Tumbuhkan [Lagi] Spirit Bayi Dalam Diri

KALTIMTODAY -- Semangat adalah kata dasar yang harus dimiliki oleh setiap orang yang menginginkan kesuksesan. Tanpanya, sukar kiranya untuk mewujudkan sebuah mimpi di masa mendatang menjadi kenyataan. 

Seberapapun melimpah modal yang di miliki, dan sebanyak apapun kesempatan/peluang yang menghampiri, semua tidak akan berarti apa-apa, jika semangat tengah redup, apa lagi mati. 

Dengan semangat orang akan bergerak, akan berjibaku, tidak mudah menyerah untuk mengejar cita-cita. Ia akan selalu berjuang tanpa kenal lelah. Rintangan yang menghadang tak menjadikannya ciut, patah semangat, kemudian lunglai dengan keadaan. 

Yang ada, ia justru semakin tertantang untuk mencoba lagi, mencoba lagi, dan mencoba lagi, hingga tercapainya yang diharapkan.  Ia tidak akan peduli harus berapa kali terjatuh. Ia terus bangun, bangkit, kemudian memulai lagi tanpa ada rasa putus asa. 

Spirit yang tidak pernah padam macam inilah, sejatinya yang harus ditanamkan dalam setiap diri yang menginginkan kesuksesan. Dan ini sudah menjadi ‘mahar’ yang wajib dibayar, sebagai ‘tebusan’ untuk kita menikmati manisnya kesuksesan di masa depan.  

Selama hal ini belum terpatri dalam diri, dan menjadi karakter dalam perjuangan, maka jangan harap kesuksesan akan mampu direngguh. Tidak ada sejarah dunia mencatat, bahwa ada seorang yang sukses di dunia ini, baik dari Timur ataupun Barat, mampu menoreh kesuksesan dengan modal spirit yang tanggung, apa lagi dengan semangat menus. Semua dalam kondisi all out (mati-matian) mencurahkan keseriusannya untuk sebuah kesuksesan. 

Dari dunia Timur, kita ambil contoh Imam Bukhari. Beliau merupakan ahli hadits yang kesahihannya tidak bisa diragukan. Untuk mendapatkan itu semua, beliau harus menapaki negeri demi negeri dengan berjalan kaki. 

Bahkan, termuat dalam sejarah, bahwa beliau telah melakukan perjalanan kaki untuk mencari hadits sepanjang 16 tahun lamanya. Petualangan yang sangat panjang dan tentu syarat akan lika-liku perjalanan. 

Selain beliau, ribuan nama ulama telah tertulis dengan indah dalam buku sejarah, bahwa mereka telah sukses menggapai apa yang mereka cita-citakan (Menguasai ilmu), dengan nilai juang yang tiada tandingnya. Ada Ibnu Hajar al-Asqolani, Imam Syafi’i, Imam Nawawi, dan lain-lain.

Selanjutnya, Dari dunia Barat, kita belajar sepirit juang dari Thomas Alva Edison, sang penemu bola lampu. Demi mewujudkan mimpinya untuk menemukan sebuah lampu, ia harus melakukan penelitian dan percobaan, hingga ribuan kali banyaknya. Baru yang setelah itu ia sukses menemukan cara yang benar dalam membuat lampu pijar. Hingga sekarang, kitapun merasakan buah dari penemuannya.   

Spirit yang terus berkobar inilah, yang menjadikan para tokoh di atas selalu bergairah untuk menggapai cita-cita mereka hingga sukses, meski tidak jarang harus berbenturan dengan batu karang. Dunia pun kemuadian mencatat mereka semua dengan ‘Tinta Emas’, sebagai sosok-sosok yang telah mampu menorehkan sejarah di bidangnya masing-masing.

Modal Itu Sudah Ada
Terkait hal ini, mungkin akan timbul pertanyaan di benak kita; Bagaimana kita menumbuhkan sepirit juang yang demikian rupa?? Sejatinya, bila kita ingin berfikir sejenak, dan berusaha mengembalikan memori kita di masa lalu; bayi/anak-anak, maka sesungguhnya sepirit itu telah ada dalam diri kita masing-masing. Kita pernah berada pada fase di mana semangat kita berada pada level tertinggi ketika kita berumuran demikian. 

