News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Mancini, Mourinho dan Desakan Kemenangan

Mancini, Mourinho dan Desakan Kemenangan

KALTIMTODAY – Roberto Mancini dan Mourinho nampaknya hampir senasib di musim ini. Pasalnya, kedua pelatih itu gagal membawa tim besutannya meraih poin penuh ketika menghadapi klub-klub yang di atas kertas bisa ludes digilas garangnya striker yang mereka miliki.

Bertandang ke kandang Granada, Madrid gagal total. Los Blancos kalah 0-1 dan satu-satunya gol yang tercipta adalah hasil bunuh diri Cristiano Ronaldo, tragis memang. CR7 yang biasanya merobek jala lawan, kali ini harus merobek jala sendiri.

Padahal, Madrid sebenarnya tampil sangat dominan. Statistik Soccernet mencatat tim besutan Mourinho itu unggul penguasaan bola hingga 72 persen, melepaskan 17 tembakan dan empat di antaranya mengarah ke gawang. 

Bandingkan dengan Granada yang cuma menembak empat kali dan tak ada yang tepat sasaran. Tapi inilah sepakbola, segala situasi bisa terjadi. Ada faktor eksternal yang di luar kuasa rasio manusia, yakni apa yang sering kita sebut sebagai keberuntungan yang tidak lain adalah takdir Tuhan.

Nasib serupa juga dialami Manchester City di Inggris. Sergio Kun Aguero harus puas dengan hasil imbang ketika bertandang ke kandang QPR. Padahal, pertandingan menghadapi QPR akan sangat membantu Dzeko cs, mengejar ketertinggalan poin dengan rival utamanya Manchester United. Dan, di atas kertas, mestinya City mampu melumat QPR.

Hasilnya jelas, jarak poin MU dengan City pun kembali melebar. Sementara ini, MU unggul 10 poin dari City. Dan, jika malam nanti tim asuhan Mancini gagal menekuk Liverpool di Etihad Stadium, maka City akan semakin tertinggal dari MU. Hal ini tentu akan sangat mengganggu kepercayaan diri Mancini.

Mourinho dan Mancini adalah dua pelatih yang sama-sama berhasil mengantarkan tim asuhannya tampil sebagai juara liga musim lalu. Dan, kini keduanya menghadapi situasi yang hampir sama, cenderung kurang ok ketika menghadapi tim papan bawah. Apa sebenarnya yang terjadi?

Seorang Mancini dan Mourinho memang tidak boleh bersikap jemawa, juga tidak boleh bersikap pesimis. Kemenangan tim bukan semata-mata karena kepiawaian pelatih dalam menerapkan strategi dalam sebuah pertandingan. Tetapi juga pemahaman, komitmen dan konsistensi para pemain dalam berlatih dan bertanding secara prima. 

Jika melihat hasil pertandingan pada pekan ini di mana City maupun Madrid gagal meraih poin penuh, maka tidak ada cara lain bagi dua pelatih itu selain merubah cara komunikasi dan taktik di lapangan secara lebih komprehensif. 

Artinya, seorang Mourinho tidak boleh menepuk dada dan berpuas diri dengan pengalaman masa lalunya. Karena publik sangat menantikan kecerdasannya di musim ini. Demikian pula dengan Roberto Mancini.

Akan tetapi, semangat City maupun Madrid akan terpompa sangat kuat mengingat keduanya akan menghadapi laga penting di bulan Februari ini. Malam ini, City akan menjamu Liverpool yang sedang dalam kondisi cukup baik. Gagal meraih poin dari laga ini, City benar-benar akan tertinggal dari MU.

Sementara itu, Madrid akan menjamu MU pada 13 Februari mendatang. Pertandingan itu juga penting untuk dimenangi, mengingat target Mourinho untuk menjuarai Liga Champions musim ini. 

So, kemenangan City maupun Madrid sangat dinantikan oleh para fans-nya di seluruh dunia. Dan, itu hanya akan terjadi, manakala Mourinho dan Mancini benar-benar menemukan strategi baru untuk memompa spirit anak asuhnya untuk konsisten menang dan akhirnya menjadi juara. Selamat berjuang Mou dan Mancini, kemenangan itu harus kembali diraih, walau harus susah payah.


By Bangun Bumigiri | www.kaltimtoday.com | Ilustrasi by The Mirror

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.