di @abuilmia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel