Produktif dengan Teknologi, Seharusnya!


KALTIMTODAY – Meninggalkan hal-hal yang tak bermanfaat akan membuat diri kita lebih produktif. Mungkin sebagian dari kita sudah sering mendengar kalimat tersebut. Kalimat itu sebenarnya merupakan penggalan petuah yang pernah disabdakan oleh Nabi SAW.

Di dalam kitab klasik yang terkenal, Hadits Arbain, karya Imam an-Nawawi, Nabi SAW di sana berpesan, “Di antara (ciri) sempurnanya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya”.

Jika kita telaah, entah dari sudut pandang apapun, konsep hidup bermanfaat yang ditunjukkan Nabi ini sangatlah luar biasa. Karena para prinsipnya, kita akan mampu menjadi pribadi yang bermanfaat bagi siapapun jika kita bisa menjadi manusia-manusia produktif. Untuk meraih titel tersebut tentu salah satu tipsnya adalah dengan menjauhi hal-hal yang tidak berguna dan senantiasaa melakukan sebaliknya.

Tantangan Kini
Tak dapat dinafikkan, bahwa hidup di era seperti sekarang ini sangatlah banyak godaan. Bahkan tak jarang menuai cibiran jika jika ada pribadi tampak berlawanan dengan mainstream berprilaku masyarakat modern yang bebas nilai. 

Kita selalu dijebak oleh situasi dan kondisi komunitas sosial kita yang kemudian membuat pribadi kita kewalahan untuk senantiasa menjauhi hal-hal yang sifatnya tiada guna. Apalagi ditambah dengan kemajuan teknologi yang luar biasa pesat saat ini. 

Umumnya kita seringkali dibuat terlena oleh alat-alat teknologi yang super canggih, yang bahkan seringkali “memubazzirkan” waktu kita hingga berjam-jam lamanya. Kondisi ini berlangsung kadang-kadang dengan tingkat kesadaran yang optimal kita sebagai manusia. 

Lihat saja orang-orang di sekitar kita atau yang sering kita jumpai di tempat mana pun. Mereka seolah tidak mengindahkan kondisi sekitarnya, asyik sendiri, bahkan waktu yang senantiasa terus berlalupun tidak menjadi hirauannya, saking nikmatnya dengan gadget-gadget canggih di tangan. 

Entah apa yang mereka lakukan. Namun, secara jujur, kita sepertinya harus sepakat bahwa sebagian besar pengguna perangkat teknologi informasi saat ini, khususnya remaja yang masih berada di usia labil, banyak menghabiskan waktun dengan hal-hal yang kurang produktif dan bermanfaat.

Salah satu fenomena riil yang sering kita jumpai terkait kemajuan teknologi yang terkadang membuat umumnya kita terjebak lupa waktu, adalah televisi dengan tayangannya. Lihat saja betapa tingginya antusiasme masyarakat, kalangan awam dan miskin sekalipun, akan perangkat teknologi yang satu ini, bahkan ia seringkali menjelma menjadi “Tuhan” bersegi empat. Ya, televisi sering lebih besar dari Yang Mahaakbar! 

Sejauh pantauan saya, sebagian besar dari konten-konten yang disajikan televisi, tidak hanya mengantar pemirsa menjadi “patung” yang selalu diceramahi, apalagi tanpa kesadaran filterisasi informasi yang memadai. Televisi juga nihil sekali menayangkan sajian-sajian yang edukatif dan bermoral, malah dominan tayangan yang meng-“alay”-kan. 

Jujur saja, kita harus mengakui terlampau dominan budaya hedon dan vandalisme yang ditransmisikan televisi kepada pemirsa. Baik melalui visualisasi dalam menyajikan pemberitaan, alur dan saturasi efek tayangan, dan style tokoh dalam sebuah sinetron. Ini kemudian banyak membuat pemirsa terpengaruh juga terperangah, “Wow, keren juga kayaknya kalau begitu!,” pikir mereka. Yang masih labil pun akhirnya menjadi salah arah. Para anak-anak dan remaja tersandera.

Perilaku, performance, gaya bertutur dan berbahasa anak-anak muda hari ini tak dapat dieelakkan juga dipengaruhi budaya-budaya free yang dipromosikan televisi. Padahal dalam salah satu etika hidup yang diajarkan Tuhan adalah dengan jelas melarang kita untuk mengikuti apapun yang kita tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. 

Cerdas Memilih
Kita jadi manusia follower!. Jangan jadi orang yang suka ikut-ikutan. Bahkan kalau bisa, buatlah arus baru yang mencerahkan, bermartabat di hadapan Tuhan dan berwibawa serta manfaat untuk manusia. 

Sebab, orang yang taunya hanya ikut-ikut saja, akibatnya bisa kita lihat. Jangankan untuk melakukan hal-hal yang produktif dan meninggalkan segala yang tidak bermanfaat, untuk keluar dari cengkraman teknologi yang melalaikan saja sepertinya sangat sulit.

Kita harus “memaksa” diri kita ini untuk menghindari hal-hal buruk seperti di atas, dan beralih menjadi pribadi yang produktif meski kita berada di tengah era jahil seperti sekarang ini. Maka dalam hal ini, tentu saja, kita harus benar-benar cermat dalam memilah dan memilih sebuah tradisi agar kita senantiasa tetap on the track

Dinamisasi teknologi saat ini memang tidak bisa dibendung. Dan, sejatinya banyak sekali hal positif dari kemajuan teknologi jika benar-benar tepat guna. Namun, yang perlu menjadi titik tekan saya di sini, adalah bahwa kitalah yang seharusnya menguasai teknologi, bukan kita yang dikuasai teknologi!. 

Sehingga pada akhirnya teknologi hanya kita gunakan untuk mengasah kecerdasan kita dan memanfaatkannya untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat. Teknologi kita jadikan sebagai sarana tuk mencapai tujuan kita. Harapannya ke depan kita akan mampu mengarahkan diri kita menjadi pribadi-pribadi yang produktif dengan senantiasa melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat. Semoga.


[Yahya Ghulam Nashrullah, penulis adalah mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran di STAIL Surabaya. Penulis tamu di www.kaltimtoday.com ini adalah anggota di Asosiasi Penulis Islam Surabaya]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel