Inggris Seru, Spanyol yang Membosankan


KALTIMTODAY -- Melihat hasil sementara perolehan poin dari dua liga besar Eropa antara negeri Ratu Elizabeth dan Ratu Isabella sepertinya amat kontras. 

Di Inggris situasinya lebih menarik karena dominasi MU masih berada di bawah bayang-bayang kebangkitan City. Sementara di Spanyol, dominasi Barcelona nyaris tak terkejar oleh tim manapun.

Di Inggris kita masih bisa melihat psy war (perang urat syaraf) para pemain. Sesuatu yang tak perlu ada lagi di Spanyol. Lihat saja semangat tinggi Joe Hart dalam kesiapannya dalam laga ahad dini hari lusa.

Manchester City akan menentukan nasibnya sendiri dalam upaya mempertahankan gelar Liga Primer Inggris dalam lawatan ke kandang Southampton pada Ahad (10/2) dini hari WIB.

Jika gagal meraup poin penuh di Stadion Saint Mary, peluang City untuk memangkas defisit dari Manchester United bakal pupus.

"Kami harus menang di Southampton. Kami tidak bisa menutupi fakta bahwa kami tertinggal sembilan poin," kata kiper City, Joe Hart, seperti dilansir laman resmi klub.

Di Spanyol, sudah tidak ada lagi pembicaraan penting dan menarik, karena Barcelona hampir bisa dipastikan akan keluar sebagai juara. 

Di sisi lain, berbicara bintang sepakbola, di Inggris lebih dinamis daripada Spanyol. Bintang Barcelona adalah sosok-sosok pemain yang relatif biasa saja. Messi misalnya, ia termasuk pemain bagus yang lebih karena kondusifnya kondisi klub, sehingga bakat bermainnya tersalurkan dengan baik. 

Mungkin cerita akan berbeda jika Messi berada di klub tak sekualitas Barca. Boleh jadi hal itu juga yang membuat pemain Argentina itu berpikir 1000 kali untuk meninggalkan klub Catalan itu. 

Berbeda dengan rivalnya di Madrid, sekalipun tak seperti Messi dalam perolehan gelar dan pencatatan rekor, CR7 adalah pemain yang pernah membela dua klub besar Eropa. Jadi, CR7 dari sisi pengalaman, lebih unggul daripada Messi.

Di Inggris, keberadaan pemain cukup dinamis. Mereka yang ok di Liga Primer tak melulu dari penguasa klasemen, tetapi juga bisa hadir dari klub yang tak favorit. 

Maka dari itu, kita mestinya melihat bahwa pemain yang cukup siip dalam karirnya sebenarnya adalah bukan sekedar mereka yang berada di klub besar. Tetapi pemain yang tetap tajam, meskipun secara tim tak begitu menguntungkan. 

Type pemain ini bisa kita nobatkan pada Luiz Suarez. Penyerang utama Liverpool itu tetap trengginas dalam mencetak gol, meski timnya masih berkutat di papan tengah. Ia mampu mengejar perolehan gol RVP di MU, padahal secara tim, Liverpool tak sebaik MU apalagi Barca. Nah, ini dia yang menjadikan Inggris lebih berwarna daripada Spanyol.

Kemudian dari sisi permainan, setiap tim besar Spanyol nyaris bisa dipastikan akan melumat habis tim bawah di kompetisinya. Berbeda dengan Inggris, klub besar tak otomatis bisa menggilas tim papan bawah.

Hal itu pernah dirasakan MU dan City, termasuk klub kaya asal London Chelsea. The Blues justru mendapat hasil buruk ketika menghadapi tim-tim yang di atas kertas jauh di bawah levelnya. 

Bukti paling aktual atas anomali Chelsea ini adalah ketika ditumbangkan Newcastle United akhir pekan lalu. Menghadapi tim di peringkat lima terbawah, The Blues keok dengan skor 2-3.

Beberapa hari sebelumnya, Chelsea juga gagal meraup poin penuh dari penghuni zona merah Reading. Benitez harus puas dengan satu poin karena ditahan imbang 2-2.

Anomali itu tak hanya berlaku di Liga Primer. Di Piala FA, Chelsea pun tak mampu menang atas klub League One, Brentford. Klub kasta ketiga di kompetisi sepak bola Inggris itu sukses memaksakan hasil imbang.

Kemenangan terakhir Chelsea justru didapatkan atas tim raksasa sekelas Arsenal pada tiga pekan silam. "Saya sulit menjelaskan bagaimana kami gagal menang," kata Benitez yang saya kutip dari laman resmi Chelsea.

So, melihat Liga Inggris memang lebih berwarna, meskipun Spanyol memang telah berubah menjadi negara yang sulit ditaklukkan tim juara manapun. Terbukti, dalam laga persahabatan, Negeri Matador itu mampu menggilas Uruguay dengan skor meyakinkan 3-1. Hebatnya, pemain inti Spanyol mayoritas justru mereka yang berkarir di Barcelona dan Real Madrid.

Tetapi dalam konteks liga, kompetisi di Inggris lebih asyik karena sesuai dengan prinsip bola itu bundar, di mana klub besar tak mesti keluar sebagai pemenang. Tetapi, sudah semestinya setiap klub belajar kepada Barcelona yang mampu meracik tim sedemikian kuat, sehingga siapa saja yang menantangnya pasti akan pulang tertunduk. 

Namun, bagaimanapun, semua klub juga harus belajar pada Chelsea yang mampu mematahkan langkah Barca dalam perolehan gelar juara Liga Champion musim lalu. Inilah sepak bola, dunia nyata yang penuh cerita, fakta, ironi, data dan cita-cita. 


By Bangun Bumigiri, blog writter “Spirit Soccer” di laman www.kaltimtoday.com. Sumber gambar ilustrasi oleh David Poblador via WikiPedia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel