News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Begini Anak Muda “Rayakan” Valentine’s Day

Begini Anak Muda “Rayakan” Valentine’s Day

KALTIMTODAY -- Pergeseran zaman terus bergulir sembari menumpuk problematika kehidupan yang tak terselesaikan. Dinamika kehidupan, khususnya generasi muda, semakin nanar terkontaminasi budaya pragmatis dan hedonis. 

Realita memperlihatkan, budaya paganisme tersebut telah turut andil menjerumuskan kehidupan rakyat bangsa ini ke dalam krisis multidimensi. Wajar jika kemudian banyak rakyat hidup miskin meski berada di atas bumi yang kaya sumber daya alamnya.

Gaya hidup serba instant dan hura-hura telah membius banyak masyarakat kita. Alhasil, bangsa ini tidak mampu lagi menyeleksi apalagi membendung derasnya agresi budaya asing. Nyatanya harus diakui jika budaya Barat telah banyak membawa ajaran yang bertentangan dengan norma kehidupan beragama.

Salah satu budaya Barat yang begitu eksis di tengah masyarakat Indonesia hingga saat ini adalah perayaan Valentine’s Day yang diklaim hanya setiap 14 Februari tiap tahunnya. 

Hegemoni Valentine’s Day yang didaulat sebagai “Hari Kasih Sayang” sebenarnya telah menuai penolakan dari berbagai kalangan terutama Islam. Hal ini dikarenakan perayaan Valentine’s Day sejak dulu hingga kini, cenderung dipersepsikan sebagai ajang bebas bermaksiat.

Coba perhatikan, berita di media masa ketika memasuki tanggal 14 Februari hampir serempak mengangkat kasus ditemukannya pasangan mesum di berbagai tempat. Dengan dalih mengekspresikan rasa cinta, pasangan yang kebanyakan remaja tersebut memanfaatkan momentum Valentine’s Day untuk pesta seks. Inikah akulturasi budaya yang kita harapkan dari peradaban Barat?

Oleh Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Tetap Riset Ilmiyyah dan Fatwa, Saudi Arabia) menyatakan ‘Idul Hubb (perayaan Valentine’s Day) termasuk perayaan yang dikategorikan tasyabuh (meniru-niru) dan termasuk salah satu hari besar dari kaum pagan. Karenanya, diharamkan untuk merayakannya bagi umat Islam yang dirinya mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Selain itu, sebagaimana kita baca, perayaan Valentine’s Day telah menjadi ajang maksiat massal yang terjadi tidak hanya pada orang dewasa, bahkan remaja “ingusan” pun banyak yang menjadi korbannya. Lalu, mengapa semarak Valentine’s Day masih sering kita jumpai tiap tahunnya di Indonesia? 

Doktrin Valentine’s Day yang disinyalir berasal dari ritual paganisme bangsa Romawi kuno, perlahan namun pasti menggiring generasi bangsa untuk menyembah berhala. Banyak referensi yang menjelaskan kisah awal mula perayaan Valentine’s Day meski terdapat beragam versi namun memiliki tema yang sama yakni memuja St. Valentine.

Sulit diterima nalar sehat, bahwa budaya Valentine’s Day yang tidak sesuai dengan budaya luhur bangsa ini, mampu begitu konsisten diperingati dan dirayakan banyak elemen bangsa Indonesia dari masa ke masa. 

Lawan Budaya Amoral!
Apologetika dari kaum Orientalis-Barat yang direkayasa sedemikian rupa ternyata belum mampu menjelaskan kebenaran asal-usul Valentine’s Day. Simpang-siurnya versi tentang sejarah Valentine’s Day membuktikan tidak logisnya memperingati dan merayakan rasa “Kasih Sayang” hanya setiap 14 Februari tiap tahunnya.

Sayangnya, hegemoni Valentine’s Day semakin menguasai sendi-sendi kehidupan masyarakat negeri ini. Lihatlah papan reklame, poster-poster di jalanan, dekorasi di tempat-tempat perbelanjaan dan media masa yang bertebaran di negeri ini ketika mendekati 14 Februari, banyak diantaranya berisi pernak-pernik yang bernuansa pink dan menawarkan aksesoris Valentine’s Day.

Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan dengan jumlah penduduk lebih dari 222 juta jiwa yang heterogen, tentu kondisi tersebut merupakan tantangan tersendiri dalam upaya menolak budaya pagan ala Valentine’s Day. 

Upaya untuk menangkal arus globlisasi yang bermuatan negatif benar-benar urusan serius yang mesti diprioritaskan solusinya. Berikut beberapa tuntunan dalam filterisasi budaya asing yang amoral, diantaranya:

Menjadikan Keluarga sebagai Benteng. Kerap kali lingkungan jadi musuh bebuyutan atas perubahan besar yang terjadi pada anak. Perubahan anak sering dipandang terjadi karena sikap adopsi dari lingkungan pergaulannya di masyarakat. 

Meski tidak selamanya lingkungan itu memberikan banyak pengaruh negatif, namun tetap lingkungan keluarga harus memberlakukan filterisasi yang baik pada asupan gizi budaya bagi diri anak setiap harinya. Pentingnya memberlakukan keluarga sebagai filter, disebabkan oleh semakin gencarnya serbuan budaya asing yang beranjak masuk ke ranah paling vital generasi bangsa ini.

Membangun Keteladanan Jiwa Pahlawan. Eksisnya budaya Valentine’s Day sangat dimungkinkan akibat minimnya keteladanan dalam diri generasi masa kini. Sudah saatnya jiwa kepahlwanan para pejuang kemerdekaan Indonesia harus dibudayakan lagi dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak cukup jika hanya menjadi pajangan di dinding ataupun sekedar seremonial dalam upacara bendera. Dengan jiwa kepahlawanan yang tinggi, akan memperkokoh ideologi seseorang sehingga tidak mudah dirinya mengikuti apalagi “dijajah” budaya yang tidak sesuai dengan jati dirinya.

Membangkitkan Kesadaran Berilmu. Demi membebaskan manusia terutama generasi muda penerus kepemimpinan bangsa ini, dari “cengkraman” Valentine’s Day yang merupakan produk budaya jahiliyah (bodoh) yang penuh irasionalitas, maka menuntut ilmu adalah suatu keharusan tanpa batas waktu. 

Dengan ilmu, generasi Indonesia tidak akan menjadi generasi yang hanya “mengekor” budaya asing apalagi sudah jelas bertujuan merusak moralitas bangsa.

Demikianlah ulasan singkat, sekedar refleksi atas merebaknya virus Valentine’s Day yang telah menciderai norma masyarakat beradab, tanpa bermaksud mendiskriminasikan kelompok mana pun. Harapannya, generasi muda Indonesia yang akan melanjutkan tongkat estafeta kepemimpinan negeri ini kelak. 

Jadi, anak muda yang cerdas dan berakal sehat punya cara tersendiri bagaimana “merayakan” Valentine’s Day. Yaitu menjadikan setiap momentum untuk senantiasa mamantapkan diri membangun tradisi keluarga yang agamis dan kokoh, keteladanan terhadap pahlawan, kesadaran berilmu.

Kita tentu berharap generasi muda bangsa ini mampu bijaksana dalam menyikapi aksi westernisasi (pembaratan segala sektor) yang gencar melanda negeri ini. Hasilnya, kita berdoa bersama agar takdir yang kelak terjadi di atas bumi pertiwi menjadikan Indonesia lebih baik dari saat ini. Semoga.


By Zainal Arifin | www.kaltimtoday.com | Ilustrasi: Wordpress


Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.