Kaltim dan Masa Depan Kehidupan

SEBELUMNYA, saya ingin membahas tentang jembatan kebanggaan Kutai Kartanegara yang runtuh sekejap mata di tahun 2011 lalu.

Bukan apa-apa, ternyata, keruntuhan jembatan tersebut mengundang potensi masalah yang cukup serius jika disadari.

Ini saya simpulkan berdasar pengalaman pribadi kala harus menyeberangi Mahakam dengan perahu kayu yang kadang kala tidak memiliki lampu penerang yang memadai, sehingga sering lambat terdeteksi oleh perahu yang lain.

Kala itu, saya dari Samarinda tiba di penyeberangan sekitar pukul 19:00. Mobil pun masuk dalam perahu penyeberangan. Ketika perahu melaju dengan kecepatannya, tiba-tiba dari arah hulu muncul perahu kayu penumpang yang meluncur cukup laju.

Beruntung masing-masing pemegang biduk segera sama-sama melihat, sehingga tabrakan perahu pun bisa dihindari. Perahu penumpang itu tidak memiliki lampu sorot, sehingga sulit orang mendeteksi dari jarak jauh.

Itu mungkin hanya sebuah pengalaman dan boleh jadi kasuistik. Dan, mengejutkan buat saya ketika mendapati suatu laporan dari sebuah sumber mengatakan bahwa sumber daya alam Kaltim tinggal 40 tahun lagi.

Lebih terkejut lagi, ketika seorang anggota DPRD Kukar mengatakan bahwa potensi SDA Kaltim boleh jadi hanya sampai 30 tahun lagi!.

Jika tidak diantisipasi tentu hal ini akan sangat memberatkan anak generasi kita ke depan. Ironisnya, belum ada kepedulian yang menggembirakan akan masa depan yang akan hadir ini.

Rupanya orang merasa cukup nyaman dengan kondisi sekarang yang dapat menikmati hasil eksplorasi tambang. Padahal, jangankan 3 dekade ke depan, angka pengangguran saja tiap tahunnya mencapai 800 - 1.300 orang. Demikian data yang dilansir oleh media lokal Kaltim.

Sementara itu satu-satunya bidang yang paling mungkin diharapkan, yakni pertanian, juga dalam kondisi buruk dan belum sepenuhnya menjadi prioritas.

Dalam Pertemuan Masyarakat Perlindungan Taman dan Hewan Indonesia (MPTHI) di Balikpapan Sport Convention Centre yang langsung dihadiri Menteri Pertanian Suswono dikabarkan bahwa masalah pertanian masih terbilang sangat serius.

Mulai dari masalah lahan, irigasi, pupuk, hingga harga jual yang sangat berkait dengan kehidupan finansial para petani. Padahal, secara kasat mata, kalau Kaltim kehilangan aneka tambangnya mestinya pertanian bisa menjadi alternatif utama.

Tetapi dengan situasi tersebut, pertanian di Kaltim pun ternyata masih jauh dari harapan. Saya pun mencoba melontarkan masalah ini kepada seorang warga di Balikpapan, sederhana saja ia menjawab. "30 tahun lagi belum tentu kita ada umur," ujarnya ringan.

Pulau Mati
Apabila Kaltim kehilangan aneka tambangnya dan tidak ada upaya apa pun untuk menghadapi situasi buruk yang pasti terjadi, maka bukan tidak mungkin Kaltim akan menjadi pulau mati atau minim penghuni.

Mungkin Balikpapan akan sedikit mampu membebaskan diri dari ancaman bahaya kematian Kaltim. Tapi lambat laun Balikpapan sedikit banyak juga akan menghadapi banyak kendala.

Sekarang saja, dimana Balikpapan menjadi satu kota dengan jumlah perusahaan tidak sedikit saja masih harus berperang dengan ancaman pengangguran yang tiap tahunnya meningkat. Bagaimana nanti?

Tentu hal ini sangat memprihatinkan. Jika dibiarkan begitu saja, bukan tidak mungkin pembangunan negeri juga akan banyak menghadapi masalah besar. Pasalnya, kontribusi Kaltim terhadap keuangan negara terbilang sangat signifikan.

Dengan demikian, maka masalah Kaltim adalah masalah bangsa. Tidak bisa dipungkiri Kaltim adalah propinsi sangat penting bagi republik ini. Oleh karena itu, semua pihak, utamanya pemerintah pusat harus segera membantu Kaltim untuk segera menemukan solusi.

Namun demikian, saya, kita dan seluruh anak muda Kaltim juga mesti turut berpikir bagaimana ancaman mengerikan masa depan ini dapat dihindari. Jika tidak, boleh jadi kita adalah generasi terakhir di Pulau Borneo ini. Generasi yang tak berdaya dan tak berupaya menghadapi tantangan kehidupan.

Sebagai langkah praktis, mungkin pemilu gubernur September nanti masyarakat mesti menyimak apa gagasan para kandidat soal Kaltim 30 tahun mendatang. Sebab, suara masyarakat adalah suara kehidupan itu sendiri. Salah kita memilih pemimpin maka "kematian" akan semakin mungkin.

Inilah kegelisahan saya dalam kunjungan pasca lebaran di Kaltim. Tentu ini hanya sebuah luapan kegelisahan yang mesti diikuti dengan format pemikiran dan gagasan yang mencerdaskan untuk kebaikan kehidupan di masa depan.

Berat, tapi Insya Allah, tidak ada yang mustahil. Kita berharap, helatan meriah Kaltim Summit II Oktober lalu benar-benar membuahkan kebaikan untuk provinsi ini. Mari berbuat untuk Kaltim masa depan.*
______
*) IMAM NAWAWI, 
penulis adalah kolumnis kaltara.news. Ikuti juga cuitan-cuitannya di @abuilmia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel