Sudahkah Kita Membangun Perisai Diri?

KALTIMTODAY -- Apa jadinya, apa bila ada sebuah kebun ditumbuhi beraneka tanaman yang begitu baik, indah, dan subur, namun tidak memiliki pagar pengaman? Padahal di sekitarnya, berkeliaran berbagai macam hewan pengganggu? 

Tidak butuh pemikiran panjang untuk menebak nasib kebun tersebut, di kemudian hari. Pastilah ia akan rusak, karena akan selalu dijamah dan disantap oleh binatang-binatang tersebut. Tidak akan ada yang tersisa. Yang tinggal adalah sampah-sampah dan kotoran-kotorannya. 

Sebaliknya, tentu kondisi yang mengenaskan tersebut tidak akan pernah terjadi, sekiranya kebun itu memiliki pengaman, yang disebut pagar. Apatah lagi kalau sekiranya pagar itu terbuat dari bahan yang kuat, rapat, yang menjulang tinggi ke atas. Maka, hewan-hewan ternak yang hobinya merusak tanaman, tidak akan pernah mampu menjangkaunya. Tanaman pun akan tumbuh aman, hingga tibanya musim panen. 

Kini kita tarik analogi di atas dalam kehidupan keseharian kita, khususnya terkait dengan upaya dalam meraih impian atau kesuksesan. Semua kita pasti memiliki impian, yaitu impian untuk menjadi sukses. Impianlah yang membuat kita lebih bergairah dalam mengarungi samudra kehidupan ini. Sebaliknya, hidup tanpa impian ibarat melakukan perjalanan tanpa arah dan tujuan. Tidak jelas, hendak dibawa ke mana kehidupannya. 

Karenanya, tersebar kata-kata mutiara yang menerangkan pentingnya memiliki impian dalam kehidupan ini. “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”, adalah salah satu kalimat inspiratif yang mengajak kita untuk berani bermimpi setinggi-tingginya.  

Impian inilah kita ibaratkan sebuah kebun yang nampak begitu indah, segar dan penuh pesona. Dengannya gambaran masa depan begitu nampak cerah, penuh dengan kebahagiaan. Sedangkan penghalang-penghalang yang mencoba menjegal impian kita, baik itu dari sesama manusia, alam, atau sebagainya, tak ubahnya binatang-binatang ternak dalam analogi di atas. 

Sebab itu, agar tidak mengalami nasib yang sama dengan kebun, maka kita harus memiliki pagar alias perisai diri yang kuat, yang akan berfungsi sebagai penjaga kita dari marabahaya yang berasal dari luar. 

Lalu apa yang dimaksud dengan perisai diri?? Perisai diri yang saya maksud di sini adalah menumbuhkan self control dengan cara membuat batasan-batasan diri yang wajib dikerjakan ataupun yang harus ditinggalkan.   

Misal, seorang pelajar yang menginginkan kesuksesan dalam menuntut ilmu, mewajibkan dirinya untuk belajar secara mandiri sejak pukul 19:30-21:00. Dan ia komitmen dengan apa yang telah dibuatnya sendiri. 

Di sisi yang lain, ia pun membatasi diri untuk melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat. Misal keluyuran tanpa arah, bergadang, atau perilaku buruk lainnya, yang tak sejalan dengan ritme dalam menggapai impiannya.

Dengan membuat batasan-batasan demikian, ketika hadir seseorang, teman dekat, contohnya, berusaha membujuk untuk keluar jalur yang telah ditetapkan, maka ia tidak akan keki untuk menjawab “No”, kepada temannya tersebut.  Sebab ia faham betul, bahwa ‘undangan’ temannya tersebut, telah melabrak batasan-batasan yang telah dibuatnya. 

Beratnya kita untuk mengatakan “Tidak” kepada seseorang yang mengajak kita untuk melakukan hal-hal yang kurang produktif, itu disebabkan kita tidak memiliki batas-babatasan tertentu untuk pribadi kita yang harus dilakukan ataupun yang harus ditanggalkan. Kalau pun sudah ada, berarti kita kurang istiqomah dalam menerapkannya. Padahal sudah menjadi rahasia umum, untuk mampu meraih kesuksesan, kitapun harus mampu mengatakan “Tidak” terhadap ajakan yang kurang baik. 

Ketika kondisi ketidakberdayaan kita ini terus berlanjut, maka jangan salahkan siapa-siapa, jika suatu saat kelak, akan kita dapati hancurnya impian kita, sejalan dengan waktu, sebagaimana yang telah menimpa kebun dalam analogi pengantar tulisan ini. 

Teladan umat, Nabi Muhammad, telah memberikan uswah. Karena keberanian beliau untuk mengatakan “Tidak” terhadap bujuk-rayu kaum Quraisy, guna meninggalkan pekerjaannya mencerahkan manusia, sekalipun diming-imingi dengan berbagai hadiah yang menggiurkan; harta, tahta, dan wanita, beliau tetap berkomitmen untuk terus berjalan di jalan yang lurus, yaitu hanya tunduk pada kebenaran. Alhasil, usaha beliaupun sukses. Kebenaran yang diserukannya dapat diterima bahkan ke seluruh pelosok dunia. 

Inilah di antara kegunaan pentingnya bagi kita membangun perisai diri dalam mengejar mimpi. Hal ini akan lebih mengarahkan kita serta menjaga kita dari perkara-perkara yang akan menggelincirkan kita dari rel kesuksesan. 

Yuk, Praktekkan!
Saat ini tak terhitung jumlahnya, berapa banyak masyarakat negeri ini yang mengubur impianya sendiri, sebagai akibat dari kurang pedulinya mereka terhadap rambu-rambu kesuksesan. Mereka berani melangkah begitu jauh, melewati ‘pagar batas’ yang seharusnya menjadi pijakan. 

Seorang pelajar harus meregang nyawa bersamaan dengan impian-impiannya, karena kasus tawuran. Seorang politisi, hakim, jaksa, dan sebagainya, harus mengakhiri karirnya lebih dini, disebabkan melakukan pelanggaran berupa suap, ataupun korupsi. Mereka tidak mampu mengelak, ketika bujuk rayuan itu datang. Lidah mereka tidak kuasa untuk mengatakan “Tidak”, meski hati menjerit. 

Andai saja mereka semua telah membuat perisai diri, dan berusaha komitmen untuk menjalankannya, maka mustahil rasanya mereka akan berakhir stragis demikian. mereka tidak akan silau dengan kenikmatan sementara, karena ke depan mereka menyadari akan mampu menghasilkan sesuatu yang lebih luar biasa, ketika impian-impian mereka telah tercapai.

Sebab itu, marilah kita membangun perisai diri dalam mengejar mimpi-mimpi kita. Tentukan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan. Tulis pula hal-hal yang harus dijauhi. Kalau memang perlu, tulislah ia dengan rapi, kemudian ditempel di tembok, sehingga kapan saja, bisa kita baca, dan senantiasa kita mampu mengkomparasikan antara realitas dengan apa yang tertuang di atas kertas. 

Setelah itu, berusahalah untuk berkomitmen dalam menjalankan apa yang telah disepakati dengan diri kita sendiri. Dengan demikian, Insya Allah, nasib buruk sebagaimana yang menimpa kebun yang tidak berpagar di atas, tidak akan menjumpai kita. Semoga.


[Robinsah, artikel ini ditulis untuk www.kaltimtoday.com. Penulis tamu ini adalah kontributor aktif di sejumlah kanal transmisi untuk isu-isu sosial dan kegamaan. Ia juga aktif di Asosiasi Penulis Islam –API-. Sumber gambar ilustrasi: NeatoShop]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel