Sudahlah, Tak Usah Mengharap Pemerintah!


MENJEMUKAN. Ya, itulah mungkin yang kita rasakan pada detik-detik akhir tahun baru dan hari pertama tahun baru. 

Bagaimana tidak, nyaris semua media sibuk mewartakan perihal petasan, kembang api, dan perayaan tahun baru di berbagai tempat di dunia, termasuk di dalam negeri. 

Belum ada, sejauh yang saya ketahui, program media elektronik khususnya, yang mengajak penduduk negeri ini, terkhusus para remaja untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini. Memaparkan problem bangsa, kemudian mengajak generasi bangsa untuk memiliki optimisme terus berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara.

Mungkin, berita itu bisa dianggap sebagai hiburan dan wajar. Tetapi, jika kita korelasikan dengan realita kehidupan bangsa Indonesia, yang mayoritas penduduknya hidup miskin serta kesulitan, maka berita itu tidak berdampak apa pun dalam upaya untuk membentuk mental cerdas penduduk negeri. Yang ada malah hambur-hambur uang dan hura-hura. 

Parahnya, sadar atau tidak, anak-anak kecil dan remaja hari ini, mungkin akan melihat pergantian tahun tidak lebih dari pesta kembang api, petasan, dan sebagainya. Apabila ritual kurang guna itu terus terjadi dan disiarkan secara besar-besaran di media, hal itu akan berdampak buruk bagi mental generasi muda mendatang.

Sangat mungkin, dengan tradisi yang seperti itu, generasi muda hari ini akan kehilangan kepekaan, kesadaran dan tanggung jawab terhadap lingkungan, masyarakat, dan lebih besar terhadap bangsa dan negara, sehingga sangat sulit bagi bangsa ini untuk bisa keluar dari berbagai macam krisis yang terus terjadi. 

Malah bila kondisi buruk ini tidak segera diatasi, sangat mungkin bangsa ini akan kehilangan sejarahnya dan berubah menjadi bangsa baru yang tak kenal adab dan nilai-nilai luhur para pejuangnya. 

Tradisi generasinya adalah tradisi asing, semangat generasinya adalah semangat asing, yang notabene dianggap lebih modern, lebih maju. Dan, itu menjadi kebanggan mereka dengan cara membunuh warisan nilai leluhurnya sendiri.

Bertumpuk Masalah
Dulu, mungkin kita sudah maklum dengan istilah kenakalan remaja. Tetapi, apakah sampai sekarang kenakalan itu sudah teratasi atau justru meningkat daya destruktifnya?

Ternyata sangat meningkat. Kini remaja tidak saja mengalami keburukan mental berupa tindak kenakalan, tetapi lebih jauh sudah masuk zona kejahatan. Ya, kejahatan remaja. Fenomena semacam ini sudah mendunia, termasuk di negara maju.

Di Korea Selatan, angka kejahatan remaja terus mengalami peningkatan. Portal AsiaOne melaporkan, Sabtu (10/11), rata-rata usia 16 tahun di Negara Ginseng itu sudah terlibat kejahatan disertai tindak kekerasan seperti perampokan barang-barang berharga, jual diri, penganiayaan, dan sebagainya. [Baca beritanya di sini].

Beberapa ahli kejiwaan menduga, banyaknya tindak kejahatan dan kekerasan terjadi membuat perilaku mereka menjadi negatif. Remaja Korea Selatan saban hari disuguhkan berita kriminal, "Informasi dan film menjadi faktor penting membuat mereka melakukan kejahatan dengan sangat mudahnya," kata Profesor Gwak Dae Gyeong dari Universitas Dongguk.

Selain itu tingkat perhatian orang tua pada anak-anak mereka menurun sebab pekerjaan. Kondisi tidak jauh berbeda dengan Indonesia. 

Jarangnya komunikasi antar keluarga membuat remaja menentukan baik-buruknya suatu hal menurut kacamata mereka. "Para remaja ini juga susah menerapkan perilaku disiplin. Bila Anda keras, mereka semakin keras," ujar Dae Gyeong.

Negeri Kita
Di Indonesia, kondisinya tidak lebih baik, justru sangat parah. Seperti yang terjadi di Malang, Jawa Timur, empat remaja tega memperkosa gadis SMP secara bergiliran!. 

Parahnya, empat pelaku itu menggunakan sebuah mushola wakaf milik warga Dusun Glendangan, Desa Ngingit, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang untuk berbuat mesum, setelah sebelumnya beramai-ramai pesta miras. [Baca beritanya di sini]

Kasus lebih tragis terjadi di Kalimantan Barat tujuh bulan lalu. Dikabarkan bahwa seorang gadis belia diperkosa oleh 18 remaja pria di sejumlah tempat!. Terjadi di Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. [Menyedihkan!, baca beritanya di sini]

Data dari KPA yang dibacakan dalam seminar “Sinergi Pemerintah dan Industri Perfilman dalam Membentuk Masyarakat Madani” di Universitas Padjajaran (9/5/10) juga cukup memprihatinkan.  

Disebutkan sebanyak 97 % pelajar dari 4.500.000 orang di 12 kota besar Indonesia siswa SMP mengaku pernah menonton video porno, 90 % pernah berciuman, kemudian 62,7 % melakukan perzinahan, dan 21 % siswa SMA pernah melakukan aborsi. 

Kondisi itu semakin diperburuk dengan data yang tidak kalah mencengangkannya. Lebih dari 10 juta laki-laki di tahun 2009 suka melakukan perzinahan dengan PSK, demikian rilis Kementerian Kesehatan 3 tahun silam. 

Sementara, data di Kaltim menunjukkan bahwa 2.559 orang positif terjangkit virus HIV dan 404 di antaranya telah meninggal dunia. Dengan data tersebut, Kaltim berada di posisi empat terbanyak pengidap HIV setelah DKI, Papua, dan Jawa Timur. [Ngeri! Baca beritanya di sini

Itulah kejahatan remaja yang paling populer. Belum termasuk ajang ugal-ugalan, perampokan, hingga pembunuhan. Masalah remaja ini tentu bukan masalah ringan. Ini justru masalah paling berat yang dihadapi negeri ini. Tetapi apa yang terjadi?

Media di Indonesia relatif meninggalkan pelanjut estafet negara ini. Kaum muda dan remaja justru disuguhi berbagai macam program yang sangat mungkin menumpulkan kecerdasannya; sinetron, musik, infotainment, dan acara-acara kontra produktif lainnya. 

Akibatnya, generasi muda negeri ini, mayoritas hanya menjadi pembeo. Suatu kondisi yang sangat-sangat memprihatinkan sekaligus membahayakan bagi eksistensi bangsa dan negara Indonesia tercinta.

Take Action!
Saya yakin, para ibu akan sangat terpukul dengan beberapa fakta di atas, terutama mereka yang memiliki anak gadis. Apalagi, jika anak gadisnya tergolong aktif di dunia maya. 

Juga demikian halnya dengan ibu yang memiliki anak laki-laki. Ketakutan itu pasti hadir, apalagi jika pergaulan anaknya sudah terlihat kurang wajar.

Berharap kepada pemerintah, tentu bukan pilihan yang sepenuhnya tepat. Sebab, pemerintah lebih sibuk dengan Pilkada, Pileg, dan Pilpres. Lihat saja, Pilpres masih tahun 2014, tetapi sekarang sudah ramai dibahas. Sementara, solusi bagaimana mengatasi kejahatan remaja ini tak banyak dibahas apalagi diwujudkan.

Atas kondisi tersebut, maka tim redaksi kaltimtoday.com, meminta saya agar di tahun 2013 ini, saya konsen membahas masalah-masalah remaja, terutama ajakan kepada semua pihak, termasuk kepada remaja sendiri untuk menyadari situasi yang kini terjadi di negeri ini, untuk selanjutnya mengambil tindakan nyata, meski seorang diri.

Oleh karena itu, mari, bersama kaltimtoday.com, kita bahu-membahu untuk memberikan kontribusi nyata terhadap remaja-remaja bangsa. Insya Allah, tim kaltimtoday.com akan terus berkomitmen, menghadirkan artikel-artikel yang dibutuhkan adik-adik remaja. 

Karena bagaimanapun, kita tidak boleh melihat situasi ini sebagai bentuk kutukan Tuhan yang tidak akan bisa dilepaskan. Situasi demikian pernah terjadi pada zaman sebelum kita. Bahkan situasi seperti ini pula yang melahirkan tokoh-tokoh inspiratif dunia.  

Itulah sosok mayoritas para Nabi-nabi yang hadir menjadi pendobrak menuju jalan kebenaran yang mencerahkan. Ia tidak lahir di tengah kesantunan dan kereligiusan bangsanya. Ia lahir di tengah kebobrokan moral manusia di seluruh penjuru dunia. 

Inilah yang harus menjadi kesyukuran kita, karena Tuhan memberikan kesempatan sangat luas bagi putra-putri negeri untuk mengoptimalkan akalnya untuk melakukan suatu perubahan. Membawa Indonesia yang kini terpuruk menuju Indonesia yang terhormat. 

Kita tidak boleh pesimis apalagi putus asa. Situasi buruk ini, jika kita sikapi dengan tepat akan mengantarkan kita semua menjadi manusia-manusia tangguh, yang akan menginspirasi masyarakat lain bahkan manusia di masa mendatang. 

Jika kita tidak puas dengan media yang ada, mengapa kita tidak membuat media sendiri yang penting bagi kehidupan kita mendatang? Jika kita tidak puas dengan pemerintah, lalu mengapa kita tidak beraksi sendiri meski tak diapresiasi? 

Beraksi, dan teruslah beraksi. Karena masa depan kita ada pada pikiran yang kita wujudkan. Dengan semangat kebersamaan, Insya Allah, perubahan bangsa ini akan dapat kita lakukan. Jika pun belum berhasil, kita telah melakukan upaya perubahan, meski hanya Tuhan yang mengetahui.

__________
[IMAM NAWAWI, penulis adalah kolumnis www.kaltimtoday.com pada desk PIN (Pandangan Imam Nawawi). Juga perintis Kelompok Studi Islam (KSI) Loa Kulu, serta mantan perintis dan ketua Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII), Kutai Kartanegara, Kaltim]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel