Sekuntum Mawar Merah, Selanjutnya…


BAGI sebagian besar remaja, bisa dibilang tak ada yang paling menarik perhatian mereka selain masalah cinta. 

Seperti apa yang diinginkan oleh bomber muda Arsenal, Abou Diaby, untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya, mungkin seperti itulah obsesi remaja tentang cinta, bahkan mungkin lebih besar lagi.

Namun demikian, hingga saat ini -sepanjang pengetahuan saya- tidak banyak diantaranya yang memahami hakikat cinta itu sendiri. Umumnya terjebak pada tampilan luar dan menari-nari di atas kehendak imajinasi hawa nafsu.

Orang yang terjebak pada kehendak imajinasi hawa nafsu itu adalah mereka yang mengisi masa remaja dan masa mudanya untuk berpacaran. 

Mengapa pacaran negatif, jelas, karena perbuatan tak wajar itulah sebenarnya yang menjadikan manusia lemah dalam segala hal. Apa pernah ada sejarah manusia yang hobinya pacaran kemudian mampu melahirkan suatu karya guna bagi bangsa dan negara? Tidak ada. 

Jika ada cinta yang membuat manusia mampu berkarya besar, itulah cinta yang disemai dan diikat atas kehendak Tuhan.

Umumnya orang mengatakan bahwa beda antara cinta dan hawa nafsu sangat tipis. Tetapi sebenarnya tidak, beda antara cinta dan hawa nafsu itu sangat jauh dan sangat jelas. 

Cinta adalah tindakan yang dilakukan atas kehendak Tuhan. Sedangkan, hawa nafsu adalah tindakan yang didasari oleh rasa yang tak tertahankan untuk merengkuh kenikmatan semata. 

Aktivitas mungkin sama, tetapi dasarnya yang membedakan. Jika ada lelaki mengatakan cinta kepada seorang wanita sementara dia tidak mau segera menikahinya tetapi ingin selalu berduaan, maka catatlah, lelaki ini ditunggangi hawa nafsu. Karena jika si wanita menerimanya, besar kemungkinan perzinahan akan terjadi.

Sebaliknya, jika ada lelaki yang tidak perlu membual, tetapi ia segera melamar sang gadis, dan si gadis dapat memastikan bahwa ia lelaki yang berbudi pekerti luhur, maka sadarlah, lelaki itu pembawa cinta. Jika si wanita menerimanya, besar kemungkinan dia akan bahagia, bahkan tidak mustahil generasi hebat akan lahir dari rahimnya.

Salah Alamat
Cinta lebih sering dilihat secara salah, dengan melihat perpaduan kulit dengan kulit. Tidak lebih, itulah mengapa dalam iklan, wanita yang akan dilirik lelaki adalah yang rambutnya bagus, kulitnya putih, termasuk uangnya banyak dan sebagainya.

Umumnya orang mengakui hal tersebut. Tetapi, itu bukanlah dimensi cinta yang terdalam. Ia lebih merupakan instrumen yang merangsang hawa nafsu belaka. 

Tanpa iman dan budi pekerti luhur, hasilnya pasti, kegalauan, keretakan bahkan perceraian. Padahal, pada masa pacaran, mereka terlihat seperti pasangan abadi. Tetapi, cinta mereka semu, mudah basi dan cepat sekali layu.

Buktinya sederhana, coba lihat sebagian besar riwayat cinta para artis. Tidak ada di antara mereka yang tidak bermula dengan pacaran. Tetapi apa yang terjadi ketika pernikahan dilangsungkan, tidak lama kemudian mereka tampil lagi di depan kamera dengan segudang masalah yang mengarah pada perceraian. 

Cinta tidak mungkin egois, cinta tidak mungkin meruntuhkan apalagi mencerai-beraikan, cinta bahkan tidak mungkin menganiaya pihak lain. 

Hanya hawa nafsu yang tega melakukan itu semua. Karena hakikatnya, hawa nafsu memang sangat suka dengan sikap tidak bertanggung jawab. 

Meminjam istilah mereka yang telah tercampakkan, "habis manis sepah dibuang". Maka tidak heran jika belakangan berita pemerkosaan, pergaulan bebas, sampai pada pembuangan dan penjualan bayi marak terjadi. 

Apa yang menyebabkan semua itu terjadi, tentu hawa nafsu. Sebab jika cinta yang mendasari, maka tak mungkin seorang wanita tega membuang bayinya, apalagi menjualnya. 

Sangat mustahil wanita yang lembut memotong-motong janinnya (aborsi) kecuali perbuatannya itu didasari hawa nafsu. Sebuah tindakan yang tak pernah dilakukan oleh seekor binatang pemangsa apapun, termasuk singa dan harimau.

Wujud Cinta
Dalam peradaban Barat, cinta sering divisualisasikan dengan sekuntum mawar merah. Kemudian meraih tangan sang wanita dan menciumnya. Di dalam film-film bahkan juga sinetron, cinta diwujudkan dengan adegan ciuman, pelukan bahkan adegan di atas ranjang. 

Semua itu tentu didasari atas perasaan suka sama suka. Itulah mengapa pergaulan bebas di Barat legal, karena tidak ada unsur pemaksaan. Malahan harus dilindungi karena merupakan wujud hak azasi manusia.

Logika pendek mungkin berkesimpulan bahwa dengan pembebasan pergaulan angka kriminalitas dalam hal seksual akan tereleminir atau bahkan menjadi tidak ada. Tetapi benarkah kesimpulan itu?

Rubrik "Resonansi" HU Republika (8/2/2013) menurunkan fakta mengejutkan bahwa statistik justru membuktikan bahwa kasus perkosaan paling banyak terjadi di negara-negara liberal. Saudi menduduki peringkat ke-115 dan Indonesia ke-109. 

Urutan pertama diduduki Prancis, disusul Jerman, Rusia, Swedia, Argentina, Belgia, Filipina, Spanyol, Chile, dan Lesotho. Sedangkan Amerika Serikat menduduki peringkat ke-57”. Lah, inikah wujud cinta, kebebasan dan kebahagiaan?

Cinta memang fitrah. Tak satu pun makhluk hidup yang eksis di dunia ini yang tak memiliki rasa cinta. Buaya pun punya rasa cinta. Problemnya adalah, banyak remaja yang tidak memahami cinta. 

Teori puberitas menjadi alasan untuk melampiaskan cinta dengan berpacaran, terlebih pada masa hari yang asal-usulnya tidak jelas, Valentines Day. Hari yang menurut sebagian orang adalah hari kebebasan seksual. Akhirnya banyak yang mengamini remaja berpacaran. Dan, pacaran zaman sekarang itu sudah umum dilakukan layaknya pasangan suami istri.

So, apa yang terjadi? Pergaulan bebas remaja sudah umum di mana-mana, aborsi apalagi, dan pembuangan atau penjualan bayi makin kerap terjadi. Inikah cinta yang diwujudkan melalui pacaran? 

Lantas, atas landasan apa sahabat muda berpacaran? Cukuplah berita pemerkosaan, perzinahan, aborsi dan pembuangan atau penjualan bayi sebagai bukti dari prahara cinta yang sesat. 

Cinta terlaknat mengundang kutukan dan kehinaan. Dimana semua itu berawal dari satu perilaku buruk, yakni pacaran. Suatu perilaku yang mendorong manusia mencari kenikmatan sesaat secara haram, namun tak pernah sadar, apalagi sanggup untuk bertanggung jawab. Sadarlah!*

______*) IMAM NAWAWI, penulis adalah kolumnis kaltara.news . Ikuti juga cuitannya di @abuilmia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel