News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Ingin Sukses, Jangan Menjadi ‘Tumbal’ Perasaan

Ingin Sukses, Jangan Menjadi ‘Tumbal’ Perasaan



KALTIMTODAY -- Umurnya telah menginjak 20 tahunan. Secara intelektualitas, ia memiliki kemampuan yang memadai untuk berbicara/berpidato di depan umum. Pilihan bahasa dan intonasinya dalam berbicara, pun menunjukkan kalau ia memang bukan orang biasa. Namun, karena memiliki kepercayaan diri yang rendah, ‘permata’ itu pun tertutupi. Setiap kali tiba waktunya untuk berpidato (Tempatnya kuliah menjadwal setiap mahasiswa untuk menyampai pidato 2-3 kali dalam sebulan), maka setiap kali itu pula peluh membasahi sekujur tubuhnya. 

Apa yang menjadi faktor pemuda tersebut gagal menunjukkan taringnya di atas podium? Jawabannya adalah perasaan. Yah, perasaan lah yang telah mempermainkannya, sehingga tidak mampu mengeluarkan bakat sesungguhnya. Ada perasaan malu, perasaan tidak mampu, perasaan akan dicemooh, adalah di antara bereka ragam macam perasaan, yang menggelayuti dirinya, sehingga memudarkan potensi yang ada pada diri. 

Selain disebut sebagai makhluk sosial, tidak berlebihan kiranya, bila kita sebut manusia sebagai makhluk perasa, alias yang memiliki perasaan. Sebab itu pula, kita dianjurkan untuk berhati-hati dengan perasaan. Sebab, kalau kita telah menyinggung perasaan orang, maka vatal akibatnya. 

Fokus pada masalah memainkan perasaan. Ada dua jenis perasaan yang bercokol dalam diri manusia. Positif dan negatif. Kita tidak mempermasalahkan, bila yang berkembang dalam diri kita, adalah perasaan yang positif. Ini akan sangat membantu kita dalam meraih kesuksesan. 

Misal, ketika ada seseorang memberikan kepercayaan kepada kita untuk melakukan sesuatu, yang mungkin pada awalnya kita merasa begitu berat. Namun, karena perasaan positif yang mendominasi dalam diri, kita pun tertantang untuk melakukannya. Kalimat yang terucap adalah, “Ini memang sulit, tapi pasti bisa!”. Atau, kita akan memotifasi diri dengan berucap, “No harm to try !” (Tidak ada salahnya untuk mencoba !). 

Namun, akan sangat bertolak belaka kondisinya, apa bila yang menguasai diri adalah perasaan negatif. Kita akan lebih mengedepankan hal-hal yang berbau negatif, ketimbang yang positif. Akibatnya, ia lebih dahulu tumbang, sebelum berperang. Sekalipun ia memiliki kemampuan atau modal, untuk mengetaskan tantangan tersebut, namun karena telah mempersepsikan diri tidak mampu, maka gugurlah gugurlag diri, sebelum genderang perang ditabuh. 

Dengan sikap ini, semangat untuk menantang badai telah surut dalam diri, seiring dengan dominasi perasaan negatif dalam diri. Jangankan terhadap sesuatu yang berat tantangannya, yang ringan pun, bisa jadi tidak akan mampu menyelesaikannya, karena nyali telah ciut terlebih dahulu. Pada akhirnya,  kita kemudian pun mengambil benang merah yang berlawanan dari sosok yang pertama (Yang lebih mengedepankan perasaan positifnya), sehingga berucap “Ini memang mudah, tapi sulit !”. 

Kira-kira, reaksi apakah yang timbul dari sosok-sosok yang yang memiliki persepsi demikian, dalam menghadapi tantangan? Menyerah. Itulah jawabannya. Sungguh seseorang tidak akan mampu berbuat apa-apa, untuk mengetaskan permasalahannya, apa bila tengah digerogoti penyakit satu ini.  Sosok inilah yang kemudian bisa kita sebut sebagai ‘Tumbal’ perasaan. 

Disebut sebagai tumbal, karena ia telah ‘terbunuh’, oleh perasaannya sendiri, sehingga tidak berdaya, tidak memiliki kuasa untuk bergerak, mencari jawaban/solusi terhadap tantangan yang tengah dihadapinya. Ia selalu dihantui oleh rasa takut, kecemasan, kekhawatiran yang tidak berdasar, yang menyebabkannya tidak berani mengambil resiko. 

Nahasnya, tidak sedikit orang, dalam memburu kesuksesannya, justru terjebak dalam perasaan yang satu ini. Mereka lebih menuankan dan mengikuti perasaan negatifnya, dari pada mengikuti jejak perasaan positifnya. Persis dengan apa yang terjadi pada sosok pemuda di atas. Karena perasaannya yang bukan-bukan, tidak jarang ia harus ‘lari’, bersembunyi dari kerumunan temannya, asal ia tidak maju ke atas mimbar. Adapun kalau ia tidak bisa mengelak lagi, dengan berat hati ia maju. Hasilnya, di podium pun, ia hanya bisa terdiam seribu bahasa. 

Dari sini, sukar rasanya menyimpulkan, bahwa orang yang lebih mengedepankan perasaan negatifnya, akan mampu meraih kesuksesannya. Sederhananya, masih dengan contoh yang sama, pemuda di atas. Mungkinkah ia akan mampu menjadi ‘Singa podium’ (Julukan bagi mereka yang lihai dalam berorasi/ceramah di atas podium/mimbar), di masa mendatang, kalau ia sama sekali tidak ingin mengubah perilakunya? Lalu bagaimana ia akan mengutarakan opini/gagasany/ide cemerlangnya, kalau ia sendiri tidak berani, berbicara di depan orang lain?

Dan tentu akan berbeda kesimpulannya, apa bila ia mampu membalikkan perasaannya,  dari yang dahulu lebih mengedepankan perasaan negatifnya, dan menggantinya lebih mengutamakan perasaan positifnya (Bahwa saya, bisa, mampu, kuasa, dll), untuk menaklukkan panasnya podium. Kemudian, ia mulai berlatih sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya ia mampu menguasai diri, ketika berada di atas panggung. Jadi, harus diubah.

Sejalan dengan itu, untuk memuluskan langkah kita dalam meraih kesuksesan, kita harus mampu memenage perasaan kita. Jangan sampai, kita salah dalam memposisikannya. Salah dalam memberikan porsi, maka akan fatal akibatnya. 

Akan lebih berguna dan bermanfaat, sekiranya kita mampu meramu perasaan negatif tersebut, justru menjadi energi positif. Misal, perasaan Takut, khawatir, cemas, dll, kita letakkan pada area kekhawatiran dalam kegagalan di masa mendatang. 
Misal, kita khawatir kalau kehidupan kita akan diliputi kegagalan, kita takut kalau kemudian hari tidak mampu meraih kesuksesan, kita cemas, kalau setiap detik kehidupan kita di masa mendatang, akan selalu dihiasi dengan kepecundangan, dan seterusnya. Dengan mampu men-setting perasaan negatif dengan cara inilah, kita akan kuasa menepis segala hal yang akan u merobohkan kekuatan kita, dalam meraih kesuksesan. 

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara kita mampu melakukannya? Tidak dipungkiri, perasaan negatif tersebut timbul, karena didasari oleh keragu-raguan. Dan keraguan hanya bisa diubah dengan keyakinan. Dan keyakinan hanya akan diperoleh dari ilmu yang benar. 

Jadi, ilmulah yang menjadi problem solver dari kasus di atas. Dengan bersandarkan pada ilmu yang benar lagi matang, akan meyakinkan setiap gerak langkah kita. Ilmu akan menjadi penuntun. Dan tuntunan ilmu (Selama ilmu itu benar) tidak akan pernah menyesatkan. Dan yang perlu diingat, nilai itu akan kita peroleh, tatkala kita mampu mengedepankannya (ilmu) di banding perasaan.  

“Ilmu itu menuntun pemiliknya”, demikianlah pernyataan Ali bin Abi Tholib, dalam menjelaskan keutamaan ilmu. Kembali bercermin pada kasus pemuda di atas. Bisa jadi ia telah mendapatkan ilmu teori berbicara di depan podium, namun ia mengedepankan perasaannya, dari pada ilmu yang ia miliki. Jadilah hasilnya demikian. Atau, bisa jadi ia memang belum tahu. Ini lebih berbahaya lagi. Maka sewajarnya, ia harus belajar, bagaimana berbicara di depan khalayak umum.

Kesimpulannya, untuk menghindarkan diri dari ‘tumbal’ perasaan, kita harus menjadika ilmu sebagai dasar setiap gerak langkah kita, dalam meraih kesuksesan. Hanya dengan ilmu, kita akan memperoleh keyakinan dan kemantapan langkah, serta menepis segala kewas-wasan, yang semuanya itu bersumber dari hawa nafsu dan syetan, yang senantiasa mengarahkan kita ke pintu kegagalan. Semoga bermanfaat. 


By Robinsah | www.kaltimtoday.com | Ilustrasi:Google

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.