Kalau memang kesulitan, mudahnya, perhatikanlah bayi-bayi yang tengah belajar berjalan di sekitar kita. sungguh kita juga pernah melalui masa-masa demikian rupa, di mana kita tertatih-tertatih untuk belajar berjalan. Semangat tidak pernah surut. Terus mengebu-ngebu, menggelora, tak ubahnya api yang membakar kayu bakar yang terus membara.

Saat itu, ketika belajar berjalan, kita tertatih-tatih. Tapi tidak pernah menyerah. Sekali kita menapakkan kaki, saat itu, maka sekali itu pula kita jatuh. Kita terus bangun, untuk mencoba berjalan lagi. Terjatuh lagi, kita bangkit lagi, dan belajar lagi. Luka yang menganga di kaki, tangan, wajah, dan di bagian tubuh yang lain, sama sekali tidak menyurutkan semangat kita untuk terus belajar berjalan. 

Dan kondisi ini terus berlanjut, sampai kita bisa berjalan, berlari, hingga akhirnya kita jumpai diri kita saat ini; yang telah mahir berjalan ke mana-mana, tanpa harus didampingi oleh seorang pengamanpun. 

Ini artinya bahwa spirit juang yang tak pernah padam itu pernah ada dalam diri kita. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, bara itu terus mengecil bahkan nyaris padam, karena terus terbentur dengan gesekan-gesekan di sekitarnya. Di sisi yang lain, kita tidak pernah berusaha untuk menjaga nyalanya.

Tugas kita kini, berusaha menumbuhkan kembali spirit juang itu. kita sudah punya modal. Tinggal kita menggalinya kembali. Renungkanlah, betapa dahsyatnya efek yang ditimbulkan manakala kita mampu memancing dan mengeluarkan potensi yang luar biasa ini, dan kemudian kita jadikan sandaran gerak kita dalam meraih impian. 

Hari-hari kita akan dilalui dengan semangat, dengan penuh optimis, dengan penuh perjuangan. Kalau sudah demikian, maka sungguh kesuksesan tengah menungguh kita.  Rumus ‘Man jadda wa jada’ (Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil) selalu berlaku dalam segala aspek kehidupan, terkhusus dalam mengejar kesuksesan. 

Sebaliknya, kalau kita tidak mampu menumbuhkannya, maka berhati-hatilah. Kita akan mudah tumbang. Baru sekali terkena ‘angin sepoi-sepoi’ kita telah lesu, lunglai, pasrah, tidak lagi ingin berjuang. 

Kita akan selalu mencari kambing hitam terhadap sandungan-sandungan yang menimpa kita. Modalnya yang akan disalahkan karena tidak mencukupi. Kesempatannya dikambinghitamkan karena berlalu begitu cepat, hatta teman kerabatnya pun akan kena ‘semprot’. Parahnya lagi, di tengah keterpurukkannya ini, ia juga tidak pernah berusaha untuk bangkit. Bisanya hanya menyalahkan pihak lain.

Kalau demikian keadaannya, maka kegagalan akan menjadi teman akrab kita. Selanjutnya, penyesalan akan menjadi cerita akhir dari segala perilaku buruk tersebut, sebagai akibat lemahnya semangat kita dalam merengguh cita-cita. 

Mudah-mudah pribahasa Arab di bawah ini, menjadi titik balik kita saat ini, yang masih memiliki semangat rendah, untuk menumbuhkan semangat bayi dalam diri, sehingga hari-hari kita kemudian akan kita lalui dengan penuh semangat dan perjuangan. Dan akhirnya, kesuksesan pun akan kita rasakan. 

“Ijhad wa laa taksal wa laa takun ghaafilan fanaadamatu al-‘Uqba liman yatakassal” (Bersungguh-sungguhlah dan jangan bermalas-malas. Karena sesungguhnya penyesalan itu adalah akibat dari mereka yang bermalas-malas). Wallahu ‘Alamu Bish-shawab.


By Robinsah | www.kaltimtoday.com | Ilustrated by Yahoo Inggris

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel