News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Sukses dan Rasionalitas, Ini Penjelasannya!

Sukses dan Rasionalitas, Ini Penjelasannya!

"ANDA tidak cocok bekerja di kawasan perairan, karena Anda lahir pada hari ini, bulan ini, dan tahun ini". Demikianlah segmen dalam salah satu iklan "perdukunan" berkonsep modern di layar televisi.

Sang dukun menerawang peruntungan pasiennya dengan melihat tanggal lahirnya. "Mau tau peruntungan Anda, cukup ketik SMS nama Anda dan tanggal lahir, kirim ke ****," begitu bunyi iklan itu selanjutnya.

Ada lagi kasus lain. Teman saya, seorang mahasiswa, mengalami musibah dan harus rela bertubi tubi tertimpa "tangga". Apa sebab? Tidak lain, karena suatu malam ia keluar untuk suatu keperluan.

Nahasnya, karena jalan bergelombang dan berlobang, ia pun terjatuh dari sepeda motor, karena tidak kuasa mengendalikannya, setelah roda depannya masuk dalam lobang yang cukup dalam. Untungnya, lukanya tidak begitu serius.

Sesampainya di rumah, bukan rasa empati yang ia dapat, tapi justru cercaan terutama dari sang ibu. Yang menggelikan hati sahabat saya tersebut, faktor yang dikambinghitamkan, bukanlah kelalaiannya, melainkan tanggal lahirnya.

"Sekarang ini hari lahir kamu. Makanya, diam di rumah saja, tidak usah ke mana-mana. Ini hasilnya", sulut sang bunda.

Tidak dipungkiri memang, di tengah menjamurnya perangkat dan perkembangan teknologi saat ini, ternyata kepercayaan-kepercayaan macam di atas terasa masih sangat kental pada sebagian masyarakat kita. Banyak hal yang harus digagalkan, hanya karena kurang pasnya perhitungan hari, tanggal dan bulan yang mereka percayai.

Entah betapa banyak orang yang harus mengulur niatnya berniaga, bepergian, berwirausaha, berpindah kediaman, menikah, membangun rumah, dan lain lain, hanya karena terlampau khawatir menyelisihi hitungan hari mereka.

Apa yang sebenarnya mereka khawatirkan? Mereka takut, kalau sampai melanggar apa yang telah ditetapkan tersebut, mereka akan menghadapi kesukaran hidup, kesusahan, kepayahan, dan menjadi gagal. Mereka teramat yakin dan sangat percaya bahwa jika melanggar hari "pantangan" tersebut, segala keburukan dan kesialan akan menjadi 'teman mesra' di kemudian hari.

Benarkah demikian? Saya yakin, pembaca sudah pasti berkesimpulan tradisi-tradisi tersebut sangat sulit diterima oleh akal sehat, termasuk saya. Irasional sekali, memang. Namun faktanya, tidak sedikit yang mempercayainya!.

Sukses itu Logis
Mempertimbangkan segala sesuatu sebelum bertindak, itu penting. Dengannya, akan dapat menimalisir kemungkinan adanya risiko yang tak terduga. Bahkan kalau bisa, menghilangkannya sama sekali dengan berbagai analisa dan forecasting ilmiah dan terukur.

Dengan demikian, melakukan pertimbangan yang benar-benar matang, keberhasilan pun bisa kita petakan dengan begitu gamblang, sehingga semakin memotivasi kita untuk lebih giat lagi dalam mewujudkannya.

Untuk itu, kita perlu suatu "alat bedah" yang saya sebut dengan pisau analisa. Dengannya, kita akan mendapat bayangan akan besar kecilnya peluang untuk menggapai target yang telah dirancang. Ketika hasil proses analisis kita menunjukkan besarnya peluang, maka perlu ditindaklanjuti, hingga akhirnya diputuskan untuk beraksi.

Namun, ketika peluang itu kecil, bahkan nyaris belum bisa diperkirakan, atau dengan bahasa lain, "Jangankan untung, kembali modal saja tidak", maka diperlukan resolusi cerdas dan ilmiah sebagai alternatif untuk melakukan eksekusi. Sebab, memang, gagasan baru selalu dibutuhkan untuk mencegah ketimpangan-ketimpangan.

Ingat, mimpi kita harus pada hal-hal yang realistis, sehingga pertimbangannya pun harus logis. Makanya sukar rasanya kemudian kita merasionalkan akan adanya keterhubungan antar keduanya; tradisi kepercayaan warisan paganisme yang irasional dengan kesuksesan.

Karena itu, akan lebih solutif, bila yang menjadi pertimbangan kita adalah akal sehat, bukan kepercayaan-kepercayaan dari nenek moyang, yang entah berantah asal muasalnya. "Fakkir qobla an ta'zima" (Berfikir dahulu sebelum bertindak), adalah patokan kita.

Kita harus berfikir dan mempertimbangkan segala hal, terlebih dahulu, sebelum memutuskan lalu mengeksekusi. Dalam konteks ini, bukan berarti bermaksud menuhankan akal, namun lebih kepada merasionalisasi setiap masalah yang muncul sebelum memutuskan sebuah tindakan.

Bagi orang berjiwa sukses, waktu laksana pedang, yang ia harus gunakan dengan sebaik mungkin untuk bekerja keras. Sedikit saja salah pertimbangannya, maka pedang tersebut akan menebasnya.

Dengan demikian, secara logika, sosok manusia macam ini tidak akan pernah menilai adanya hari-hari sial, sehingga menuntutnya mengundurkan segala acara, atau kesepakatan yang telah dibuat.

Bagi seorang yang menggunakan akal sehat pasti ia bertipe pekerja dan memiliki hasrat sukses yang luar biasa. Potret manusia macam ini memandang semua hari adalah berharga, bahkan lebih berharga dari pada emas (Al-Waqtu atsmanu min adz-dzahabi). Karenanya, ia selalu respek terhadap waktu, tidak pernah menyia-nyiakannya baik untuk bekerja maupun beramal kebajikan.

Sebaliknya, justru ia berprinsip, bahwa kebiasaan menunda-nunda kesempatan akan menjadi bencana bagi dirinya, bila hal itu terus menjadi kebiasaannya. Mengapa demikian? Pertama, karena kesempatan itu, lazimnya, hanya datang satu kali. Sebab itu, harus kita serius dalam menangkapnya. Hilang kesempatan, maka lenyap pula peluang.
           
Selanjutnya, kita tentu paham bagaimana prinsip perjalanan waktu. Waktu yang telah hilang, tidak akan pernah kembali. Ia akan terus maju, tanpa kompromi.

Oleh sebab itu, kita harus manfaatkan dengan maksimal atau tidak, waktu akan terus konsisiten berjalan pada pijakannya; terus maju ke depan, dan tidak akan pernah mundur ke belakang, barang sejengkal pun. Karena itu, waktu harus dimaksimalkan dengan sebaik-baiknya.
           
Bisa dibayangkan, betapa dilematisnya hidup kita, bila terus berpegang pada keyakinan tradisi adanya "hari baik dan hari sial" seperti tersebut di awal tulisan ini. Di satu sisi kita dituntut untuk segera bertindak mengambil keputusan.

Namun, di sisi lain, kita selalu galau akut karena khawatir dengan "kutukan" hari-hari keramat. Ini baru dalam konteks pertimbangan logika. Belum masuk ke ranah yang lebih fundamental, yaitu agama.

Terhadap hal ini, saya jadi teringat kisah nyata salah satu kerabat. Ceritanya, sang bapak terkena sakit yang lumayan parah. Tubuhnya diserang panas yang amat sangat.

Anaknya, yang baru pulang dari perantauan, berinisiatif membawa ayahanda tercinta ke rumah sakit. Namun, ada salah satu sanak keluarga yang melarangnya, karena, menurut perhitungannya, akan berakibat fatal bagi sang-bapak.

Meski mendapat peringatan demikian, sang anak tidak mengubris. Ia lebih memilih menggunakan nalarnya, bahwa ayahandanya harus segera dibawa ke dokter, apalagi melihat kondisinya yang sudah sangat lemah.

Singkat cerita, dengan dibantu oleh kerabat yang lain, sang bapak pun langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk segera dilakukan tindakan medis. Hasilnya, fine!. Kondisi bapak tersebut membaik. Hingga kini, beliau masih dalam kondisi bugar.

So, tidak cukupkah bukti ini mampu mematahkan mitos-mitos yang berkembang di masyarakat tentang "keyakinan" hari baik dan hari buruk yang tak berdasar itu?.
           
Selanjutnya, di akhir tulisan ini, saya ingin sedikit masuk ke wilayah fundamental untuk mengulas singkat tradisi kepercayaan ini dari aspek ajaran agama.

Agama Islam, agama yang saya yakini, sama sekali tidak pernah mengenal istilah waktu sial. Baik buruknya waktu, sama sekali tidak ditimbang dengan suatu kejadian atau perhitungan.

Namun, penilaiannya, lebih kepada cara pemanfaatannya. Ketika hari ini pemanfaatan waktu yang kita miliki lebih baik dari hari kemarin, itu bertanda keberuntungan bagi kita. Karena selain dapat hasil secara lahir, kita juga mendapat amal jika apa yang kita kerjakan itu baik.

Namun, ketika hari ini kita loyo, males-malesan, lebih buruk pemanfaatannya dari hari kemaren, maka itulah kerugian.

Dari sini kita bisa menarik benang merah, bahwa kesuksesan itu, sama sekali tidak ada kaitannya dengan mitos-mitos takhayyul yang berkembang. Namun, sukses itu dapat kita gapai apabila sejalan dengan persiapan kita untuk menjemputnya, serta aksi kita di lapangan.

Robinsah Khairul Hibri

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.