Saatnya Stop Eksploitasi Terhadap Wanita!

AKHIR-akhir ini, wanita menjadi sorotan utama yang diperbincangkan oleh segenap elemen masyarakat. Ironinya, bukan prestasinya yang diekspos, melainkan pergunjingan hangat menyusul "keterkaitan" mereka dengan sejumlah skandal.

Bukan kasus biasa. Dari waktu ke waktu, berbagai kasus terus mencuat menyebarkan aroma yang tak enak, menggelinding, semakin membesar dan membesar, bak bola salju.

Bukti paling mutakhir, terkait kasus korupsi impor daging sapi. Ditemukan oleh PPATK bahwa ada lebih dari 40 wanita yang diduga ikut ‘kecipratan’ uang haram dari "ritual bancakan" tersebut.

Nominalnya pun variatif, mulai dari jutaan hingga ratusan juta. Yang mengagetkan, hadiah tersebut bukan sembarang hadiah, namun diduga kuat sebagai konpensasi atas "pelayanan" yang telah didapat, atau yang diminta oleh tersangka.

Hal ini diungkap oleh Maharani Suciyono, seorang mahasiswi, yang menjadi saksi atas tersangka kasus korupsi utama impor daging, Ahmad Fathonah, dalam suatu persidangan.

Rani sendiri, begitu sapaan dia disebut media, ditangkap tangan oleh KPK bersama dengan Ahmad Fathonah di sebuah kamar hotel mewah di Jakarta Pusat. Dan di tangannya terdapat barang bukti berupa uang 10 juta Rupiah pemberian Fathonah.

Dari sini, bisa kita simpulkan, bahwa tidak sedikit orang telah memanfaatkan wanita untuk keuntungan pribadinya. Mereka berani mengeluarkan dana seberapapun besarnya untuk seorang wanita, demi tercapainya keinginan. Bukankah ini sama halnya dengan mengeksploitasi wanita??

Dan, sejatinya, bisnis eksploitasi wanita ini, nampaknya benar-benar telah menjadi bisnis ilegal di negeri ini.

Coba kalau kita amati dengan seksama iklan-iklan di televisi, koran-koran, majalah, dll. Banyak produk yang tidak ada kaitannya dengan kewanitaan, misal pompa air, mobil truck, semen, kartu seluler, motor, bahkan bahan konsumsi, dll, namun justru menggunakan jasa wanita sebagai promotornya, tentu saja dengan gaun yang juga serba minim.

Belum lagi film-film, video-video, gambar-gambar, yang mengumbar bagian-bagian tubuh yang paling intim bagi seorang wanita. Dan, sekalo lagi, itu semua dilakukan atas nama bisnis. Dan itu dipandang sah-sah saja.

Di saat image wanita di negeri ini tengah ‘dicabik-cabik’ sedemikian rupa, justru muncul lagi gagasan yang memilukan untuk mengadakan seyembara kecantikan wanita se-dunia yang dibalut dengan nama ‘Miss Wolrd’.

Saat ini, Indonesia telah terpilih sebagai tuan rumah hajatan tahunan ini. Tiga kota, Bali, Jakarta dan Bogor, telah ditetapkan sebagai tempat penyelenggaraan. Para pemimpin pun, mengamini dan siap pasang badan untuk mensukseskan acara ini.

Padahal, bagi mereka yang ‘melek’, faham betul tentang muatan inti dari pagelaran ini. Tidak lain adalah ekploitasi wanita. Apa bukti? Mudahnya, mungkinkah wanita cerdas lagi bersosial tinggi, namun ciri fisik berkulit hitam, berbibir tebal, lagi cacat, bisa menjadi salah satu kontestan ajang ini? Ini masih dalam konteks sebagai kontestan. Lalu bagamana peluangnya sebagai pemenang?? Suatu hal yang musatahil.

Bukankah syarat utama untuk mengikuti ajang ini harus memiliki fisik yang menarik? Tidakkah ini cukup sebagai bukti bahwa ajang ini hanya sebagai bisnis eksploitasi wanita?

Belum lagi, bila kita urut ke belakang, tentang asal muasal diselenggarakannya kontes kecantikan ini. Awalnya ia (Miss World) merupakan kontes bikini pada 1951 oleh Eric Morley. Sekarang, masih ada yang ingin menyanggah, bahwa ini bukan bisnis eksploitasi wanita??

Alarm Bahaya !
Sayang sekali sayang, di saat kondisi macam ini menjalar di tengah-tengah masyarakat, bukannya mengelus dada, tapi justru terdapat sebagian wanita negeri ini, malah kegirangan.

Nampak mereka seperti mendapat angin segar di tengah terik sinar mentari. Akibatnya, mereka nyaris tidak menyadari, bahwa mereka tengah diperalat. Atau, boleh jadi mereka sadar, namun tidak kuat melihat jumlah nominal yang disodorkan di depan mereka. Jadilah harga diri tergadai, atas nama rupiah.

Bahkan, lebih dari itu, tidak sedikit dari mereka menjadikan ajang bisnis ini, sebagai batu loncatan untuk mempercepat karer, guna meraih ketenaran. Setiap kali ada informasi tentang kontes macam ini, maka setiap kali itu juga para kontestan membeludak, hingga ratusan ribu peserta. Ini bukti bahwa, antusias para wanita sendiri, sangat tinggi mengikuti ajang ini.

Kalau sudah demikian, tentulah sangat berbahaya. Tidak hanya bagi mereka pribadi, tapi juga bagi keluarga, bangsa dan negara. Mungkin ada yang menyoal, “Mengapa hingga sejauh itu dampaknya?”. “Tidakkah ini terlalu mengada-ngada?”.

Oke, kalau kemudian memang ada yang menyoal demikian. Mari kita mencoba mengurainya, hingga terang-benderanglah persoalannya.

Dalam kontek pendidikan keluarga, wanita (baca: ibu), menduduki posisi strategis, bagi pertumbuhan anak-anaknya. Mereka adalah pendidik pertama dari buah hati mereka, sebelum tersentuh oleh dunia pendidikan yang lain seperti sekolah, teman, dan lingkungan.

Itu artinya, ibu memiliki peran penting dalam menghantarkan anak-anak mereka menjadi pribadi yang baik, atau sebaliknya, menjadi sosok yang brutal. Kebiasaan yang dibangun oleh ibu terhadap anak sejak dini, akan mempengaruhi perilaku anak di masa mendatang. Imam al-Ghazali berakata, “Anak itu tumbuh sesuai dengan kebiasaannya”.

Sukar rasanya menemukan sosok ibu ideal, manakala mereka, lebih mementingkan karir daripada keluarga. Apa lagi, mereka yang rela menjual harga dirinya, demi harta. Untuk saat ini, mudah sekali untuk menemukan bukti otentik akan hal ini. Setidaknya, kasus perceraian para selebriti tanah air kita, menjadi cerminnya.

Selanjutnya, dalam kontek kenegaraan, wanita tak ubahnya tiang dari suatu negara. Ketika tiang itu kokoh, tak mudah keropos, maka akan kokoh pula negara itu. Dan kekokohan wanita, tidaklah dilihat dari kesempurnaan fisik mereka, tapi lebih mengarah kepada kekokohan kepribadian mereka.

Kepribadian yang baik, luhur, cakap, kuat, berprinsip, menjadi modal penting untuk membangun negara. Kita tentu akrab dengan pribahasa yang mengatakan, “Di balik laki-laki/pemimpin yang hebat, ada wanita yang hebat pula”.

Wanita-wanita yang berkarakter ini,yang akan bisa mengarahkan, menggerakkan atau pun mendorong terwujudnya kesejahteraan, kedamaian, kemakmuran, atau pun kesejahteraan bagi suatu bangsa. Sebagaiman Khadijah, istri Rasulullah, yang rela mengorbankan jiwa, raga, dan hartanya, untuk perjuangan menyebarkan Islam di muka bumi ini, demi terciptanya Baldatun Thaibatun Wa Robbu al-Gafuur. 

Di lain sisi, wanita pun sangat berpotensi untuk menjadi penghancur suatu bangsa. Banyak pemimpin kuat di muka bumi ini, namun tak mampu menguasai diri di hadapan seorang wanita. Ia takluk, dengan begitu mudahnya. Maka tidak salah, berbagai kasus di negeri ini, sebagaimana yang tersaji di depan mata kita hari ini, pun menjadikan wanita sebagai umpannya.

Untuk itu, menyadarkan kaum wanita akan bahaya yang mengintai mereka, dari bisnis eksploitasi wanita ini, sangat penting adanya. Dan tidak kalah penting untuk pemerintah, agar lebih selektif lagi dalam melegalisasi suatu perhelatan di negeri ini, terutama yang sarat eksploitasi wanita berkedok kreatifitas seni.

Karena itu pula, mumpung belum terjadi, akan lebih baik bila pemerintah menyalakan ‘Lampu Merah’ atas pagelaran Miss World, yang nyata-nyata sebuah kontes eksploitasi wanita, yang berkedok lomba edukasi, seni dan budaya ini. Sebelum benar-benar berdampak lebih tragis lagi.

Sebagai penutup, mari kita do’akan, semoga para wanita di negeri kita ini, terjaga dari hal-hal buruk, sehingga mampu menggiring mereka ke arah yang lebih baik. Dan mampu memberikan kontribusi positif bagi kebangkitan bangsa, sebagaimana Khadijah, telah memberikan kontribusinya terhadap kemajuan Islam dan layaknya bakti Cut Nyak Dien untuk negerinya. Semoga.


By Robinsyah Khairul Hibri / Foto ilustrasi: M Kahono TS/Wordpress

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel