Memahami Cara Belajar Efektif

PASTINYA semua orang -termasuk diri kita- sangat faham akan pentingnya belajar dalam hidup ini. 

Pastilah lingkungan kita, entah itu orang tua di rumah, guru di sekolah. Semuanya selalu menekankan kepada kita untuk senatiasa belajar dan belajar.

Namun terkadang yang membingungkan adalah kefahaman dan anjuran lingkungan sekitar akan pentingnya belajar, tidak dibarengi dengan penjelasan tentang bagaimana cara belajar yang benar-benar belajar, atau ringkasnya bagaimana belajar yang efektif.

Itulah terkadang yang membuat belajar kita tidak membekas, yang membuat belajar kita tidak memahamkan kita tentang apa yang kita pelajari. Wajarlah demikian, karena memang belajar kita belum tersistem, belajar kita masih tanpa cara yang tepat akan bagaimana harusnya belajar.

Coba Begini
Lantas bagaimanakah belajar cara belajar yang efektif itu? Secara sistematis untuk membuat suatu ilmu melekat pada otak dan diri kita, yang harus dilakukan menurut saya, adalah :

Pertama, Pahami. Terkadang ilmu yang kita peroleh atau yang disampaikan oleh orang lain hanya membuat kita menganggukkan kepala pada saat itu saja, tapi sudah tidak ingat lagi ketika ditanya mengenai ilmu yang telah kita terima tadi jika sudah di luar forum. Artinya, kita belum faham betul akan ilmu tersebut. Istilah umumnya, 'masuk telinga kanan, keluar telinga kiri'.

Sejatinya banyak faktor yang meyebabkan kenapa hal demikian terjadi. Seperti karena fokus yang tidak maksimal ketika menerima ilmu, daya tangkap yang lemah atau gangguan dari orang sekitar kita atau bahkan diri kita sendiri.

Contoh diganggu teman, atau ketika kita memilih untuk menulis materi yang disampaikan padahal guru masih belum selesai menerangkan, akhirnya membuat fokus kita terbagi. Untuk itu, langkah yang pertama adalah pahamilah benar-benar ilmu tersebut.

Kedua, Lakukan. Sebagian dari kita pastinya sepakat bahwa sebenarnya implementasi dari ilmu yang kita miliki adalah bagaimana kita mampu untuk mengamalkannya. Karena jika kita sudah mampu untuk menerapkannya otomatis berarti kita sudah paham akan ilmu tersebut.

Dan poin ini sejatinya juga berlaku dalam konteks ilmu apapun. Seperti misalnya untuk menjawab soal matematika, walaupun kita sudah paham akan rumus untuk menyelesaikannya, tetapi kita tidak melakukan sebuah tindakan untuk menjawabnya -lisan atau tulis-, kita tidak akan tahu apakah kita benar-benar paham. Karena sejatinya belum terbukti.

Lalu, setelah kita paham dan mengaplikasikan ilmu yang kita dapat, untuk membuat ilmu tersebut benar-benar melekat di otak dan diri kita, tahap yang selanjutnya adalah Ajarkan Pada Orang Lain.

Jadi, jika kita telah mampu memproses ilmu yang kita dapatkan dengan tiga tahapan di atas. Pahami, lakukan dan ajarkan pada orang lain. Percayalah bahwa ilmu tersebut akan melekat dan tidak mudah hilang dari otak dan diri kita.

Dan jika sudah demikian, sejatinya kita sudah bisa dibilang sebagai ahli. Karena kita telah mampu menguasai satu bagian ilmu, meskipun hanya dalam suatu ilmu yang skalanya kecil.

Namun tiga proses di atas telah membuktikan bahwa kita adalah orang yang ahli, dengan indikasi bahwa kita sudah mampu menjadi pembicara –mengajarkan ilmu atau hal tersebut pada orang lain-. Nah, apakah bukan ahli jika demikian ? Dan yang terakhir adalah hasil.

Karena merupakan sebuah kepastian, barang siapa yang mempunyai atau menguasai suatu ilmu –meskipun skala kecil, apalagi jika ilmu dalam skala besar dan luas-, pasti ia akan menerima hasilnya. Baik berupa materi, pengakuan dari orang lain atau ilmu itu sendiri. Sehingga yang demikianlah yang disebut sistematika belajar cara belajar yang efektif. Selamat mencoba.


By Yahya Ghulam Nasrullah |www.kaltimtoday.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel