News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Orang Pintar itu Membangun Relasi!

Orang Pintar itu Membangun Relasi!

KALTIMTODAY -- Sebagai makhluk sosial, sudah pasti kita tidak bisa hidup tanpa orang lain. Posisi mereka bak oksigen untuk pernafasan kita, atau jantung sebagai mobilisator kehidupan kita. 

Sudah barang tentu, kehidupan kita akan sirna, manakala sewaktu-waktu kedua hal tersebut tiba-tiba lenyap dari siklus kehidupan kita. Bayangkan apabila itu benar terjadi. 

Begitu pula kaitannya dengan kehidupan. Kita tidak akan berdaya, bila harus hidup sebatang kara di dunia ini. Mudahnya, mungkinkah kita mampu mencukupi seluruh kebutuhan kita sehari-hari; makanan, pakaian, pendidikan, kesehatan, dll, dengan mengandalkan kemampuan kita sendiri? Hal yang mustahil, tentu saja. 

Setali tiga uang, begitu pula kaitannya dengan kesuksesan kita. Kita tidak akan mampu menggapai mimpi-mimpi kita, cita-cita kita, tanpa adanya orang lain membantu kita. Tanpa adanya sosok yangg menjadi perantara kita. 

Kita butuh koneksi. Kita butuh relasi. Dengannya, maka impian kita pun akan lebih mudah tercapai. Semakin banyak relasi yang kita kenal, kita bangun, dan kita jaga, maka semakin besar pula peluang untuk lebih cepat menggapai kesuksesan. 

Anda kenal Baso (nama aslinya Ikhlas Budiman), salah satu tokoh nyata dalam novel ‘Negeri 5 Menara’? Kisah perjuangan beliau untuk menggapai cita-citanya, sepertinya menarik kita jadikan cermin. Saat itu Baso, memiliki mimpi untuk mampu sekolah di luar negeri, khususnya Arab Saudi. 

Untuk mewujudkan mimpinya, ia mencoba mencari jaringan, relasi yang sekiranya mampu menjembatani untuk menggapai impiannya. Maka ia pun berusaha mengirim beberapa surat ke beberapa tokoh negeri ini, guna mengajukan ‘proposal’ impiannya. 

Hingga, tibalah ia kepada salah satu tokoh  berinisial J.R. Darinya, si-Baso pun mampu mengentaskan mimpinya untuk belajar di luar negeri, meski bukan ke negeri impiannya, Arab Saudi. 

Nah, inilah pentingnya kita membangun relasi. Akan mampu membuka peluang-peluang yang sebelum terasa jauh di mata. Dengan begitu, kita akan merasa begitu dekat. Peluang terasa begitu terbuka lebar, sehingga semangatpun akan semakin meningkat untuk mewujudkannya. 

Dan, sebaliknya, keadaan akan sangat berbeda apabila kita tak memiliki relasi. Pikiran akan suntuk, sebab ide-ide cemerlang tidak juga keluar akibat buntunya pikiran. Tak ada diskusi dan komunikasi yang terbangun. Hasilnya, motivasi pun akan melemah, karena merasa jauhnya perbandingan cita-cita dengan realita. Sebab itu, ayo bangun relasi sebanyak mungkin !.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana cara kita membangun relasi yang baik?! Jawabannya adalah dengan cara membangun persepsi positif orang lain tentang diri kita. Hal ini sangat penting. Sebab, kalau yang terjadi adalah sebaliknya, orang lain mempersepsikan negatif diri kita, maka akan sukar bagi kita membangun relasi. Walhasil, tentu kita pun akan mengalami kesulitan untuk mengejar mimpi-mimpi kita. 

Karena itu, kita harus memulai membangun hal-hal positif dalam diri kita sedini mungkin, sebelum terlambat. Kita harus mempersiapkan hal-hal yang kita butuhkan sehingga menjadi daya tarik orang lain terhadap diri kita. 

Contoh, seorang pelajar yang menginginkan sekolah setinggi-tingginya, bahkan sampai ke luar negeri, sebagaiman Baso, maka ia harus membekali diri secara matang dengan ilmu pengetahuan, sikap tanggungjawab, ibadah, dan komitmen. Yang, dengan bekal-bekal positf itu, kita kelak akan menjadi primadona.  

Ada rumus hidup bahagia yang bagus sekali sebagaimana tertuang dalam sebuah pepatah Arab. ‘Ashlih nafsaka yashluh laka al-naasu’, Perbaiki dirimu maka orang lain akan berbuat baik padamu. Jadikanlah ini sandaran kita untuk memikat orang lain. 

Jangan sampai, yang terjadi justru sebaliknya. Kita sibuk mencari relasi sebanyak-banyaknya, tapi di lain sisi, kita sama sekali tidak memiliki sesuatu yang dapat dihandalkan untuk menarik minat “investor” terhadap tawaran kita. 

Bila hal ini yang terjadi, maka itu sama artinya kita berusaha memancing ikan di sungai atau di laut, tetapi kita tidak memiliki umpannya. Akan lebih parah lagi, kalau kailnya sendiri, kita lupa untuk memasangnya. Tentu pekerjaan ini akan sia-sia, karena tidak akan pernah mendapatkan “ikan” buruan.  Apa “umpan” yang telah Anda persiapkan untuk menarik minat orang lain bekerja sama dengan Anda?.

Jangan Remehkan yang Kecil  
Sering kali orang membidik sesuatu yang besar dan mengabaikan yang kecil. Padahal, bisa saja suatu yang kecil itu akan menjadi bumerang di kemudian hari, manakala kita tidak mengindahkannya. 

Terhadap hal ini, saya jadi teringat dangan sebuah cerita dalam kitab ‘Qiroo’atu al-Rosyidah’. Dalamnya termuat sebuah kisah yang menceritakan seorang saudagar yang tengah mencari seorang sekretaris. 

Singkat cerita, tidak sedikit orang yang berminat untuk bekerja di tempat sang saudagar kaya itu. Maka diadakanlah penyeleksian. Akhirnya,  sang saudagar lebih memilih kandidat yang terakhir kali dites. 

Yang membuat peserta lain merasa tidak nyaman, sosok terpilih itu, hanya memakan waktu penyeleksian yang sangat singkat. Berbeda dengan peserta lain, yang diwawancarai begitu lama dan detailnya. Tapi laki-laki terakhir tersebut, terasa begitu singkat, namun ia yang terpilih. 

Akhirnya, si saudagar pun menguraikan alasannya, ketika beberapa peserta berusaha menyelidiki keganjalan tersebut. Si-bos pun memaparkan, “Sungguh ia telah sabar sekali menunggu gilirannya dengan tenang, tanpa berusaha menyalip yang lain. Ketika ia masuk, ia buka pintu dengan pelan, dan mengucapkan salam.”. 

“Setelah itu...”, lanjutnya, “ia terlebih dahulu membersihkan telapak kakinya di keset. Kemudian, ketika menjawab pertanyaan, pun ia begitu sopan, dan kata-katanya mudah untuk difahami. Sebab itulah, saya menyimpulkan bahwa ia lebih baik dari pada peserta yang lain”. 

Coba perhatikan kisah di atas. Hal-hal yang kecil; menutup pintu, salam, membersihkan kotoran sepatu, sopan dalam menjawab pertanyaan, dll, justru menjadi poin penting untuk diterima menjadi sekretaris di perusahaan tersebut. Padahal secara intelektualitas dan profesionalitas, bisa jadi peserta yang lain lebih unggul darinya.  

Inilah pelajaran bagimana pentingnya kita menjaga dan memperhatikan hal-hal yang kecil. Penampilan, misalnya, jangan sembarangan, asal menggunakan saja. Harus diteliti.  Tidak perlu mahal. Tapi yang dibutuhkan adalah kerapian dan kepantasan. 

Dengan memperdulikan hal-hal tersebut walaupun mungkin tampak sepele, ketahuilah, itulah seperangkat bekal yang akan mengangkat citra positif kita. Orang yang cakap, jujur, lagi memiliki tatakrama yang santun, memang, semua orang butuh dan mencarinya. Ingat sebuah semboyan salah satu iklan produk yang sering tampil di televisi; “Kesan pertama begitu menggoda!”.  

Lagian, siapa juga yang berkenan bekerja sama dengan kita, ketika di lain pihak kita menunjukkan gelagat yang sangat tidak meyakinkan; stelan kumal, penampilan awut-awutan, bicaranya kasar, tidak respek dan apresiatif, dan sebagainya. 

Akhirnya, mari kita bekali diri dengan sebaik mungkin, sehingga orang lainpun akan yakin untuk bekerja sama dengan kita. Wallahu ‘alamu Bish-shawab


[Robinsah, artikel ini ditulis untuk www.kaltimtoday.com. Penulis tamu ini juga penulis di www.akbarnews.com juga menjadi kontributor aktif di sejumlah kanal transmisi untuk isu-isu sosial dan kegamaan. Ia juga aktif di Asosiasi Penulis Islam –API-. Photo by Budslife via Flickr]


Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.