Inilah Keuntungan yang Harus Diperhatikan!

DALAM KESEHARIAN, kalimat "untung" menjadi kata yang sering kali digunakan dan diharapkan.


Dalam kontek ke-Indonesia-an, kalimat ini, tidak hanya digunakan ketika mendapat kebahagiaan. Ketika mendapat, cobaan dan ujian, kata ini pun sering meluncur dari mulut kita.


Ingin bukti?! Coba, perhatikan, kalimat apakah yang pertama kali terucap, ketika mengetahui diri mendapatkan keberuntungan?. Terlebih lagi kalau tidak disengaja, alias hanya menggantungkan pada faktor 'luck'? maka kata 'Untung' lah yang dijadikan sandaran.


Misal, akan terucap kalimat, "Untung saya tadi begini dan begitu.....". Atau, "Untung deh, saya bisa begini dan begitu, sehingga dapat ini dan itu...". Dan masih banyak lagi variasi kalimat 'Untung', yang menggambar ekspresi suka.


Lalu, bagaimana dengan kejadian yang sarat akan kesukaran dan kepedihan hidup? Perhatikanlah perumpamaan berikut ini.


Ketika ada seorang jatuh dari sepeda motor, misalnya, lalu mengalami patah tangan, maka seseorang akan mengucapkan, "Untung cuma patah satu tangan. Tidak kedua-duanya".


Kalau pun patah kedua-duanya, kalimat tersebut pun masih bisa terucap. "Untung cuma patah kedua tangannya, sedangkan anggota tubuh yang lain baik-baik saja. Coba kalau kedua kakinya juga patah, pasti akan lebih sengsara".


Lalu, bagaimana kalau nyawa si-korban itu melayang?. Hilangkah kalimat 'Untung' dari segenap orang yang menyaksikan peristiwa tersebut?.


Ternyata, kenyataannya tidak. Kalimat 'untung' masih juga bisa terucap, "Untung meninggal. Sebab, kalau tidak, maka ia akan merasakan perihnya penderitaan, karena luka di sukujur tubuhnya yang sudah tak terkirakan. Tidak hanya itu, urusannya pun bisa jadi lebih panjang".


Itulah kehebatan sihir kata 'untung'. Ia mampu diucapkan dalam segala kondisi. Lalu, apa kaitannya dengan pembahasan kita kali ini? Dari apa yang terpapar di atas, penulis berfikir, alangkah luar biasanya, bila kalimat tersebut (Untung), juga kita jadikan prinsip dalam meniti kesuksesan. Akan sangat luar biasa hasilnya.


Hari-hari kita akan dipenuhi dengan luapan spirit. Sebab, bagi mereka yang memiliki prinsip demikian, maka tidak ada hari, kondisi, posisi, dan sebagainya, kecuali keuntungan ada di sana. Maka sudah pasti akan terus tergerak, untuk meraih keuntungan itu, karena 'untung' menjadi kata yang dirindu dan diharap oleh setiap orang, dalam menapaki perjalanan hidupnya. 


Dari sini, mungkin akan timbul pertanyaan, apa yang harus kita'untungi', kalau kita hidup saja pas-pasan? Sejak lahir telah hidup penuh dengan derita. Ingin sukses, tapi modal untuk meraihnya saja tidak punya? Modal 'Bonek' (Bondo -Modal- nekat), apa iya bisa?
 

Bila pertanyaan ini yang kita munculkan, untuk mengahpus kata 'untung' dari pembendaharaan kata kita, dalam meraih kesuksesan, maka sungguh kita termasuk orang yang befikir sempit lagi sangat dangkal. Orang yang melakukan ini, sama saja ia tidak hidup di dunia ini. Atau, lebih ekstrimnya, kita bisa sebut ia sebagai 'mayat' berjalan, karena tidak mau berfikir mendalam tentang potensi dirinya sendiri, yang sejatinya sangat luar biasa.


Apa saja itu? Untuk mengurainya satu persatu, tentu keniscayaan, karena melimpahnya keuntungan yang kita bawa, sedari kelahiran kita di muka bumi ini. Untuk memudahkan dan memfokuskan tulisan, maka di sini penulis hanya memapar beberapa macam potensi diri, yang harus kita 'untungi', karena masih kita miliki hingga kini, sebagai modal untuk meraih kesuksesan.


Pertama adalah waktu. Waktu adalah perkara yang sangat mahal. Bahkan ia lebih berharga dari pada emas (Al-waqtu atsmanu min adzahabi).


Karena waktu pula, maka kita masih ada di dunia ini, dan melakukan segala aktivitas, yang kita rencanakan.


Filosofi perjalanan waktu, ia terus akan maju. Dan waktu yang telah berlalu, tidak akan pernah terulang kembali. Dan telah menjadi maklum adanya, bahwa kita memiliki keterbatasan waktu di dunia. Kita tidak mungkin berada di dunia ini untuk selamanya. Kita hanya menungu, kapan masa aktif waktu itu berlalu.


Di sinilah pentingnya kita mengindahkan penggunaan waktu. Lalai kita, maka ia akan meninggalkan kita. Ia tidak pernah kenal kompromi. Dan justru, kedepannya, kita lah yang akan terbelalak, kaget bukan kepalang, mengetahui tenggang waktu kita telah habis, sedangkan prestasi demi prestasi, belum juga diraih.


Di sini, kata 'untung' harus kita gunakan. 'Untung' masih ada waktu/kesempatan, maka selayaknyalah kita gunakan sebaik-baiknya, untuk mengejar prestasi. Ini 'untung' yang pertama.


Yang kedua adalah potensi otak/akal. Berharga atau tidaknya manusia di dunia ini, karena keberadaan akal. Akal lah yang menjadikan seseorang eksis, berkembang dan maju di dunia ini. Tanpa otak/akal manusia tidak ada harganya sama sekali di dunia ini.


Karena itu, karunia otak/akal menjadi anugerah yang sangat berharga. Dengannya kita mampu berfikir mengembangkan diri lebih maju lagi.  Denga memfungsikannya, maka solusi-solusi permasalahan akan ditemukan, ide-ide cemerlang untuk kemaslahatan akan terlahirkan. Dan itu bukti hidupnya seseorang di dunia ini. Kalau tidak demikian, keberadaannya, sama saja dengan ketidakadaannya (Wujuduhu kadamihi).


Ali bin Abi Tholib, berkata, "Kekayaan yang paling melimpah adalah akal". Beda Ali, beda pula  Descartes dalam menghargai akal. Ia berkata, Cogito Ergo Sum (Saya Berpikir, maka Saya Ada). Karena itu, untung kita masih memiliki otak/akal yang sehat, maka harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
           

Gunakan ia untuk berfikir yang konstruktif lagi positif, demi kesuksesan di masa mendatang. Sebab, pada masanya kelak, akan datang satu waktu, di mana kita tidak akan mampu lagi, memfungsikannya secara maksimal, seperti saat ini, seiring dengan bertambahnya umur/usia. Ini 'untung' yang kedua.  

        

Dan yang terakhir, yang akan kita bahas dalam tulisan kali ini adalah, kesehatan. Anda sehat? Syukuri hal itu. Sungguh ia merupakan kenikmatan yang luar biasa. Kesehatanlah, yang menjadi faktor mampunya kita memfungsikan dua macam 'keuntungan' di atas. Tanpanya, kita tidak mampu berbuat apa-apa.


Waktu yang kita miliki, hanya digunakan di tempat pembaringan. Otak/akal yang sehat, pun tidak bisa digunakan untuk berfikir maksimal, karena ada gangguan badan. Pribahasa Arab mengatakan, 'al-'Aqlu as-Saliimu Fii al-Jismi as-Saliimi" (Akal yang sehat terletak pada badan yang sehat).
           

Jadi, kembali kita kuatkan, 'untung' kesehatan masih kita rasakan/dapati hingga saat ini, maka mari kita gunakan ia untuk menggapai kesuksesan. Sama dengan 'nasib' dua hal di atas, bahwa pada masanya kelak, akan datang waktu di mana kesehatan akan menurun. Baik itu oleh faktor rendahnya imunitas diri, atau karena faktor usia yang telah senja.
           

Inilah di antara potensi-potensi dalam diri yang harus kita syukuri. Untung kita masih, memiliki semuanya, maka gunakanlah ia secara maksimal, untuk meraih keuntungan.


By Robinsah | www.kaltimtoday.com |
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel