Kunci Menggapai Sukses dengan Cinta


KALTIMTODAY -- Cinta adalah satu kata yang melegenda. Ia tak pernah pudar dari peredaran pembahasa bani Adam, meski masa silih berganti. 

Ia selalu menjadi objek kaji terhangat, walau telah “diteliti” ribuan tahun yang silam. Ia selalu melahirkan energi, bagi sosok yang tengah membahasnya. Apatah lagi, bagi mereka yang tengah dimabuk cinta.

Karena keunikannya, sehingga, dalam novelnya “Ketika Cinta Bertasbih (KCB)”, Habiburrahman menggambarkan bahwa cinta itu adalah kekuatan yang akan mampu mengubah duri menjadi mawar, cuka menjadi anggur, benci menjadi sayang, bahkan iblis menjadi malaikat. Itulah cinta, yang mampu menyulap keburukan menjadi kebaikan, serta kelemahan menjadi kekuatan. 

Cinta bisa kita salurkan kepada siapa atau pun apa saja yang kita cintai. Terutama, kepada keluarga, kerabat, sahabat, dan terkhusus pada pasangan hidup. Namun sayangnya, terdapat satu dimensi cinta yang kurang mendapat perhatian. 

Padahal,  ia menjadi dimensi yang sangat penting bagi kehidupan manusia, baik itu sebagai persembahan untuk orang-orang yang ia cintai, terlebih untuk dirinya sendiri di masa mendatang. Apa itu? Yaitu mencintai kesuksesan. 

Yah, kesuksesan telah menjadi hal yang langka untuk dicintai. Padahal, mencintainya termasuk dari perkara penting. Bahkan bisa jadi, lebih penting dari sosok-sosok yang tersebut di atas. Mengapa? Karena mereka semua juga mengharapkan kita sukses. 

Jadi, apabila kita sudah mencintai kesuksesan, dan mampu mengekspresikan cinta itu dalam tidakan nyata keseharian, itu juga merupakan bukti bahwa kita telah mencintai keluarga besar dan kerabat-kerabat kita, karena mereka pun akan bersuka ria dengan apa yang telah kita raih. 

Sebaliknya, dengan kurang mencintai kesuksesan, berarti kita telah merencanakan “pembunuhan” terhadap cita-cita kita. Setali tiga uang, pun termasuk kepada mereka yang kita cintai. Bukan bukti cinta namanya, bila kita tidak mampu membuktikannya dengan prestasi demi prestasi. Bukan pula disebut “buah” cinta namanya, apabila kepecundangan menjadi “kado” yang kita persembahkan untuk mereka yang kita cintai.  

Sayangnya, tidak sedikit orang yang terjerumus dalam lembah kesesatan cinta ini. mereka “membunuh” cinta-cita dengan “tangan” mereka sendiri. Dan, itu tergambar dari aktivitas serta mobilitas mereka yang rendah, pasif, kurang produktif, stagnan, dan tidak dinamis. 

Tidaklah mungkin, seorang yang telah jatuh cinta kepada kesuksesannya, memiliki karakter negatif sebagaimana yang tersebut di atas. Seharusnya, mereka terus mengejar dan mengejar kesuksesan mereka, dalam posisi dan kondisi bagaimana pun. 

Sebab, dengan berlandaskan cinta, segala sesuatu akan nampak indah, mudah, ringan, meski realitasnya, yang dihadapi itu sangat sukar. karena cinta, semua penghalang mampu dilewati. Bahasa nge-trend yang sering digunakan pujangga cinta, “Gunungan kan kudaki, lautan kan kuseberangi”. 

Inilah yang ingin saya disebut dengan ‘The power of love’. Ia mampu menggerakkan si-empunya di atas kesadaran normalnya. Ia kuasa menggiring kekuatan bawah sadar ke alam nyata, sehingga melahirkan kekuatan, energi, daya yang tak ternilai, serta tak terbatasi oleh ruang dan waktu. Semangat berjuang dan berkorban benar-benar telah terpatri dalam sanubari.

Coba kita perhatikan kekuatan cinta seorang ibu kepada anak-anaknya, terlebih ketika mereka masih dalam buaian. Demi kenyamanan sang buah hati, ia rela berkorban; mengasuh, merawat, mendidik anaknya yang tengah tak berdaya, dengan kasih sayang, tulus, tanpa rasa pamrih.

Tak jarang ia harus terjaga di tengah malam, karena sang bayi menangis; kelaparan, kehausan, buang air kecil, buang air besar, digigit nyamuk, dan lain lain. 

Namun, luar biasanya, sedikit pun sang ibu tidak mengeluh akan kondisi itu. Ia terus melayani bayinya dengan senyuman, dengan kasih sayang, dengan kelembutan, meski letih menggerogoti badan. Itulah sedikit gambaran, akan kehebatan cinta.

Ini masih dalam satu aspek, belum ditinjau dari sudut-sudut yang lain, misal, pengorbanan materi dan sebagainya. Mudahnya, cinta benar-benar mampu meramu kesukaran menjadi keindahan, sebagaimana ilustrasi yang digunakan Kang Abik dalam novel KCB-nya di atas.  

Sekarang, coba bayangkan betapa luar biasanya, bila motivasi cinta ini, juga kita salurkan  dalam mengejar kesuksesan. Semua langkah akan terasa indah, meski badai dan gelombang terus menerjang, sepanjang perjalanan. 

Jatuh-bangunnya kita, tidak akan pernah menjadi sandungan untuk menghentikan langkah dalam mengejar kesuksesan. Luka yang menganga, darah yang mengalir, sama sekali tidak membuat diri meringis, merasa kesakitan. 

Yang ada, justru terus tersenyum dan lebih terpacu untuk mendapatkan “buah hati” yang selalu diidamkan dan diusahakan; kesuksesan. Ini sejalan dengan kata seorang pujangga “Kalau sudah cinta, tahi kucing pun terasa cokelat”. 

Kalau sudah demikian, sudah pasti tidak ada istilah putus asa, patah semangat, galau, lemah jiwa, lunglai, atau kata-kata pesimis lainnya, yang mengandung unsur pelemahan diri dalam mengejar kesuksesan. 

Jadi, dari sini nampak jelas perbedaan sangat signifikan antara semangat orang yang telah dimabuk cinta dalam mengejar cita-cita, dengan mereka yang belum atau tidak memiliki rasa cinta dalam hati, terhadap kesuksesan.

Pagi ini, coba kita amati diri kita masing-masing, sudah seberapa besarkah cinta kita kepada kesuksesan?. Manakala kita dapati diri, belum begitu semangat, malas-malasan dalam berusaha meraih cita-cita, bisa jadi karena kita belum jatuh cinta -apa lagi dimabuk cinta- pada kesuksesan itu sendiri. 

Ingat, sebesar apa cinta kita kepadanya, maka sebesar itu pula upaya kita dalam mewujudkannya. So, mari kita belajar mencintai kesuksesan, sampai ia membalas cinta kita, dan tertunduk di hadapan kita, hingga kita pun tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang sukses.


By Robinsah K. Hibri | www.kaltimtoday.com | Ilustrasi: Worpress

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel