News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Hewan Saja Bisa Hebat, Kenapa Kita Tidak?

Hewan Saja Bisa Hebat, Kenapa Kita Tidak?

SEBAGIAN besar dari kita pasti ingin mempunyai keahlian tertentu. Seorang profesional, memang, akan membuat kita takjub karena mampu melakukan hal yang luar biasa.

Itu membuat kita terpesona. Semisal tatkala melihat anak muda yang sudah mempunyai usaha dalam skala besar sehingga didapuk sebagai pengusaha muda sukses.

Kita terkesima tatkala melihat seseorang yang masih muda tapi sudah menulis banyak buku yang kerennya semuanya bestseller. Ada juga sebagian dari kita yang mungkin kagum tatkala melihat anak kecil yang sangat fasih berbahasa asing. Atau dengan banyak hal-hal lain yang kita anggap istimewa.

Dan, akhirnya pertanyaan yang timbul adalah apakah itu semua adalah bakat-bakat khusus yang hanya diberikan kepada orang-orang tertentu saja? Ataukah, memang sudah takdirnya yang demikian?

Dan, yang tidak wajar, biasanya secara tak langsung pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi justifikasi bagi kita bahwa kita adalah termasuk pribadi-pribadi yang tak berbakat bahkan sampai berfikiran ah kita nggak akan mungkin bisa seperti mereka.

Untuk mengatasi keminderan kita itu, akhirnya juga banyak bermunculan wadah atau sarana untuk meng-upgrade potensi diri. Seperti seminar, workshop dan lain sebagainya. Yang intinya semua bertujuan untuk mengubah mindset dan me motivasi kita. Sehingga kita mampu melakukan dan memiliki keahlian semisal orang-orang luar biasa di atas.

Namun sayangnya, motivasi yang kebanyakan dibangun melalui media seperti seminar dan workshop ini, hanya membakar dan membara untuk beberapa saat. Tidak tahan lama. Akhirnya setelah satu dua hari, motivasi tersebut kembali redup. Rasa bosan lebih dahulu hadir ketimbang keahlian yang harusnya dikuasai.

Menciptakan Habits
Kekeliruan cara pandang yang banyak tertanam di benak kita harus diluruskan. Bahwa sejatinya motivasi bukanlah modal utama untuk membentuk pribadi yang ahli dalam suatu hal.

Motivasi yang disampaikan seorang pembicara yang sering kali lebih hanya permainan mimik, visualisasi, party concept, bahasa, dan intonasi, hanya sebagai kunci awalnya saja.

Kita butuh lebih dari sekedar motivasi. Sehingga pada dasarnya untuk memiliki suatu keahlian dua kunci utamanya adalah repetisi (pengulangan) dan practice (latihan). Bila seseorang banyak melatih dan mengulang, baik terpaksa ataupun sukarela. Niscaya ia akan menguasai keahlian tertentu. Dan inilah yang disebut sebagai habits (kebiasaan).

Sejatinya untuk menciptakan atau menguasai keahlian yang sifatnya profesional, lebih tergantung kepada habits daripada motivasi. Sebagai contoh, setiap murid pasti ingin dirinya cerdas atau minimal ahli dalam suatu mata pelajaran. Nah, untuk mencapai hal itu tidaklah cukup hanya dengan motivasi guru atau orangtua.

Murid tersebut harus membangun habits. Misalkan ingin mengusai suatu pelajaran, maka si murid haruslah sering-sering belajar dan latihan khususnya tentang mata pelajaran yang ingin ia kuasai.

Maka dari itu, untuk menjadikan diri kita sebagai pribadi yang ahli. Hendaknya kita memiliki habits atau kebiasaan yang nantinya akan mengantarkan kita menuju apa yang kita ingin capai. Walaupun memang untuk menciptakan habits yang baik tidaklah mudah, dan sulit pada awalnya. Namun seketika ia sudah terbangun, maka akan sulit pula untuk menghentikannya.

Bahayanya, ini juga berlaku kebalikannya. Manakala kita terbiasa melakukan hal-hal yang buruk, maka habits buruk tersebut pun sulit untuk dihentikan, atau diputus siklusnya. Oleh karena itu, bangunlah sesuatu yang baik, latihan dan ulangi. Begitu seterusnya, agar habits baikpun bisa terbangun dalam diri.

Jangan Menyerah!
Jadi jelaslah bagi kita, bahwa sebab mengapa kita belum mampu untuk menguasai hal-hal yang kita inginkan karena kita belum membangun tradisi yang baik.

Kenapa kita begitu-begitu saja, serasa tidak ada kemajuan. Jawabannnya, karena kita belum cukup banyak mengulang dan belatih, baik terpaksa maupun sukarela. Dan ingat, ini bukanlah masalah bakat, kurangnya motivasi, atau hal lain yang kita pikirkan selama ini.

Membahas tentang berpikir, mungkin kita harus lebih banyak belajar kepada hewan-hewan sirkus. Mereka sejatinya tidak pernah banyak berpikir karena mereka memang tidak dikaruniai akal. Tetapi mereka mampu melakukan apa yang diperintahkan sang pawang.

Lihat saja bagaimana piawainya burung yang bisa berhitung, lumba-lumba yang meloncati gelang api juga berang-berang yang pandai menceploskan bola basket ke dalam keranjang. Itu semua karena mereka tidak banyak “berteori”, hanya berlatih, dilatih, dan akhirnya ahli.

So, apa lagi yang kita tunggu. Mari ciptakan habits dan konsisten merintisnya. Bukankah kita semua ingin seperti orang-orang luar biasa di atas, dengan keahlian mereka yang istimewa. Semoga kita juga mampu untuk mewujudkannya, Aamiin.


By Yahya Ghulam Nasrullah | www.kaltimtoday.com | Ilustrasi: Teamaltman


Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.