Sukses itu Wajib atau Sunnah, Pilih Mana?


KALTIMTODAY -- Untuk menjadi sosok yang luar biasa, maka kita pun harus melakukan sesuatu yang luar biasa pula, melampaui kebiasaan orang yang biasa-biasa saja. 

Sedikit saja kita mampu “membedakan” diri dari apa yang biasa orang lain lakukan kesehariannya, maka berarti kita telah berbuat sesuatu yang “cukup” luar biasa, untuk tidak menjadi sosok yang biasa-biasa. 

Dan, tentu, akan lebih dahsyat lagi, manakala kita mampu melakukan hal yang spektakuler, jauh melebihi orang-orang di sekitar kita. 

Bukan rahasia lagi, bahwa semua orang memiliki mimpi untuk menjadi sukses. Dan level ini merupakan kelas biasa. Ana-anak, para remaja, orang-orang dewasa, tua, semua memiliki mimpi. Namun sekali lagi, sekedar mimpi. Tidak ada yang membedakan antara golongan ini. 

Padahal, lihatlah dari sudut umur, betapa mereka memiliki kesenjangan yang sangat kontras. Namun dalam level yang lain –dalam bercita-cita-, mereka justru berada di kelas yang sama; kelas mereka yang hanya sekedar bermimpi atau berkeinginan. 

Untuk lebih meningkatkan “derajat” dari golongan yang “biasa-biasa” ini, maka sebuah aksi nyata harus kita lakukan. Inilah hal yang membedakan keduanya. Golongan yang pertama hanya berhenti pada tahapan mimpi atau keinginan, sedangkan kelompok yang kedua, berusaha mewujudkan mimpi-mimpi mereka. 

Dalam kata lain, golongan pertama mewajibkan diri mereka untuk menjadi sukses. Sedangkan yang kedua hanya menjadikankanya sebagai sesuatu hal yang sunnah, bahkan lebih rendah lagi hingga level yang mubah. Buahnya, perbandingan energi yang dikeluarkan oleh keduanya,  pun berbeda, sesuai dengan persepsi masing-masing. 

Terkait hal ini, mungkin ada baiknya kita perhatikan nasehat Aa Gym, seputar motivasi meraih mimpi. Beliau berkata, “Katakanlah; “Aku harus kaya!. Bukan aku ingin kaya!”. 

Coba cermati dan hayati kalimat di atas. Dua kalimat yang hanya dibedakan satu kata. Yang pertama menggunakan kata ‘Harus/Wajib’ dan yang kedua memakai kata ‘Ingin’. Namun secara subtansi dan “ruh” dari kalimat tersebut sangat berbeda. 

Yang pertama "wajib". Apa arti wajib? Wajib sangat berkaitan tentang perkara-perkara yang harus dikerjakan, dan haram untuk ditinggalkan. Bagi mereka yang gigih melaksanakannya akan mendapat ‘surga’. Sedangkan mereka yang meninggalkannya, maka mereka akan mendapat ‘neraka’. 

Dalam konteks yang tengah kita bahas, surga di sini yaitu kesuksesan, sedangkan neraka itu berarti kegagalan. Surga itu diliputi dengan kebahagiaan dan kesenangan. Begitu pula halnya dengan kesuksesan. Orang akan merasakan kebahagiaan dan kesenangan, manakala ia telah berhasil mendapatkan yang ia idam-idamkan. 

Adapun kegagalan itu akrab dengan kesengsaraan. Tidak ada dalam sejarah dunia, ada orang puas dengan kegagalannya. Semua merasa sedih, pedih dan menyesal atas kegagalannya. Karena begitu besar beban yang ditanggung akibat dari kegagalannya, bahkan tidak jarang ada yang jatuh sakit. Inilah analogi surga dan neraka dalam kontek merengkuh kesuksesan. 

Selain itu, perhatikan pula, bahwa kewajiban hanya dibebankan kepada mereka yang telah dewasa. Dalam bahasa agama disebut Baligh. Orang yang telah menginjak usia baligh mendapat beban untuk melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan-Nya. Mereka ini disebut Mukallafiin (Orang-orang yang telah mendapat beban dalam hal agama). 

Nah, karena telah termasuk dalam golongan tersebut, maka konsekuensi atas segala tindakannya telah dibebankan terhadap dirinya sendiri. Perhitungan amal baik dan buruk amal dirinya telah dimulai. Maka ia harus berhati-hati, jangan sampai lengah hingga tidak melaksanakan kewajiban.  

Karena itu ketika seseorang telah mengikrarkan diri bahwa ia wajib sukses, itu berarti ia akan selalu berusaha untu mengejar kesuksesan tersebut, dalam segala kondisi apapun, tak ubahnya orang yang telah masuk golonga mukallifin dalam perkara agama. Ia tidak akan pernah setengah-setengah dalam berjuang, apa lagi pasif, hingga takdir mencatatkan namanya sebagai orang yang sukses. 

Tidak ada orang yang memahami konsep wajib secara utuh dan memahami secara benar hakekat wajib, yang akan mencoba-coba untuk meninggalkan kewajiban yang telah dibebankan kepada dirinya. Ia akan selalu merasa bersalah ketika ia tidak melalaikannya. Akhirnya, ia pun terus termotivasi untuk selalu berusaha.

Sedangkan kalimat yang kedua adalah ”ingin”. Kalimat ini sama sekali tidak memberikan konsekuensi terhadap si-pengucap. Ia hanya sebatas mengutarakan keinginannya. Namun tidak tersirat adanya pesan atau kesan yang terkandung dalam kalimat tersebut yang mampu menggerakkannya, apa lagi membebaninya untuk senantiasa berupaya merengguh keinginannya. Ia lepas dari zona mukallifin. Ia lebih nyaman di area non-baligh. Padahal, kondisi macam ini sangat membahagiaan masa depannya.

Camkanlah kata pepatah berikut ini, “Barang siapa yang tidak pernah merasakan getirnya/ susahnya/ sengsaranya menuntut ilmu, maka kedepan ia akan merasakan akan getirnya/ susahnya/ sengsaranya menjadi orang bodoh”. 

Pribahasa tersebut secara tersurat memang membahasa tentang urgensi menuntut ilmu. Namun hal itu tidak menutup untuk kita mengambil hikmah yang tersirat di dalamnya; bahwa kalau kita tidak pernah merasakan sengsaranya dalam mengejar kesuksesan –karena bermalas-malasan- maka kelak kita akan merasakan perihnya kegagalan. 

Menjadi sosok yang mukallaf memang tidak nyaman. Kita harus melakukan hal-hal yang diperintahkan. Harus banting tulang, peras keringat, bercucuran darah, dan kondisi ironi yang lainnya. Hal ini yang harus kita tempuh, ketika menjadikan sukses perkara yang fardu/wajib.

Tapi, ingat, di balik ini semua, terdapat hiburan sekaligus janji dari Allah, bahwa bersama dengan kesengsaraan itu terdapat kebahagiaan. Sebaliknya, mengkondisikan kesuksesan sebagai perkara biasa (Sunnah/mubah) itu melenakan kita. Kita akan acapkali meremehkan untuk tidak melaksanakan, karena memandang hal tersebut bukan perkara wajib, yang kudu dikerjakan. Tapi ingat akibatnya telah tergambar begitu terang dari pribahasa yang termaktub di atas. 

Kini, saatnya kita renungkan, telah kita kategorikan ke perkara manakah kesuksesan kita; Wajib atau yang lainnya?? Semua memiliki konsekuensi yang jelas. Sebab itu, tentukan pilihan sekarang, dan mari mulai beraksi. 



[Robinsah, artikel ini ditulis untuk www.kaltimtoday.com. Motivator muda ini adalah penulis di www.akbarnews.com juga menjadi kontributor aktif di sejumlah kanal transmisi untuk isu-isu sosial dan kegamaan. Ia juga aktif di Asosiasi Penulis Islam –API-. Sumber gambar ilustrasi: HereIsTheCity]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel