Capai Rp605 Miliar Atasi Banjir Samarinda


KALTIMTODAY -- Pemprov Kaltim mengaku terus berupaya memberikan bantuan kepada Pemkot Samarinda untuk penanganan Banjir di sejumlah titik yang kerap kali menghantui warga Samarinda. Sejak 2011 hingga 2013, setidaknya nilai bantuan itu mencapai Rp605 miliar.

Hal itu dikatakan, Wakil Gubernur Kaltim, H Farid Wadjdy di Samarinda, Rabu (30/1), dikutip kaltimtoday.com dari laman resmi Pemprov Kaltim, terkait upaya Pemprov Kaltim membantu sejumlah daerah untuk penanganan banjir, khususnya di Kota Samarinda.

Bantuan tersebut dilakukan dalam Program Terpadu Pengendalian Banjir Kota Samarinda yang difokuskan pada empat sub sistem, yakni Sub Sistem Karang Mumus yang diarahkan untuk mereduksi banjir di sepanjang Bantaran Banjir Sungai Karang Mumus.

Sejumlah kawasan tersebut, yakni di Desa Wisata Pampang, kawasan pertanian Lempake, daerah rawan banjir, Bengkuring, Jl PM Noor, Perumahn Gria Mukti, kawasan Unmul, Gunung Lingai, Jl Sentosa, Remaja, Pemuda, A Yani dan Sempaja, kawasan Vorvo, kawasan  Temindung, Jl Gatot Subroto, Jl Grilya, Jl Pelita dan Jl Lambung Mangkurat.

“Penanganan tersebut, termasuk peningkatan dan penguatan Bendung Benanga, sehingga mampu menambah tingkat reduksi banjir Sungai Karang Mumus,” kata Farid Wadjdy.

Selanjutnya penanganan banjir untuk Sub Sistem Karang Asam Kecil  yang dilakukan untuk kegiatan fisik yang bertujuan mengendalikan banjir pada sejumlah kawasan rawan banjir dan sekitarnya.

Sejumlah kawasan tersebut, yakni Jl Suryanata, Jl P Antasari, Jl Juanda, Jl AW Sjahranie, Jl Kadrie Oening, Jl Cendana, Jl MT Haryono, kawasan Air Putih dan  Air Hitam.

Guna mengendalikan banjir di kawasan tersebut telah dibangun dua kawasan pengendali banjir, yaitu kolam retensi di kawasan Air Hitam dan di Gang Indra. Selain itu juga dibangun Bendung Pengendali (Bendali) Banjir di Jl HM Ardans pada 2011, guna mengendalikan limpasan Sungai Manggis yang merupakan daerah hulu sub sistem Karang Asam Kecil.

Kemudian Sub Sistem Karang Asam Besar dan Loa Bakung. Diakui kawasan tersebut belum separah di tiga lokasi lainnya, namun mengingat perkembangan pembangunan di sepanjang Alur Sungai Karang Asam Besar yang sangat pesat, tentunya akan berdampak pada kerawanan banjir.

Karena itu, perlu penanganan dini sehingga potensi banjir dapat dikendalikan, sejumlah upaya yang dilakukan adalah, normalisasi anak Sungai Karang Asam Besar yang meliputi Perumahan Elektrik dan Jembatan I. Kemudian normaliasai Sungai Kemuning, normaliasi darainase Sub Sistem Kahoi dan Optimalisasi drainase di Jl Revolusi.

Selanjutnya adalah penanganan banjir di Sub Sistem Loa Janan dan Rapak Dalam. Upaya ini dilakukan dengan pembangunan Kolam Retensi di Loa Hui, normalisasi sungai dan pembangunan Kolam Retensi Rapak Dalam, normaliasi Sungai Loa Lah dan membuat sodetan  menuju Sungai Loa Janan. Normalisasi Sungai Keledang dan drainase Kompi Senapan C di Jl Cipto Mangunkusumo.

Dengan upaya tersebut diharapkan mampu mengendalikan atau menangani banjir sejak dini di kawasan tersebut, seiring dengan kian betambahnya permukiman penduduk daerah itu.

Dalam kesempatan itu, Farid minta dukungan seluruh warga Samarinda, turut membantu pemerintah dalam penanganan kawasan banjir, sehingga dapat segera dirasakan bersama.

“Apapun yang dilakukan pemerintah untuk menangani banjir, tentu sangat membutuhkan dukungan dan partisipasi seluruh masyarakat,” tegas Farid Wadjdy.

Menurut dia, bentuk partisipasi tersebut bisa dilakukan dengan melakukan hal yang paling terkecil sekalipun, misalnya membudayakan  hidup tertib, dengan membuang sampah pada tempatnya dan melakukan gotong royong membersihkan saluran air di lingkungan masing-masing.

“Saya yakin jika masyarakat peduli dan ikut berpartisipasi,   upaya pengendalian banjir di Kota Samarinda akan lebih cepat, sehingga dampaknya segera dirasakan bersama,” demikian Farid Wadjdy. (jay-sar/hmsprov/ktc).

Foto ilustrasi: Banjir di Samarinda by Adhie Adies via Blogspot

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel