News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Uniknya Tradisi Kuliner, Heteroginitas Kita

Uniknya Tradisi Kuliner, Heteroginitas Kita

SEKITAR dua tahun lalu, saya pernah ke Bandung untuk sebuah urusan pekerjaan. Bandung, seperti sudah kita ketahui, adalah ibu kota dari Provinsi Jawa Barat.

Malam itu, di daerah Ciampea, mudah-mudahan saya tidak salah eja, perut rasanya sudah mulai keroncongan setelah seharian ke sana kemari berkeliling bertemu sejumlah rupa.

Lepas Isya', Saya pun mampir di sebuah warung makan di pinggiran Kota Bandung itu. Bersama dengan seorang kolega, kami memesan makanan sesuai pilihan masing-masing. Teman saya memesan lebih dulu. Memilih meja agak di pojok, ia pun tampak kemudian menyantap hidangan penuh suka cita.

Saya memesan makanan kesukaan saya; opor ayam. Karena saya paling suka kalau nasi dibanjiri kuah opor, saya pun memesan ke pelayan untuk melebihkan kuahnya. Tidak ada tambahan lagi. Satu buah paha ayam dan kuah membanjir saya rasa sudah cukup untuk menghilangkan dahaga ruang tengah tubuhku malam itu.

Satu sendok makanan berisi butiran nasi putih dilumuri kuah opor pun mendarat sempurna di rongga mulut. Lalu, opss, sekejap kemudian saya refleks langsung mencari air minum. Ternyata opor ayam yang saya makan malam ini berbeda dengan opor yang biasa saya makan selama ini. Rasa kuahnya manis. Manis sekali.

Saya pun sadar, saya sedang berada di Bandung malam itu. Saya tidak sedang berada di Makassar atau di salah satu wilayah di Kaltim. Bumbu sedap dengan asupan manis memang khas bumbu masakan masyarakat Sunda yang mayoritas di Jawa Barat. Saya yang berlidah Bugis rupanya tak terlalu cocok dengan bumbu kuliner yang manis-manis, yang biasa menjadi tradisi kuliner Sunda. Apalagi jika itu untuk makanan besar.

Akhirnya malam itu saya terpaksa harus ganti menu. Saya ganti dan memilih nasi putih saja dengan lauk ikan bandeng. Tapi rupanya lauk ikan bandengya rasanya manis juga. Sedikit sekali rasa rasa asinnya. Karena lapar, tetap saja saya makan. Untuk menetralisir kondisi, saya pesan air teh panas tanpa gula dan habis seketika.

Tradisi kuliner di negeri kita memang sangat kaya. Jika Anda mungkin pernah berkunjung ke Balikpapan, Samarinda, Tarakan, Bontang, atau kota kota lainnya di Indonesia yang masyarakatnya sangat majemuk, pasti Anda pernah merasakan pengalaman yang serupa dengan saya. Setidaknya mirip-mirip. Inilah kekayaan bangsa kita sebagai sebuah komunitas bangsa yang heterogen.

Tidak saja dalam penyajian kuliner, dari cara menyantap sajian saja setiap suku bangsa punya gaya dan tradisi menyantap yang berbeda beda pula. Dalam tradisi saya, suku Bugis, misalnya, punya tradisi apa yang tersaji dalam sebuah hidangan makan besar harus ditandaskan. Makanya tak jarang ada yang biasa menangguk nasi ataupun lauk pauk menggunakan tangan langsung dari periuk atau wadah. Itu maksudnya agar "kewajiban" tersebut segera tuntas.

Saya punya banyak teman dari berbagai suku. Kami biasa berkumpul dalam sebuah komunitas. Tampak tidak semua memang individu setiap suku mengakar dalam sebuah tradisi suku bangsanya. Yang jelas, tidak ada yang perlu dipersoalkan. Memang, tidak semua lidah cocok dengan suatu jenis kuliner yang ada. Itulah kekayaan kita, keindonesiaan kita.

By Rahmat Mallisu | www.kaltimtoday.com |


Powered by Telkomsel BlackBerry®









Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.