Lampu Teplok dan Pudarnya Pesona Ilmu


KALTIMTODAY -- Seperti biasa, setiap malam setelah mendirikan sholat Maghrib berjamaah, kami dan anak-anak santri langsung mengambil posisi untuk memulai kegiatan ruhani. Ngaji bersama, belajar-mengajar al-Qur’an.  

Kegiatan rutin ini bisa kami mulai dengan membaca surah al-Fatihah secara berjamaah pula. Yang demikian, adalah do’a. Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan dan kefahaman dalam belajar ini. Dan agar diberikan kemampuan, kesemangatan, kekuatan serta ketekunan dan giat belajar.

Bacaan surah al-Fatihah selesai. Santri pertama sesuai urutan jadwal maju untuk meminta bimbingan dan tuntunan mengaji. Belum sampai dua baris, tanpa pamit tiba-tiba lampu sekitar mati. Begitu juga di ruangan utama mushalla tempat kami beraktifitas. 

Kemudian tanpa dikomandu seluruh santri beristirja’ (mengucapkan; Innaalillaahi wainnaa ilaihi raajiun). Rasa kecewa dan kesal, karena lampu mati, tak dapat para santri sembunyikan.

Tanpa ba-bi-bu, saya langsung menggunakan handphone yang ada senternya menggantikan sinar lampu PLN yang tewas malam itu. Hal ini saya lakukan, terutama bagi saya peribadi, agar para santri tidak mudah menyerah dan putus asa terhadap kondisi serta keadaan tersebut.  Sehingga kegiatan mengaji tetap berjalan sebagaimana biasa di tengah keterbatasan penerang. 

Di samping itu saya meminta santri lainnya yang kebetulan rumahnya dekat untuk mengambil lampu sehen yang dia miliki. Selang beberapa saat, santri yang paling rajin ini datang dengan membawa permintaan saya. Dan, kegiatan belajar-mengajar al-Qur’an pun, Alhamdulillah, selesai berkat “bantuan” HP dan lampu sehen.

Seketika itu pula saya langsung teringat puluhan tahun silam. Ketika kami masih berumur 5-7 tahun. Pada waktu itu kami belajar mengaji, makan malam dan sahur di bulan Ramadhan masih menggunakan lampu teplok alias lampu sumbu tradisional berbahan bakar minyak tanah.

Maklum, pada waktu itu hanya alat itulah yang mampu menjadi penerang kegelapan malam saat kami kumpul bersama. Ngaji bersama. Makan malam bersama. Sahur bersama. Penerang yang kerap bikin lubang hidung menghitam itu begitu setia menemani.

Dulu, kami biasa belajar bareng teman-teman yang jumlahnya sampai sepuluh orang membentuk lingkaran mengelilingi lampu “ajaib” itu. Betapa alat sederhana itu mampu memberikan cahaya, sehingga kami bisa mengeja huruf A, BA, TA, TSA, dst. Lebih dari itu, dengan alat itu, kami membaca, bertadarrus, saling menyimak, mendengar serta menegur di antara kami apabila ada bacaan yang salah.

Bukan itu saja, mengulang pelajaran sekolah saat malam, lagi-lagi kami lalui bersama barang berharga itu. Tak masalah kami bercengkrama dengan teplok yang penting kami bisa belajar, belajar dan belajar. Karena dulu kami belum tahu bahwa membaca buku di tempat yang kurang terang dapat menyebabkan mata cepat rabun. 

Lalu, bayangan saya kemudian sampai ke zaman anak muda hari ini. Bagaimana dengan kita yang telah beranjak dari zaman “kegelapan” tersebut menuju era yang terang benderang saat ini? Begitu banyak fasilitas dan alat penunjang lainnya yang dapat kita manfaatkan. Ada lampu neon, dop dan entah apa lagi namanya yang energinya menggunakan PLTA, PLTU, PLTD, PLTS yang semuanya mampu memberikan cahaya lebih baik daripada teplok. 

Apakah dengan adanya fasilitas tersebut sifat giat, tekun, serta rajin itu sama seperti seperti dulu? Seharusnya sih demikian. Atau malah melempem dan kurang gairah? Jika demikian keadaanya berarti lebih baik kita kembali ke masa lalu.

Padahal sejatinya dengan adanya fasilitas serta alat penunjang modern hari ini, kita hatus lebih semangat, giat dan rajin.  Mari kita bersyukur dan  berterima kasih kepada para ilmuan yang telah berhasil menemukan perangkat teknologi yang jauh lebih beragam jenis dan keunggulannya ketimbang teplok. 

Lalu bagaimana caranya mensyukuri dan berterima kasih atas nikmat tersebut, yaitu dengan bersyukur kepada Allah dan dengan belajar sebaik-baiknya, memanfaatkan sebagus-bagusnya, untuk masa depan kita yang lebih baik dan selamat. Semoga. 


By Ridhal Ahmadi, penulis adalah seorang pengasuh santri di sebuah pesantren di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Sumber foto ilustrasi: Antara Sumut

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel