News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Masih Berprinsip Hidup Mengalir Seperti Air?

Masih Berprinsip Hidup Mengalir Seperti Air?


KALTIMTODAY -- “Hiduplah seperti mengalirnya arus sungai”. Begitulah sebagian orang memaknai kehidupan. Mengalir begitu saja, bak aliran arus sungai. 

Hidup mengalir seperti air. Berjalan sesuai dengan arus yang ada.  Ketika arus ke kanan, kita ke kanan. Ketika ke kiri, kita pun ikut ke kiri. Gampangnya, kemana arus sungai mengalir, ke situ kita berarah. 

Pribahasa di atas, terdengar begitu indah. Kita diajak untuk mengikuti apa yang telah menjadi suratan. Ketika mendapati waktu sukar, penuh bebatuan, maka kita hadapi sebagai ujian. Ketika kita menemui kemudahan, sungai tak berbelok lagi tidak berbatu, kita syukuri sebagai sebuah nikmat. 

Sebagaimana sifat dasar arus sungai, yang selalu mengikuti arusnya. Selalu mengalir dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi, hingga akhirnya menuju ke sebuah dataran, hingga sampailah kelak di samudra yang luas lagi tak bertepi. Tidak pernah terdengar adanya aliran sungai melawan arusnya. Semua mengikuti perjalanan arus.

Namun, bagi mereka yang sedikit lebih jeli, tentu mereka akan berhati-hati dengan pribahasa di atas. Sebab, kalau salah kaprah, maka kesuksesan tidak akan diperoleh, tapi kebuntunganlah yang akan menghampiri. 

Loh, kok bisa begitu? Iya, sebab tidak semua arus sungai menghantarkan menuju samudra yang luas tak terbatas itu. Namun ada juga arus yang membelok. Sayangnya, belokan yang dipilih justru mengarahkannya ke sebuah comberan yang warnanya kehitam-hitaman serta becampur bau yang busuk yang sangat menusuk hidung. 

Dalam kondisi inilah, kita harus merefisi ulang moto hidup kita. ketika kita jadikan filosofi arus sungai sebagai pijakan hidup kita, maka kita akan terperangkap dalam kotor air comberan. Kita tidak akan pernah menemukan luasnya samudra apa bila kita terjelembab dalam kondisi demikian. Terlebih, apa bila comberan tersebut merupakan sebuah waduk mati, yang tak mengalir, tapi hanya mengendap. Maka jadilah kita pesakitan yang hidup di tengah kebusukan. 

Kini kita coba tarik analogi di atas dalam kehidupan bersosial, serta kaitannya dengan mimpi kita meraih kesuksesan. Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa dipisahkan dengan kemajmukan. Kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang plural. Namun, di balik itu semua, terkait dengan mimpi menggapai kesuksesan, persepsi orang terbagi menjadi dua. 

Yang pertama, mereka yang menghendaki kesuksesan. Sedangkan yang kedua, mereka yang acuh (untuk tidak mengatakan tidak menginginkan) kesuksesan. sayangnya, di antara dua golongan ini, arus kelompok kedua selalu mendominasi dari pada kelompok yang pertama. Sebab itu, jadilah mereka arus yang deras yang menguasai aliran air yang menuju kepada bah mematikan. 

Ketika filosofi di atas yang kita gunakan, logikanya kita akan mengikuti arus yang deras itu, yang kebanyakan diikuti oleh orang. Namun, ketika kita menghendaki arus yang lain, maka kita harus melawan arus tersebut, dan menciptakan arus sendiri. 

Dan, inilah yang harus kita lakukan ketika arus tak lagi mengarah ke arah samudra, atau bahasa lain yaitu arah kesuksesan, namun menuju ke arah yang menyimpang, atau ke arah kegagalan.  

Sejalan dengan pembahasan ini, simaklah penggalan kisah Umar bin Khathab berikut ini. Pada suatu hari, beliau dikagetkan dengan doa seorang pemuda yang meminta agar dimasukkan dalam golongan mereka yang sedikit. 

“Yaa Allah, masukkanlah aku dari golongan yang sedikit”, pintanya. 

Didorong rasa heran, Umar pun bertanya kepada pemuda tersebut, “Apa maksud Anda dengan sedikit?”. 

Pemuda itu menjawab, “Saya hanya berharap bisa dimasukkan dalam golongan orang-orang yang sedikit bersyukur. Sebab Allah menyatakan hanya sedikit orang yang dalam hidupnya mampu bersyukur”. 

Dari kisah ini, bisa kita simpulkan bahwa memang hanya segelintir orang-lah yang mampu membawa dirinya ke gerbang kesuksesan. Dan, akan lebih menguatkan lagi, bila kita amati kalimat ‘Aktsar’ (Kebanyakan) dan ‘Qolilun’ (Sedikit) dalam al-Qur’an. Keduanya saling dikaitkan dengan hal-hal yang bersimpangan. Kalimat pertama selalu bersambung dengan hal-hal yang negatif, sedangkan kalimat yang kedua selalu bergandengan dengan perkara-perkara yang positif. 

Untuk itu, kalau kita tunduk dengan arus deras yang ada di masyarakat, khususnya yang berada di sekitar kita, maka berarti kita membiarkan diri kita terhanyut dalam kegagalan.

Untuk Kebaikan, Jangan Takut Melawan Arus! 
Sebagaimana telah dijabarkan di atas, untuk menyelamatkan diri dari derasnya arus yang mengarahkan kita kepada kehancuran, maka menciptakan arus baru adalah solusinya. 

Dan, hal ini sejatinya sudah menjadi sunnatullah bagi kita yang menginginkan kesuksesan. Kita tidak bisa mengikuti arus yang ada. Kita harus membendung, dan membuat aliran sungai yang berbeda, sehingga kita terselamatkan dari arus yang salah. 

Allah pun telah memberi peringatan, bahwa untuk menuju kesuksesan, maka kita harus bergerak, menuju kesuksesan itu sendiri. Kita tidak bisa hanya mengikuti roda kehidupan. Namun, kita harus berjuang, bagaimana roda kehidupan kita berputar ke atas, meski awalnya kita berada di bawah. 

Jadi, mari kita buat arus sungai kita sendiri, meskipun meliuk-liuk tapi itu indah, yang mengarahkan kita kepada samudra kesuksesan. Wallahu ‘alamu bis-shawab.
 
[Robinsah, motivator muda ini adalah penulis dan kontributor tetap di www.akbarnews.com juga menjadi kontributor aktif di sejumlah kanal transmisi untuk isu-isu sosial dan kegamaan. Ia juga aktif di Asosiasi Penulis Islam –API-. Sumber gambar ilustrasi: Photo-Dictionary]

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.