Beginilah Sikap Pemenang Ketika Peluang Datang

KALTIMTODAY -- Peluang merupakan hal yang sangat mahal dalam meraih kesuksesan. Karena begitu krusialnya, hingga ada orang yang mengatakan, “Manfaatkanlah peluang yang ada, karena sesungguhnya ia tidak akan pernah datang untuk kali kedua!”. 

Agar pembahasan ini lebih mengena, mungkin ada baiknya kita belajar dari kisah nyata seorang mahasiswa yang memiliki cita-cita menjadi penulis, dan ia mampu menangkap dengan baik peluang yang datang. 

Dan, pada akhirnya, ia mendapatkan banyak hal yang berharga dari apa yang ia lakukan dengan sungguh-sungguh itu, hingga dipercaya untuk menulis di beberapa rubrik di berbagai media, meski statusnya masih sebagai mahasiswa. 

Sebut saja namanya Fulan. Ia duduk di awal semester tujuh salah satu Perguruan Tinggi swasta di Surabaya. Semenjak duduk di bangku semester tiga, ia memiliki mimpi untuk menjadi seorang penulis. Ia pun terus berusaha belajar menulis. Sekalipun demikian, kualitas tulisannya pun belum bisa dikatakan layak. Namun semangatnya tidak pernah kendur untuk mewujudkan impiannya. 

Hingga tibalah saatnya untuk mengikuti Peraktek Kerja Lapangan (PKL). Ia yang mengambil Jurusan Komunikasi, memilih media cetak (majalah) sebagai tempat terjunnya. Setiap hari, ia berusaha aktif menulis. Ketika diberi tugas, ia selalu mengerjakan secara maksimal. 

Dan ternyata keseriusannya ini, memikat hati para redaktur media tersebut. Di akhir hari PKL, dua redaktur memanggilnya secara bergantian di tempat yang berbeda. Yang mengagetkan Fulan, ia ditawari untuk menjadi kontributor beberapa rubrik media tersebut. Bahkan, untuk menguji keseriusannya, pihak redaktur langsung menugasinya untuk meliput seorang tokoh di kota tersebut, untuk diangkat sebagai profil majalah di edisi berikutnya. 

Sejatinya, Fulan sempat kikuk mendapat tawaran tersebut. Sebab ia sama sekali belum lihai dalam dunia jurnalistik. Mudahnya ia masih pemula. Apalagi menulis sebuah berita. Yang selama ia giat tulis adalah seputar artikel sejenis opini. Adapun tulisan berupa liputan, ia sama sekali belum pernah melakukannya. Wajar kalau kemudian ia sempat masghul untuk menjawabnya. 

Namun tidak lama berselang, ia pun menyanggupi. Apa yang menjadi pijakannya, ia ingin memanfaatkan peluang, dan mengeruk sebanyak-banyaknya ilmu tentang jurnalistik dari para redaktur yang ada. Benar saja, setelah berapa lama terjun, tulisannya telah sering menghiasi media tersebut. Bahkan tidak jarang ia diikutsertakan dalam rapat redaksi untuk membahas tentang tema-tema yang akan diangkat media tersebut di edisi-edisi selanjutnya. 

Tidak hanya itu, ia pun telah dipercaya untuk mengisi di kanal lainnya dari grup media yang cukup bonafid ini, terutama untuk media edisi online. Lebih menakjubkan lagi, pernah suatu hari datang seseorang “melamarnya” menjadi kontributor sekaligus editor untuk sebuah buletin berskala nasional. Luar Biasa!

Menjadi Penantang! 
Ada banyak hal yang bisa kita teladani dari kisah nyata Fulan. Salah satunya adalah memanfaatkan peluang. Terlihat jelas dari kisah di atas bahwa Fulan benar-benar memanfaatkan kesempatan atau peluang dengan sebaik-baiknya. 

Meski ia menyadari bahwa dirinya belum bisa apa-apa, tapi, karena memahami bahwa peluang itu sangat mahal harganya, maka ia pun “menantang” dan siap selalu meladeni tantangan tersebut. 
Kalimat terakhir inilah; “Berani Menantang Tantangan!” merupakan kunci dari keberhasilan si fulan untuk menyingkirkan ketakutan-ketakutan yang menggerogoti dirinya. Kita tidak menafikan, bahwa terkadang keterbatasan kemampuan kita, menjadi faktor terbesar ciutnya nyali untuk menghadapi sebuah tantangan. 

Namun, ketika hal ini yang kita kedepankan, maka bersiap-siaplah untuk terus ketinggalan. Sebab, dengan melakukan aksi “mogok” itu, berarti kita membiarkan kesempatan demi kesempatan berlalu dengan begitu saja. 

Padahal, kalau kita berani mencoba, suatu hal yang dianggap mustahil justru bisa menjadi batu loncatan kita untuk lebih mudah menggapai impian, sebagaimana yang telah dilakukan Fulan dalam kisah nyata di atas. 

Orang yang takut tantangan adalah orang yang telah merancang kegagalan. Sebab dengan menutup diri dari tantangan, berarti ia telah menyi-nyiakan kesempatan. Tidak ada yang lebih berharga di dunia ini kecuali kesempatan. Kesempatanlah yang membuat kita memiliki peluang untuk meraih kesuksesan. 

Rumus ini tidak hanya berlaku di dunia karir saja. Bahkan, dalam konsep keagamaan, memanfaatkan peluang merupakan kewajiban. Akan dikategorikan orang yang merugilah, apa bila ada seseorang kurang mempedulikan peluang yang menghampirinya. 

Surah al-‘Ashr dalam Al Qur’an dengan gamblang berbicara masalah peluang, waktu, atau kesempatan. Semua orang di muka bumi ini akan dicap sebagai orang merugi apabila kurang memanfaatkan kesempatan hidup di dunia ini dengan sebaik-baiknya. 

Kesempatan itu cuma datang sekali. Setelah masa “tenggang” habis, maka akan bergantilah waktu di mana kita harus mempertanggungjawabkan di hadapan-Nya akan peluang-peluang yang telah diberikan. 
Begitu pula pula dalam mengejar kesuksesan. Kita harus memanfaatkan peluang yang ada sebaik-baik mungkin. Jangan pernah mencampakkannya. Ingat pribahasa Arab yang menyatakan, “Lan Tarji’a al-Iyyamu al-Latii Madlaat”, Tidak akan pernah kembali hari-hari atau kesempatan-kesempatan yang telah berlalu. 

Tahap selanjutnya, agar membuahkan hasil sempurna, berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghasilkan sesuatu yang maksimal, itu sangat dibutuhkan. Sebagaimana yang telah dilakukan Fulan. Ia tidak hanya berani mengatakan “Sanggup!”, kepada pihak redaksi. Namun, ia juga mengimbanginya dengan terus berusaha keras, sekuat tenaga untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. 

Selanjutnya, langkah pemungkas kita sebagai seorang yang berjiwa besar, jangan lupa kita untuk bertawakkal kepada Allah. Sebab, kalau tidak, maka kekecewaan akan selalu mengintai kita, ketika mengetahui hasil yang diharapkan dari apa yang kita usahakan tidak sesuai dengan yang ditargetkan. 

Orang yang bertawakkal tidak pernah kecewa dengan apa yang dihasilkan. Baginya adalah yang penting telah berusaha dengan sebaik-baiknya. Adapun hasil, Tuhan-lah yang menentukan. 

Ketika prinsip itu yang kita tancapkan dalam diri, maka sikap frustrasi akibat jauhnya perbandingan yang dicapai dari target yang diinginkan, tidak akan pernah terjadi. 

Ia akan terus berusaha dan berusaha untuk menggapai apa yang ia cita-citakan, hingga Allah menetapkan takdir-Nya. Inilah sikap yang seharusnya kita miliki ketika mendapati peluang “singgah” di pangkuan kita.  Wallahu ‘alamu Bish-Shawab.    


[Robinsah, artikel ini ditulis untuk www.kaltimtoday.com. Penulis adalah kontributor di sejumlah kanal transmisi untuk isu-isu sosial dan kegamaan. Ia juga aktif di Asosiasi Penulis Islam –API-. Sumber gambar ilustrasi: EmptyShop]


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel