Remaja Bicara Remaja: Stop Galau, Bro!

KALTIMTODAY -- Beberapa tahun belakangan, kata “galau” menjadi trendsetter di kalangan remaja. Bahkan, seperti kita ketahui, frase galau tak hanya menjadi trendsetter dalam penggunaan bahasa. 

Virus galau telah mengakar sampai tahap mindset dan pola tingkah laku. Penulis masih terngiang salah satu pesan seorang guru. “Menulislah karna keresahan, karena kegelisahan”. Untuk itulah tulisan ini hadir. 

Fenomena kegalauan ini seperti telah menjadi virus akut yang banyak menimpa para remaja kita. Dan, seolah tanpa tiada akhir, ini membuat kita mestinya bersegera untuk mengakhiri trend yang sebenarnya nggak keren banget ini. 

Serba Galau
Sejatinya kata “galau” bukanlah kosakata baru hadir belakangan. Kata tersebut telah ada sejak zaman dahulu kala. Namun, intensitas penggunaannya belum seramai seperti sekarang. 

Entah bagaimana, kata galau kemudian mampu mencuat dan begitu eksis hingga menjelma menjadi “phrases leader” seperti belakangan ini. Namun itu bukanlah persoalan utamanya. Sebab, kita pun harus sepakat, bahwa suatu bahasa atau kata baru yang lahir adalah merupakan buah dari konsensus komunal. Ketika itu disepakati, ketika itu pula ia dinamis, tak dapat dielakkan. 

Namun pertanyaan pentingnya, dan ini pula yang saya rasa menjadi masalah utamanya, adalah apa sebenarnya penyebab para remaja kita menjadi rentan galau. Tentu ada banyak faktor penyebab. 

Diantaranya, pertama, kehadiran sosial media itu sendiri yang tidak dibarengi dengan wawasan kemanfaatan oleh penggunanya. Tren dan kata galau menjadi pola tingkah laku tidaklah bisa dipisahkan dengan kehadiran sosial media sebagai sarana penyebarannya. 

Kedua, Tidak mempunyai teman curhat. Fenomena curhat galau di sosial media juga salah satunya disebabkan karena tidak adanya orang lain sebagai tempat berkeluh kesah. Walaupun ini tidak selamanya benar, karena banyak yang juga mempunyai teman sebagai tempat curhatnya, tapi tetap saja sosial media dijadikan tempat pertama untuk berkeluh kesah. Mungkin memang karna ada sebab lain semisal, ingin eksis, cari perhatian atau lain sebagainya.

Ketiga, trend galau juga biasanya tercipta karena banyak di antara remaja kita yang tidak mempunyai aktifitas yang harus dikerjakan atau bingung mau melakukan apa. Ujung-ujungnya bete’, dan secara gak langsung mereka mendeklarasikan dirinya “sedang galau”.

Keempat, sebabkan oleh tayangan-tayangan visual baik dari gadget ataupun televisi. Kisah cinta yang disajikan dalam sinetron membuat penonton -khususnya kalangan remaja- dibodohi. Mengantar penonton banyak berandai-andai, ingin juga mempunyai kisah cinta seperti di sinetron

Terakhir, penyebab galau disebabkan karna kurangnya iman. Atau tepatnya jarang ibadah. Dalam hidup, yang namanya masalah, cobaan, dan problematika hidup lainnya pastilah ada. Dan, sebagai manusia yang meyakini adanya Tuhan, hendaknya kepada-Nyalah kita mengadu akan segala persoalan hidup yang datang. Karna sesungguhnya cobaan dan masalah yang datang tersebut, adalah cara Tuhan untuk menaikkan derajat kita sebagai hamba.

Lakukan yang Terbaik!
Dari penjelasan saya di atas, setidaknya kita telah mengerti apa yang seharusnya kita lakukan agar tidak terjangkit virus galau. Jika rata-rata orang masih belum cerdas dalam bersosial media, menjadikan sosial media sebagai tempat curhat akan kegalauannya. 

Nah, kita coba lawan arus. Kita hendaknya melakukan sebaliknya, dengan mengsyiarkan wacana stop trend galau. Atau mengajak untuk cerdas dalam bersosial media. Menebarkan virus optimisme, kebahagiaan, semangat berkarya, dan mandiri.

Jika dalam bersosial media masih banyak orang yang belum mempunyai teman yang mampu membimbing untuk senantiasa melakukan hal-hal baik, maka kita hendaknya melakukan hal sebaliknya, carilah teman atau komunitas yang senantiasa mengingatkan kita akan kebaikan.

Jika masih banyak orang yang bingung untuk melakukan apa, sehingga mebuat dirinya bosan dan akhirnya galau. Kita hendaklah melakukan sebaliknya, sibukkan diri kita dengan hal-hal yang bermanfaat. Atur aktifitas sehari-hari kita. Buat schedulle yang jelas –kalau perlu- akan apa-apa saja yang mestinya kita lakukan, supaya tidak terjebak pada situasi bosan tanpa kerjaan.

Sebagai generasi muda yang masih panjang perjalanannya. Dan, sadar bahwa masih banyak rintangan yang menghadang untuk menuju kesuksesan di depan sana. Trend galau yang banyak diidap oleh para remaja kini, haruslah kita buang jauh-jauh. 

Kegalauan alias putus asa dan turunannya hanya akan menghambat kita untuk menuju kesuksesan yang kita ingin capai. Siapa sih di antara kita yang tidak ingin sukses. Untuk itu, mari kita ajak diri kita dan orang-orang di sekitar kita untuk benar-benar menyetop trend galau yang sudah mengakar ini. 

Sebab pada hakikinya, dan secara jujur kita juga sepakat, bahwa untuk meraih kesukesan tidak bisa hanya dengan aktifitas-aktifitas galau. Juga tidak ada sejarahnya orang galau bisa sukses. Karena sukses butuh perjuangan keras, usaha yang giat, niat yang kokoh, dan do’a yang terpatri.

Sehingga ke depan, para generasi muda bangsa ini adalah generasi yang sukses secara individu. Juga merupakan generasi yang siap mengemban amanah mulia -secara global- untuk mengatasi segala persoalan negeri, dan menciptakan Indonesia yang lebih baik. Bukan generasi yang selalu galau, lemah jiwa, yang bingung mau diapakan bangsa kedepan. Semoga.



[Yahya Ghulam Nashrullah, penulis adalah remaja yang kini beranjak menjadi dewasa. Kini dia mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran di STAIL Surabaya. Penulis tamu di www.kaltimtoday.com ini adalah anggota di Asosiasi Penulis Islam Surabaya. Sumber gambar ilustrasi: fsamarin]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel