News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Inilah Ngerinya Skandal Judi Sepakbola

Inilah Ngerinya Skandal Judi Sepakbola


KALTIMTODAY -- Beberapa hari lalu, publik sepakbola dikejutkan dengan berita pilu dari Benua Biru. Bukan  soal “seteru” CR7 dan Lionel Messi yang seperti media siarkan selama ini. Bukan itu. 

Bukan pula berita tentang rekor baru yang tercipta dan bukan pula persaingan gelar. Ini berita, kalau dalam kamus istilah anak sekarang, berita ini Woww banget, gan!.

Kenapa "Woww" banget berita ini? Coba agan agan bayangin, kalo selama ini ada segelintir orang yang dengan sengaja mengatur skor pertandingan untuk kepentingan mereka sendiri!. Padahal, kita menginginkan kata fair play dan respect itu terwujud baik di lapangan maupun diluar lapangan. Setuju, gak, gan?! 

Tapi tidak perlu panik, soalnya para Interpol Uni Eropa atau penyidik kepolisian se-Eropa yang suka nanganin mafia-mafia jahat sudah menemukan pelakunya. Tak kurang dari 400 orang terlibat dari 15 negara yang tersebar di seluruh dunia. 

Dan, parahnya lagi gan, ternyata mereka adalah bagian dari sindikat judi bola internasional yang suka nawarin bonus ke pemain-pemain atau perangkat pertandingan agar hasil skor bisa sesuai dengan nomor yang mereka pasang di bursa taruhan!. Terbukti, 380 pertandingan di Eropa dan empat diantaranya pertandingan krusial semacam Liga Champions pernah di otak atik sama mereka. Wah, parah kan, gan?!.  

Nah, ini lebih mencengangkan lagi, salah satu markas terbesar mereka terletak di wilayah Asia Tenggara. Indonesia? bukan gan, tapi Singapura, negara kecil dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa pesat setiap tahunnya. Jadi gak heran kalo para bandar menyimpan investasi di tempat itu, selain strategis, tempatnya aman pula. 

Tapi pepatah berkata benar, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, dan pepatah itulah yang mereka rasakan saat ini. Rasain, tuh, hehehe

Namun walau demikian kita masih berada dalam zona tidak aman. Karena menurut Interpol Uni Eropa, jumlah tersangka yang didapat saat ini belumlah seberapa, karena masih banyak lagi di luar sana yang belum tertangkap dan masih berkeliaran mencari mangsa baru untuk menjalankan bisnis bejatnya itu. 

Wah, jadi gawat, dong! Iya, memang gawat, tapi mau diapakan lagi, kita sebagai penikmat sepakbola hanya bisa berharap kepada FIFA selaku induk organisasi sepakbola di seluruh dunia untuk menindak tegas hal ini, agar tidak menjadi virus bagi perkembangan sepakbola di masa mendatang.

Agan-agan pasti penasaran kan kasus pengaturan skor itu seperti apa? Nih saya kasih sedikit contoh dari kasus di atas. Agan-agan tahu klub asal Italia dengan kostum kebanggaan hitam putih, gak? Yapz bener, Juventus. 

Tim kostum ala Zebra yang tahun 2012 kemarin dapat Scudeto, itu pernah terkena skandal tersebut atau dalam bahasa Italia terkenal dengan istilah Calciopoli di tahun 2006 silam. Buahnya, mereka harus rela turun kasta ke Serie B dan menyerahkan trofi yang diraih kepada Inter Milan selaku runner up klasemen pada tahun itu. 

Ganjaran pahit itu mereka terima karena ulah pihak manajemennya sendiri yang diduga bersalah karena telah terbukti mengatur beberapa pertandingan penting di Serie A, tentu saja ada sesuatu di baliknya, namun sampai saat ini motif di balik itu semua masih dalam proses penelurusan karena belum semuanya beres. 

Masih banyak hal yang perlu diselidiki terkait skandal tersebut, termasuk dugaan konspirasi yang merugikan I Bianconerri. Tapi entahlah, yang penting hal itu sangatlah menggangu siklus perkembangan sepakbola Italia yang dengan kasus tersebut rating penyiaran sepakbola di negara itu menurun drastis. 

Awan hitam sepakbola di negeri Azzuri itu baru mulai sedikit menghilang setelah Internazionale Milano merengkuh gelar Champions League di tahun 2010 bersama Jose Mourinho yang kala itu menjabat sebagai pelatih dengan raihan trebel winner dalam satu musim.

Memang menyedihkan, apa yang dirasakan Juventus ibarat kata pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tapi bukan hanya Juventus loh yang pernah melakukan hal tersebut, masih banyak kok klub lain yang pernah ikut terlibat dengan kasus ini, bahkan wasit dan pemain juga suka ikut-ikutan latah demi sejumlah uang yang bandar tawarkan kepada mereka. 

Dari Pengadil Hingga Pemain
Untuk wasit atau sang pengadil lapangan, saya punya satu contoh yang paling hot. Kejadian ini terjadi di tahun 2009, kala itu Chelsea berjumpa Barcelona di semifinal leg ke 2 ajang Liga Champions. 

Chelsea yang pada leg pertama berhasil menahan imbang Barcelona tanpa gol di Camp Nou, hanya membutuhkan 1 gol untuk melaju ke final pada leg ke 2 semifinal Champions League yang dihelat di Stamford Bridge, namun kejadian menarik terjadi pada pertandingan tersebut. 

Bukan Drogba atau Messi yang menjadi sorotan, melainkan wasit Tom Henning Ovrebo-lah yang paling berpengaruh di pertandingan itu. Keputusan kontroversinya berhasil meloloskan Barcelona ke partai puncak dengan agregat 1-1 yang masing-masing gol tercipta pada laga tersebut. 

Dengan kejadian itu, sontak membuat pria berkepala licin berkebangsaan Norwegia ini langsung ngetop di media berkat aksi kontroversialnya itu. Kalo agan-agan gak percaya, bisa dilihat aksinya di YouTube.

Pasca pertandingan tersebut Ovrebo dan keluarganya mengaku selalu mendapatkan pesan teror pembunuhan dari fans Chelsea. Dan, akhirnya, dua tahun berselang Ovrebo buka mulut tentang kejadian itu dan mengakui kesalahannya yang pernah merugikan kubu The Blues.

Selain wasit, pemain juga banyak yang kena kasus ini, kalo diabsen jumlahnya bisa memenuhi satu lapangan sepakbola. Biasanya nih rata-rata bandar judi mengincar wasit di setiap laga, karena peran vital dalam setiap pertandingan hampir mutlak milik sang pengadil. 

Tapi, selain itu, tak sedikit pemain penting di masing-masing klub yang disasar sama bandar, seperti misalkan kapten, striker, kiper atau defender yang dikira berpotensi dapat merekayasa hasil pertandingan. Sungguh ironis, ya, gan!

Berarti Calciopoli gak baik, dong. Yupz, thats right. Selain dapat merekayasa hasil pertandingan, aksi Calciopoli juga dapat mencemari kemurnian sepakbola yang telah lama eksis dengan segala perkembangannya yang sampai saat ini masih kita rasakan keberadaannya. 

Bayangkan saja, kalau kejadian itu terus terjadi di masa mendatang, kita akan selalu disuguhkan pertandingan replay dalam antrian pertandingan yang sudah diketahui hasilnya sebelumnya, pasti gak seru, kan

Yang diinginkan penikmat bola adalah pertandingan yang fair play, menang kalah itu biasa dalam sepakbola, tapi kalau gini caranya kebangetan banget, gan. Ini sama saja dengan kebohongan publik yang bisa menimbulkan rumor negatif di kalangan pecinta sepakbola.

Terus apa yang mesti kita lakukan? Waspada dan mendukung perlawanan terhadap setiap aksi perjudian. Kita gak bisa terjun langsung dalam mencegah hal ini, karena Calciopoli dikendalikan oleh banyak pihak dari berbagai kalangan di seluruh dunia. Kita cuma bisa memberikan dukungan kepada si Sepp Blatter agar FIFA bisa menangani skandal ini dengan baik, agar sepakbola bisa terus eksis tanpa kasus seperti ini. 

Karena pada hakikatnya eksistensi dan kemurnian sepakbola itu tergantung dari pelaku di setiap zamannya. Kita jelas gak mau donk sepakbola dunia jadi hancur gara-gara kasus haram seperti ini, berarti sudah saatnya kita katakan NO Calciopolli, YES FairPlay and Respect, #SaveFootball.  


By Achmad Iskandarsyah | www.kaltimtoday.com | Ilustrasi: TheOffside

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.