Generasi Muda di Zaman Kontestasi Semu

NAMPAKNYA kita harus meningkatkan daya kritis kita terhadap perkembangan negeri ini, utamanya segala hal yang berhubungan dengan moralitas generasi muda.

Sebab, baik buruknya masa depan bangsa ini sangat bergantung pada moralitas generasi mudanya. Sebenarnya, sudah sangat lama benteng moralitas generasi muda bangsa ini "dibombardir".

Generasi muda kita dijejali oleh berbagai macam serangan budaya, film, fashion, belakangan ajang pencarian bakat, yang secara massif menggiring opini masyarakat Indonesia bahwa itu semua adalah standar kehidupan yang maju, modern dan tentunya ora' ndeso.

Pemerintah sebagai pihak yang sebenarnya sangat membutuhkan generasi muda yang berkualitas tinggi dalam upaya memajukan negeri ini nyatanya bisa dikatakan tidak mampu berbuat banyak.

Anak-anak muda kita pun harus mencari amunisi sendiri untuk imunitas diri mereka agar terhindar dari pengaruh destruktif berbagai macam gelaran acara anak muda yang amat gencar ditayangkan.

Kini, hati kita semakin miris tatkala X-Factor mendaulat Fatin sebagai pemenang dalam ajang pencarian bakat menyanyi itu. Karena begitu boomingnya pemberitaan tersebut sampai-sampai, politisi dari sebuah partai Islam pun ikut senang dengan Fatin, yang dianggapnya jilbaber yang berprestasi.

Kok miris, tentu bagi sebagian orang ini dianggap lebay. Tetapi jika kita mau membuka hati, jelas rasa miris ini bukan karena lebay, tetapi karena melihat dampak yang kurang diperhatikan oleh masyarakat terhadap apa yang telah dialami Fatin itu.

Mungkin sebagian yang lain berpandangan bahwa ini patut dibanggakan karena ada anak muda dan jilbaber yang juara dan ini sejarah bagi bangsa Indonesia. Pendapat ini benar, jika hanya melihat situasi dan kondisi saat ini.

Tetapi, apakah prestasi itu benar-benar penting bagi keberadaan generasi muda dan nasib bangsa dan negara di masa mendatang?

Sebelum beranjak lebih jauh dari sini. Mari kita perhatikan dasar utama atau landasan berpikir alias latar belakang mengapa ajang pencarian bakat digelar.

Pencarian Bakat, Untungkan Siapa?
Kalau kita perhatikan, ajang pencarian bakat di tanah air sangatlah banyak. Dulu ada AFI, disusul Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat (IMB) dan terupdate X-Factor dan Voice Indonesia. Itu belum termasuk pencarian bakat pada musik jenis dangdut dan anak-anak.

Secara idealis, acara itu jelas tidak berbobot, karena hanya ajang tiruan tanda tak kreatif dan tak percaya diri alias inferior.

Mari sejenak kita berpikir, mengapa media begitu gencar mengadakan acara pencarian bakat seperti itu? Adakah itu demi bangsa dan negara apalagi agama?

Jawabannya singkat, tidak dan sekali lagi tidak. Ajang itu adalah ajang yang dibuat sedemikian rupa, sehingga terjadi banyak hal yang menghipnotis masyarakat karena banyak ‘petarung’ bertanding.

Dan, saat para talent itu berkompetisi, media menyihir masyarakat untuk mendukung favoritnya agar tidak tereliminasi dengan mengirim sms premium sebanyak-banyaknya. Saat itulah sms akan berhamburan. Dan, sekali sms dikenakan pulsa Rp. 2000.

Bayangkan, jika seluruh penduduk negeri ini mengirim sms atau setengahnya saja, berapa keuntungan penyelenggara dan media? Silahkan kalkulasikan dengan seksama. Nah, ketemu kan, siapa yang untung.

Tidak sampai di situ. Ajang ini adalah senjata ampuh pengelola media untuk menaikkan rating setinggi-tingginya. Dengan rating yang tinggi, maka media akan mendapatkan banyak sponsor dan itu lagi-lagi mendatangkan income bagi media. Nah, ketahuan lagi kan, siapa yang untung.

Sementara anda, saya dan kita semua, taruhlah seandainya aktif menonton, tentu akan kehilangan waktu, apalagi sempat sms, akan kehilangan pulsa, dan setelah acara itu berhenti karena telah menentukan juara, tidak ada keuntungan apa-apa pada kita sendiri. Belum lagi dampak psikologis bagi mereka yang kalah. Hmm, ternyata kita dikibulin media (televisi).

Masa Depan Bangsa, Siapa Peduli?
Sahabat pembaca yang budiman, dari uraian sederhana ini sudah sangat terang bahwa ajang pencarian bakat sebenarnya adalah senjata televisi untuk melahap keuntungan yang sebesar-besarnya.

Dan, jika kembali pada hukum ekonomi kapitalis, tidak ada kepentingan lebih penting selain keuntungan yang sebesar-besarnya, meski untuk itu harus menabrak segala aturan, termasuk norma dan agama.

Indonesia, ditinjau dari budaya internasional adalah termasuk negara yang masih menjunjung tinggi nilai norma dan agama. Padahal, secara market, Indonesia adalah negara paling potensial untuk meraup keuntungan.

Oleh karena itu, dalam pandangan kapitalis dunia, Indonesia harus didesain sedemikian rupa agar generasi mudanya terputus dari tradisi dan budaya generasi tua.

Jika para orang tuanya suka ke masjid, buat anak-anaknya enggan ke masjid. Jika orang tuanya suka ilmu agama, jadikan generasi mudanya lupa ilmu agama. Jika orang tuanya, suka membaca Al-Qur’an, lalaikan generasi mudanya dengan selalu menatap layar kaca. Buat, sampai benar-benar, generasi mudanya secara keseluruhan, tidak peduli agama.

Dan, tahukah kita apa efek generasi yang tidak peduli agama, mereka akan tidak peduli terhadap bangsa dan negara. Jadi, televisi dan media pada umumnya sebenarnya adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap terkikisnya budaya religius generasi muda saat ini.

Ridwan Kamil dalam sebuah diskusi di komunitas TED-X pernah berkata bahwa acara di televisi di negeri ini sudah tidak ada lagi yang inspiratif. Buka channel ini, itu, isinya korupsi melulu, kelahi melulu. Tambah pusing lihat televisi.

Lantas, kemana pemerintah, dalam hal ini menteri pendidikan, menteri agama, menteri pemuda dan olahraga yang secara khusus mendapat amanah untuk menjadikan generasi bangsa berkualitas dalam segala bidang? Jika pemerintah saja sudah lalai, siapa yang bisa kita harapkan?

Saran Untuk Fatin
Fatin, sadar atau tidak, ia kini adalah bintang. Seorang public figure. Perilakunya akan dicontoh jutaan remaja negeri ini, termasuk yang berjilbab.

Kini, engkau telah menjadi selebriti, maka janganlah engkau meninggalkan tradisi seorang Muslimah yang sholehah. Tunjukkan bahwa engkau tidak putus sholat lima waktu, tidak lepas membaca Al-Qur’an. Dan, yang terpenting, sampaikan kepada publik, bahwa apa yang telah engkau capai hanyalah penghargaan duniawi belaka. Bukan penghargaan sesungguhnya yang kita butuhkan di hari kiamat nanti.

Jangan lupa untuk menyelipkan kata-kata motivasi buat remaja Indonesia. Rajinlah belajar, disiplinlah, dan selalulah berdoa kepada Allah SWT.

Dan, mari bersama-sama kita bangun bangsa dan negara kita dengan irama yang menggairahkan kemenangan dan kebangkitan bangsa. Bukan dengan musik, lagu rendahan yang hanya membuat kemalasan dan kebodohan.

Akhir kata, selamat buat Fatin, tapi ingat itu hanyalah bagian dari tahap perjalanan hidupmu. Masih panjang perjalanan berikutnya. Bagi para pemirsa, berhentilah menonton televisi!.[]

________
*) IMAM NAWAWI, penulis adalah kolumnis kaltara.news. Ikuti juga cuitan-cuitannya di @abuilmia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel