News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Etika Pers: Bolehkah Memakai Kata Ganti "Beliau"?

Etika Pers: Bolehkah Memakai Kata Ganti "Beliau"?

BEBERAPA kali saya pernah membaca berita dari tetangga jiran kita. Terutama berita berita rilisan "Utusan Malaysia" dan "SinarHarian" yang juga merupakan media populer serta cukup berpengaruh di sana.

Yang menarik, saya seringkali menemukan berita yang diturunkan media tersebut, jika menyangkut manusia, selain disebutkan namanya, juga acap disapa dengan kata "beliau". Misalnya, dengan menulis "cakap beliau", atau "seru beliau dalam temu bual semalam".

Di sini saya melihat ada pola yang menarik. Konsep penulisan berita untuk kata ganti orang dengan "beliau" di Malaysia dan Indonesia rupanya punya persepsi berbeda. Malaysia, dalam dugaan saya, memiliki tingkat sensitifitas tinggi dalam menerapkan bahasa tulisan. Tulisan tak ubahnya ungkapan lisan yang harus mengikuti kaidah kepatutan dan etika komunikasi, yakni tata krama bertutur yang mengejawantah nilai-nilai humanisme.

Jurnalisme humanis, ini barangkali kata yang tepat untuk mengistilahkan penerapan penulisan berita kata ganti orang dengan frase "beliau". Jurnalisme humanis adalah etika pers kepatutan, memanusiakan, dan dan penerapan penulisan ini bisa dilakukan tanpa terlalu terpaku dengan mekanisme pasar.

Sebab pada dasarnya, birokrat koruptor dan tukang becak tidak sama kedudukannya di mata pers. Koruptor kakap tidak perlu dihargai maka dari itu tak usah kita sebut dia sebagai "beliau". Tukang becak yang jujur, lah kenapa musti ragu menyebutnya "beliau" sebagai sebuah bentuk penghargaan. Apakah ada yang salah dengan argumen ini? Tentu saja Anda boleh tidak sepakat.

Namun di Indonesia, kata "beliau" dalam sebuah penulisan berita sangatlah terlarang. Entah konsensus etika pers ini berawal dari mana, yang jelas penyertaan frase "beliau" untuk kata ganti orang yang menjadi narasumber dianggap sebagai sebuah bentuk keberpihakan, kelemahan dan ketundukan. Etika pers kita lebih senang menggunakan kata ganti nama orang dengan sebutan "dia".

Frase "dia" lebih dipilih karena dianggap konotasinya independen dan powerfull. Namun kita sangsi, media mana yang hari ini tidak berpihak. Tunjukkan ke saya. Media mainstream yang lantang berteriak tidak berpihak dan berimbang justru sangat eksplisit di mata kita sangat tampak keberpihakannya.

Boleh saja orang mengatakan penyebutan kata "beliau" dalam sebuah kalimat berita sebagai bentuk keberpihakan dan menampakkan lemahnya independensi. Tidak ada masalah. Justru, bagi saya, ini profesional. Sebab kita menyematkan penghargaan kepada orang yang tepat yang kita nilai berprestasi dan luar biasa.

Sebagai seorang jurnalis, kita sejatinya tidak melulu harus tunduk pada mekanisme status quo. Saya rajin menggunakan frase "beliau" untuk sesekali mengganti nama orang yang menjadi narasumber saya. Jika dia seorang yang dikenal sebagai ilmuan, ulama, birokrat yang amanah, dan narasumber yang saya anggap luar biasa, saya tidak akan pernah ragu-ragu menuliskan "beliau" sebagai kata ganti namanya.

Namun tentu tak semua setuju frase "beliau" diterapkan di dalam penulisan berita. Kata mereka yang tidak setuju, ini hanya cocok diterapkan di tulisan opini dan sebangsanya. Termasuk seorang wartawan yang saya kenal sudah lama berkecimpung di berbagai media, sangat fanatik dengan konsensus etika pers ortodoks tanpa mau menyadari bahwa "kesepakatan-kesepakatan" etika itu telah lama dikangkangi industri media.

Pertanyaannya, apakah dengan menyebut narasumber sebagai "beliau" untuk kata ganti nama, lalu kemudian disimpulkan bahwa sang reporter atau media tidak independen? Sama seperti ketika ada wartawan bertanya kepada narasumber dengan menyapanya sebagai "Bapak" bukan "Anda", apakah itu berarti si jurnalis sedang tunduk dan tidak independen?.

Ini tentang sikap dan kemanusiaan. Dunia jurnalisme adalah ranah etika, bukan sekedar soal relasi dan industri. Jurnalisme tak semata sebagai alat kontrol sosial, ia juga harus didapuk sebagai wadah untuk mengapresiasi!

By Yacong B. Halike - www.kaltimtoday.com





















Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.