Seandainya Lelaki Tua Itu Tidak Bersabar

BELUM juga pudar kesedihan di hati orangtua itu, paska kehilangan anak kesayangannya, tiba-tiba, kembali ia mendapat kabar, bahwa adik dari anak kesayangannya yang hilang itu, juga raib.

Anak-anaknya yang lain, yang menjadi penyebab hilangnya kakak beradik itu, melaporkan bahwa mereka telah berusaha menjaga keduanya, namun apa hendak dikata, -menururt tipu daya mereka- takdir berkata lain.

Si sulung diterkam binatang buas, ketika bermain di hutan, kata mereka. Sedangkan si-bungsu, harus ditahan di kerajaan akibat ulahnya yang mencuri satu barang milik kerajaan.

Dalam kondisi demikian, sang bapak tidak menyalahkan siapa-siapa. Ia juga tidak melabrak anak-anaknya yang berkarakter buruk itu, dengan kata-kata yang justru akan memperkeruh keadaan.

Berangkat dari kearifannya, justru laki-laki tua tersebut mengatakan kepada anak-anaknya, “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku)”.

Sabar. Itulah inti dari kalimat laki-laki tua itu. Ia menjadikan sabar sebagai tameng dalam menyikapi musibah yang tengah menimpanya; kehilangan kedua anak kesayangannya. Bayangkan, orangtua mana yang tidak sedih kehilangan anaknya. Meski demikian, ia tidak kolap, tapi terus memupuk kesabaran.

Ia tak lantas mengatakan bahwa stok sabarnya telah habis, diakibat oleh perilaku buruk anak-anaknya, sebagaimana kerap dipraktekkan oleh manusia masa kini, yang tidak sabar menghadapi cobaan, termasuk cobaan dari perilaku anak-anaknya.

Tidak pula orangtua ini menghujani anak-anaknya dengan perkataan kasar, apa lagi dengan pukulan. Tapi justru, beliau menghujamkan dalam diri di hadapan anak-anaknya, bahwa sabar adalah pilihan terbaik, untuk menyikapi masalah itu.

Akhirnya, buah dari kesabaran, yang awalnya terasa pahit ini, pun berakhir dengan manis. Setelah mengarahkan anak-anaknya untuk mencari kedua saudara mereka yang hilang, mereka akhirnya mampu menemukan mereka kembali. Keluarga ini pun kembali utuh seperti sedia kala.

Tidak hanya itu, anak-anak laki-laki tertua yang berperperangai jahat itupun mengakui kesalahannya, dan bertaubat. Akhirnya, keluarga ini pun hidup dalam kemesraan, yang dari sebelumnya hampir jatuh ke jurang keruntuhan.

Perhatikanlah dengan seksama kisah di atas. Betapa kesabaran telah menjadi pelekat dan pemersatu persaudaraan yang hampir runtuh. Kita tidak bisa membayangkan, apa yang akan menjadi ending cerita kisah di atas, misalnya, apabila si-bapak tahu bahwa kedua anak kesayangannya telah hilang itu, sebenarnya akibat ulah dari anak-anaknya yang lain. Pastilah akan jauh berbeda, dari apa yang terjadi saat ini.

Bukan mustahil, permasalahan akan semakin runyam. Namun berkat kesabaran, si-bapak bisa berfikir jernih, sehingga memerintahkan anak-anaknya untuk menyebar, mencari saudara-saudara mereka yang hilang. Optimisme pun menggelaut pada dirinya, meski tengah dihadapkan pada tekanan batin yang sangat dahsyat.

Simak perkataannya, “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

Itulah sepenggal kisah yang termaktub dalam al-Qur’an, surat Yususf, yang harus kita teladani. Bapak tua itu benar-benar telah mampu mengecap, apa yang digambarkan oleh para penyair tentang sabar, “Sabar itu tak ubah sebuah empedu, yang rasanya begitu pahit. Namun, hasil yang diperoleh itu lebih manis dari pada madu”.

Sabar Sarat Energi  
Ada banyak hal yang mampu kita ambil dari kisah di atas. Salah satunya adalah pelajaran bahwasanya kesabaran itu melahirkan energi, kekuatan yang mampu menggerakkan seseorang untuk bertindak, atau bangkit dari keterpurukan atau musibah yang tengah melandanya.

Dengan sabar, orang justru semakin tegar, kuat, tidak mudah roboh, apa lagi putus asa terhadap setiap permasalahan yang dihadapinya. Tidak ada kalimat putus asa dalam kamus orang-orang sabar.

Ia akan selalu diliputi optimisme bahwa badai pasti akan berlalu, dan berganti semilir deru angin yang akan memberi kesejukan.

Persis dengan apa yang dialami oleh laki-laki tua, dalam kisah di atas, yang beliau tidak lain adalah Nabi Ya’qub, ayahanda Nabi Yususf. Dengan kesabaran justru menumbuhkan optimismenya untuk menjemput mutiara  di balik musibah yang menimpanya.

Muatan katanya pun sangat meyakinkan. Ia tidak hanya meyakinkan dirinya serta anak-anaknya untuk selalu optimis menghadapi hidup. Tapi, beliau juga menegaskan bahwa sifat keputusasaan itu hanyalah sifat dari orang-orang yang tidak memiliki kepercayaan dalam dirinya, akan keberadaan Tuhan.

Ketika konsep sabar macam ini yang kita terapkan dalam menggapai impian, maka tidak akan ada ceritanya kita akan oleng disebabkan ujian-ujian yang menimpa di tengah perjalanan kita, merintis kesuksesan.  Dan sudah menjadi keniscayaan, bahwa dalam menapaki jalan kesuksesan, itu syarat akan ujian.

Tanpa kita cari pun, ia akan datang. Bukan kedatangannya yang harus kita permasalahkan. Tapi bagaimana mengatasinya, itulah yang harus dipikirkan. Dan dengan bersabar, justru akan membuat kita mampu berpikir jernih untuk mengentaskan permasalahan demi permasalahan.

Sebaliknya, hilangnya kesabaran, justru terkadang menjadi bumerang bagi seseorang, yang acap kali akan menyelakakannya. Sebab, sudah pasti buah dari ketidaksabaran adalah, keputusasaan, lemah semangat, pesimis, pasif, gegabah dalam bertindak, terburu-buru, dll. Mungkinkah kesuksesan akan digapai oleh mereka yang berperawakan demikian?? Mimpi kali, ye!.

Nahasnya, justru potret sabar semacam itulah yang mencuat di masyarakat. Melalui tayangan sinetron dan infotainment, kita dapati contoh perilaku sabar yang sesat. Sabar diartikan kepasrahan yang membabi buta pada keadaan. Ia juga dimaknai dengan kelemahan, ketidakberkutikan seseorang dalam menghadapi suatu kondisi. Sungguh menyesatkan!.

Padahal, seharusnya tidaklah demikian. Ketika kesabaran melahirkan kelemahan, dan kegagalan, maka sudah bisa dipastikan konsep yang diterapkan dalam berperilaku sabar itu adalah salah.

Pribahasa Arab mengatakan, “ Man shobaro Zhafiro” artinya, Barang siapa yang bersabar, maka ia akan untung. Dengan demikian, maka Mafhum mukhalafah (pengertian kebalikannya) dari pribahasa di atas adalah “Barang siapa yang tidak bersabar, maka ia akan celaka”.

Jadi, nyata sudah, bahwa tidak ada relefansi antara kesabaran dengan ketidakberdayaan, sebagaimana yang selalu dicekokkan pada masyarakat melalui berbagai acara di TV dan lain sebagainya. Sabar itu justru harus melahirkan energi positif, yang akan mengilhami pemiliknya untuk terus bangkit dari jatuhnya, hingga ia menggapai apa yang dicita-citakannya.

Akhirnya, marilah kita latih diri kita untuk terus bersabar dalam menghadapi ujian, demi tergapainya cita-cita kesuksesan kita. Tidak mudah, memang, tapi harus kita terapkan, kalau kita masih memiliki mimpi untuk sukses, dan berusaha mewujudkannya.


By Robinsah Khairul Hibri | www.kaltimtoday.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel